RIAU ONLINE, PEKANBARU - Suasana haru menyelimuti Masjid Raya An Nur Provinsi Riau usai pelaksanaan salat Jumat, Jumat, 31 Juli 2026. Sebanyak lima orang dari latar belakang dan usia yang berbeda resmi mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama Islam di hadapan jamaah yang memenuhi masjid.
Kelima mualaf tersebut adalah Alfredo Yoktan (12), Lestari Tambunan (32), Maria Teresia (39), Alwin Daili (17), dan Dicky Andika Putra (21). Mereka datang dengan kisah hidup dan alasan yang berbeda-beda hingga akhirnya mantap memilih Islam sebagai jalan hidup.
Prosesi ikrar syahadat dipandu oleh Pembimbing Mualaf Center Masjid Raya An Nur, Rubianto. Sebelum mengucapkan syahadat, masing-masing calon mualaf diminta menyampaikan alasan yang mendorong mereka memeluk agama Islam.
Satu per satu mereka maju ke hadapan jamaah. Ada yang mengaku telah lama ingin memeluk Islam, ada yang tersentuh karena keindahan lantunan ayat suci Al-Qur'an, ada yang ingin membangun rumah tangga bersama pasangan Muslim, hingga seorang pemuda yang mengaku ingin meninggalkan masa lalunya sebagai kurir narkoba.
Pengakuan tersebut membuat suasana di dalam masjid menjadi penuh haru. Beberapa jamaah tampak mengusap air mata saat mendengar kisah perjuangan dan tekad para mualaf untuk memulai kehidupan baru.
Alasan lain juga disampaikan oleh mualaf yang mengaku jatuh hati kepada Islam karena sering mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang menurutnya memberikan ketenangan hati.
Rubianto mengatakan setiap mualaf memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Menurutnya, keputusan memeluk Islam merupakan hidayah yang patut disyukuri.
"Setiap orang memiliki jalan dan kisah masing-masing hingga akhirnya Allah memberikan hidayah. Tugas kami adalah membimbing mereka agar dapat menjalankan ajaran Islam dengan baik dan istiqamah," ujar Rubianto.
Ia juga memberikan pesan khusus kepada kelima mualaf agar tetap menghormati dan berbakti kepada kedua orang tua, meskipun berbeda keyakinan.
"Saya berpesan kepada kalian semua, tetaplah berbakti kepada kedua orang tua. Perbedaan agama jangan menjadi alasan untuk memutus silaturahmi dan rasa hormat kepada mereka," pesannya.
Rubianto juga mengapresiasi kesiapan kelima mualaf yang dinilai telah mempelajari tata cara pengucapan syahadat sebelum mengikuti prosesi. Menurutnya, hal itu terlihat dari pelafalan syahadat yang cukup fasih sehingga prosesi berjalan dengan lancar.
"Setelah ini jangan lupa mandi besar, terus belajar memperdalam ilmu agama, rajin beribadah, dan istiqamah dalam memeluk agama Islam," pungkasnya.
Usai prosesi syahadat, suasana haru kembali terasa ketika para jamaah memberikan ucapan selamat dan doa kepada kelima mualaf.
Sebagai bentuk kepedulian, para jamaah turut memberikan bantuan materi secara sukarela untuk membantu mereka menjalani kehidupan sebagai Muslim.
Selain itu, pengurus Mualaf Center Masjid Raya An Nur juga menyerahkan perlengkapan ibadah berupa mukena, sarung, sajadah, dan perlengkapan salat lainnya sebagai bekal awal bagi para mualaf dalam menjalankan ibadah sehari-hari.
Prosesi syahadat yang rutin difasilitasi Mualaf Center Masjid Raya An Nur tersebut kembali menjadi bukti bahwa hidayah dapat datang kepada siapa saja tanpa memandang usia, latar belakang, maupun masa lalu. Dengan tekad yang kuat, kelima mualaf itu kini memulai lembaran baru dalam kehidupan mereka sebagai seorang Muslim.

