RIAU ONLINE, PEKANBARU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, yang sempat membakar sekitar 800 hingga 900 hektare lahan berhasil dipadamkan.
Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan mengatakan, kawasan tersebut saat ini telah dinyatakan zero setelah upaya pemadaman dilakukan secara berkelanjutan oleh tim gabungan.
Hal itu disampaikan Herry dalam rapat koordinasi penanggulangan karhutla Provinsi Riau di GOR Presisi Mapolda Riau, Kamis, 27 Agustus 2026.
“Alhamdulillah, yang 900 hektare karena upaya pemadaman, upaya OMC terus-menerus, alhamdulillah yang 900 hektare di Kerumutan sudah zero,” kata Irjen Herry.
Meski api telah berhasil dipadamkan, Herry mengingatkan kondisi tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak lengah. Kawasan yang telah terbakar tetap perlu mendapat penanganan lanjutan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Menurutnya, upaya lanjutan harus dilakukan dengan membuat sekat kanal serta menyiapkan sumber air di sekitar lokasi.
“Walaupun di Kerumutan itu sudah padam, kita bisa tetap membuat sekat kanal, kita tetap harus bisa menggali sumur-sumur sebagai sumber air kita semua,” ujarnya.
Herry menjelaskan, sebelumnya pasukan darat menghadapi kendala dalam menemukan kepala api di kawasan Kerumutan. Bahkan, jarak pasukan dengan titik kepala api sempat mencapai sekitar satu kilometer.
Untuk mempercepat penanganan, pasukan gabungan dari TNI, Polri, BPBD, masyarakat peduli api hingga pihak perusahaan dikerahkan. Bantuan peralatan, termasuk alat berat, juga digerakkan untuk mendukung upaya pemadaman.
Selain pengerahan pasukan darat, pemadaman dari udara dan operasi modifikasi cuaca (OMC) turut dilakukan.
Keberhasilan penanganan karhutla di sejumlah wilayah turut berdampak terhadap penurunan jumlah titik panas di Riau.
Herry mengungkapkan, berdasarkan pemantauan Kamis pagi pukul 08.00 WIB, tercatat 79 titik panas di Riau.
Angka tersebut turun drastis dibandingkan empat hari sebelumnya yang sempat mencapai lebih dari 600 titik panas.
“Total untuk hari ini ada 79 titik panas. Tinggal 79 titik panas. Kemarin, empat hari yang lalu ketika kedatangan Pak Presiden, sampai 600 sekian titik panas,” ungkapnya.
Meski jumlah titik menurun, sejumlah wilayah masih menjadi perhatian. Sebanyak 13 titik panas terdeteksi di Kabupaten Siak dengan kategori medium, sementara 17 titik panas lainnya berada di Indragiri Hilir.
Herry telah meminta pasukan darat segera melakukan pengecekan dan penanganan terhadap titik-titik tersebut.
Ia juga menekankan setiap kemunculan hotspot harus segera diverifikasi langsung di lapangan, sehingga data satelit dapat dipastikan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
“Kalau seandainya sudah selesai, satu ada muncul spot, harus segera cepat dilakukan verifikasi. Harus datang langsung diverifikasi,” tegasnya.
Herry menilai penanganan karhutla tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, masyarakat dan perusahaan menjadi kunci untuk mencegah kebakaran kembali meluas.
“Kekuatan kita adalah bergotong royong,” katanya.
Ia menegaskan karhutla di Riau saat ini sudah dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (extraordinary), sehingga membutuhkan langkah penanganan yang juga luar biasa.
“Kejadian luar biasa harus kita selesaikan dengan cara-cara luar biasa,” pungkas Herry.

