Waspada DBD, Diskes Riau Minta Kabupaten/Kota Gerakkan Upaya Antisipatif

Ilustrasi-DBD2.jpg
Ilustrasi DBD (kumparan)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau meminta Diskes kabupaten/kota meningkatkan upaya-upaya antisipasi untuk mencegah penularan Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli mengatakan, kasus DBD di Riau cukup tinggi. Berdasarkan tahun 2025, kematian akibat DBD juga mencapai angka 35 kasus.

"Kasus DBD di Provinsi Riau tahun 2025 mencapai 4.618 kasus dengan 35 orang diantaranya meninggal dunia. Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Tahun 2026 sampai dengan minggu ke 17 total kasus suspek dengue sebanyak 2.321 kasus,” ujarnya, Senin, 25 Mei 2026.

“Sedangkan data dari program DBD sampai Bulan April total kasus DBD sebanyak 1.682 kasus yang tersebar di 12 Kabupaten/Kota dengan 12 diantaranya meninggal dunia," imbuh Zulkifli.

Oleh karenanya ia telah meminta kepala Diskes kabupaten/kota agar menggerakkan penyuluhan rutin kepada masyarakat. Terutama memberantas sarang nyamuk dengan metode 3M plus di lingkungan masyarakat.


"Kemudian meningkatkan deteksi dini DBD dengan melakukan pemantauan ketat untuk memastikan ketersediaan RDT Dengue di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di wilayah endemis DBD," jelasnya.

Ia juga meminta agar seluruh fasilitas kesehatan siaga jika ada pasien yang mengalami gejala DBD. Seperti memiliki demam tinggi (≥38°C) dan ≥ 2 hari.

Pasien dengan gejala tersebut harus mendapatkan pemeriksaan RDT dengue (termasuk DBD Combo). Pemeriksaan hematokrit, Hb, leukosit, dan trombosit. Apabila disertai nyeri persendian hebat (severe atharlgia) dan atau ruam (rash) ditambahkan pemeriksaan RDT Chikungunya.

Untuk diketahui, kasus DBD sejak Januari hingga April 2026, paling banyak ditemukan di Kabupaten Rokan Hilir dengan 282 kasus dan empat diantaranya meninggal dunia. Sedangkan di Kota Pekanbaru ada 251 kasus.

Kasus terbanyak selanjutnya berada di Kabupaten Bengkalis yakni 230 kasus, dan satu orang di antaranya meninggal dunia.

Kemudian, di Kota Dumai 208 kasus dengan satu orang meninggal dunia. Kabupaten Kampar 165 kasus dengan tiga orang meninggal dunia. 

Selanjutnya Rokan Hulu 98 kasus dengan satu orang meninggal dunia. Pelalawan 72 kasus, Indragiri Hulu 80 kasus dengan satu orang meninggal dunia, Kuantan Singingi 130 kasus, Siak 50 kasus.

"Kemudian di Kabupaten Indragiri Hilir 81 kasus dengan satu meninggal dunia dan Kepulauan Meranti 35 kasus," pungkasnya.