RIAU ONLINE, PEKANBARU - Polda Riau menggelar apel kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Tahun 2026 sebagai langkah memperkuat kesiapan personel, sarana, dan peralatan dalam menghadapi potensi bencana Karhutla di Provinsi Riau.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin, 10 Agustus 2026, pukul 16.00 WIB hingga selesai, bertempat di Halaman Apel Mapolda Riau.
Seluruh peserta yang telah ditunjuk diminta hadir dengan mengenakan pakaian dinas lapangan (PDL) menyesuaikan, sekaligus membawa kendaraan operasional serta peralatan penanganan bencana sesuai kebutuhan masing-masing instansi.
Pelaksanaan apel kesiapsiagaan tersebut tertuang dalam surat Polda Riau Nomor B/2174/VIII/OPS.2.2./2026 tentang permintaan personel Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Karhutla Tahun 2026.
Surat tersebut ditandatangani secara elektronik oleh Wakapolda Riau Brigjen Hengki Haryadi selaku Karoops dalam surat tersebut.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesiapan lintas sektor dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan, khususnya di tengah kondisi Riau yang memiliki kawasan gambut dan areal rawan Karhutla.
Dalam surat tersebut disebutkan, pelaksanaan apel mengacu pada sejumlah regulasi dan dokumen penanganan bencana. Di antaranya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2026.
Selain itu, apel juga mengacu pada Rencana Kontingensi Aman Nusa II Lancang Kuning-2026 Nomor R/Renkon/2/I/OPS.2./2026 tanggal 26 Januari 2026 tentang menghadapi bencana Tahun 2026.
Rujukan lainnya adalah Surat Keputusan Gubernur Riau Nomor Kpts.102/II/2026 tanggal 13 Februari 2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Riau Tahun 2026.
Melalui apel tersebut, Polda Riau tidak hanya mempersiapkan kekuatan personel, tetapi juga melakukan gelar kesiapan sekaligus penyerahan bantuan peralatan Karhutla.
Kegiatan ini melibatkan unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, lembaga penanggulangan bencana, dunia usaha hingga kelompok masyarakat.
Berdasarkan daftar peserta, unsur Kodam XIX/Tuanku Tambusai akan menurunkan kekuatan dari Arhanud 13/PBY dan Kodim 0301/Pekanbaru.
Arhanud 13/PBY menyiapkan satu orang perwira menengah sebagai Danki serta satu satuan setingkat peleton (SST) dengan kekuatan 25 personel.
Sementara Kodim 0301/Pekanbaru juga menyiapkan satu orang PAMA sebagai Danki dan satu SST berjumlah 25 Babinsa, lengkap dengan kendaraan roda dua Babinsa.
Dukungan juga datang dari Yonko 462/Kopasgat dengan satu SST atau 25 personel, serta Lanud Roesmin Nurjadin yang menyiapkan satu SST dengan kekuatan 25 personel.
Dari unsur pemerintah daerah, BPBD Provinsi Riau menyiapkan satu orang sebagai Danki dan dua SST dengan masing-masing 25 personel. Tim tersebut juga membawa kendaraan operasional atau kendaraan taktis serta peralatan yang diperlukan dalam penanganan bencana.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Riau akan menurunkan satu regu yang terdiri dari 10 personel. Untuk mendukung penanganan kondisi darurat di lapangan, Dinas Kesehatan juga diminta membawa dua unit ambulans.
Unsur pemantauan cuaca dan kondisi atmosfer turut dilibatkan. BMKG Provinsi Riau menyiapkan satu orang sebagai Danki dan satu regu berjumlah 11 personel.
Keterlibatan BMKG dinilai penting dalam mendukung penanganan Karhutla, terutama berkaitan dengan informasi cuaca, potensi hujan, arah angin, serta kondisi atmosfer yang dapat memengaruhi perkembangan titik panas maupun penyebaran api.
Kekuatan penanggulangan bencana juga diperkuat Basarnas Provinsi Riau. Instansi tersebut menyiapkan satu orang sebagai Danki dan satu SST berjumlah 25 personel, berikut kendaraan operasional atau kendaraan taktis serta peralatan SAR untuk mendukung penanganan apabila terjadi kondisi darurat.
Selanjutnya, Satpol PP Provinsi Riau akan mengerahkan satu SST dengan kekuatan 25 personel.
Sementara dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau, disiapkan satu SST berjumlah 25 personel Polisi Kehutanan (Polhut).
Dukungan teknis pemadaman juga diperkuat Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru dengan satu regu berjumlah 10 personel. Tim ini dilengkapi kendaraan operasional maupun kendaraan taktis serta peralatan pemadam kebakaran.
Selain itu, Manggala Agni Pekanbaru juga menjadi salah satu unsur penting dalam apel kesiapsiagaan tersebut.
Manggala Agni menyiapkan satu orang sebagai Danki dan satu SST berjumlah 25 personel, berikut kendaraan operasional dan peralatan penanganan bencana Karhutla.
BPBD Kota Pekanbaru juga akan menurunkan satu SST yang terdiri dari 25 personel.
Polda Riau juga melibatkan sejumlah perusahaan yang memiliki sumber daya serta peralatan penanganan kebakaran.
Langkah ini menunjukkan bahwa penanggulangan Karhutla membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, tidak hanya mengandalkan pemerintah dan aparat keamanan.
PT Arara Abadi diminta menyiapkan satu regu berjumlah 10 personel beserta kendaraan operasional dan peralatan penanganan bencana.
Hal serupa dilakukan PT RAPP yang menyiapkan satu regu dengan kekuatan 10 personel lengkap dengan kendaraan dan peralatan penanganan bencana perusahaan.
Kemudian PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) juga diminta menurunkan satu regu berjumlah 10 personel, berikut kendaraan operasional dan peralatan penanganan bencana.
PT PTPN IV Regional III turut dilibatkan dengan mengerahkan satu regu yang terdiri dari 10 personel serta membawa kendaraan dan peralatan penanganan bencana.
Pelibatan perusahaan dalam kesiapsiagaan ini menjadi bagian penting karena perusahaan yang memiliki wilayah kerja luas dan sumber daya operasional di lapangan dapat memberikan dukungan cepat ketika terjadi kebakaran.
Tidak hanya unsur pemerintah, TNI-Polri dan perusahaan, Polda Riau juga melibatkan unsur masyarakat dalam apel kesiapsiagaan.
Kwarda Pramuka Saka Bhayangkara akan menurunkan satu SST dengan kekuatan 25 personel.
Kemudian Masyarakat Peduli Api (MPA) Kota Pekanbaru juga akan mengerahkan satu SST berjumlah 25 personel.
Masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan kebakaran diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem deteksi dini sekaligus membantu memberikan informasi apabila menemukan titik api atau aktivitas pembakaran lahan.
Apel kesiapsiagaan ini menjadi momentum untuk memastikan seluruh unsur yang terlibat mengetahui tugas, peran, serta kesiapan peralatan masing-masing.
Dengan kekuatan yang berasal dari berbagai instansi dan elemen masyarakat, penanganan Karhutla diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan terkoordinasi apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
Polda Riau melalui apel tersebut juga menunjukkan pentingnya membangun pola penanganan Karhutla yang terintegrasi.
Ketika kebakaran terjadi, setiap unsur diharapkan tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan bergerak dalam satu koordinasi dengan dukungan personel, kendaraan, peralatan pemadaman, ambulans, peralatan SAR, hingga dukungan informasi cuaca.
Dengan melibatkan TNI, Polri, BPBD, Basarnas, BMKG, Satpol PP, DLHK, Damkar, Manggala Agni, dunia usaha, Pramuka dan masyarakat, kesiapsiagaan menghadapi Karhutla di Riau diharapkan semakin kuat.
Informasi apel kesiapsiagaan Karhutla tersebut dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Akmadi.
"Benar, nanti akan dilakukan Apel Kesiapsiagaan Karhula di Mapolda Riau," singkat Kombes Akmadi.

