RIAU ONLINE, SIAK - Kepala Satuan Pelayanan Pemakanan Geratis (SPPG) Jatibaru, Kecamatan Bungaraya, Kabupaten Siak, Lilis Masruroh, angkat bicara dan menyampaikan permohonan maaf terkait beredarnya pemberitaan mengenai dugaan pungutan biaya terhadap calon relawan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Lilis menegaskan bahwa tindakan pungutan dengan modus "bayar seikhlasnya" tersebut dilakukan oleh seorang oknum bernama Resky, yang dipastikan bukan bagian dari manajemen maupun staf resmi SPPG Jatibaru.
“Saya selaku Kepala SPPG Jatibaru, Desa Jatibaru, Bungaraya, meminta maaf yang sebesar-besarnya karena adanya pemberitaan dari beberapa media di Siak terkait pungutan biaya kepada calon relawan yang dilakukan oleh saudara Resky,” ujar Lilis melalui pernyataan resminya kepada RIAU ONLINE, Minggu, 24 Mei 2026.
Lilis mengungkap bahwa status Resky tidak terdaftar dan tidak memiliki wewenang dalam hal perekrutan ataupun kebijakan di SPPG Jatibaru. Ia menyebut Resky hanya ditugaskan sebagai pengawas renovasi untuk persiapan pembangunan dapur umum SPPG.
Ia menjelaskan pihak SPPG baru mengetahui adanya pungutan tersebut setelah proses penyeleksian calon relawan berjalan. Beberapa pelamar melaporkan bahwa oknum tersebut meminjam sejumlah uang kepada mereka dengan iming-iming kemudahan diterima bekerja.
“Kami dari SPPG tidak mengetahui dia melakukan pungutan tersebut sampai kami melakukan penyeleksian calon relawan. Di tengah proses perekrutan tersebut ada beberapa calon relawan yang melaporkan ke pihak kami selaku kepala SPPG bahwa oknum tersebut meminjam ke beberapa orang calon relawan.
Merespons laporan dari para calon relawan, manajemen SPPG Jatibaru langsung mengambil tindakan disiplin yang tegas demi menjaga integritas program nasional ini.
Pihak SPPG telah mengeluarkan Resky dari dapur umum dan memberhentikan seluruh aktivitasnya.
“Kami juga meminta pertanggungjawaban oknum tersebut,” tegasnya.
Pihak yayasan yang menaungi SPPG Jatibaru juga telah memanggil orang tua oknum yang bersangkutan. Orang tua Resky diminta bertanggung jawab penuh untuk mengembalikan seluruh uang yang telah dipinjam dari para calon relawan.
Lilis memastikan bahwa proses rekrutmen relawan yang saat ini berjalan di SPPG Jatibaru dilakukan secara transparan dan bersih dari segala bentuk pungutan liar.
“Saat ini SPPG Jatibaru sudah melakukan perekrutan kepada relawan dan kami pastikan bahwa tidak ada satu pun relawan yang bekerja saat ini di SPPG Jatibaru dipungut bayaran,” tutupnya.
Sebelumnya, beberapa warga mengaku dimintai uang saat proses pendaftaran kerja. Permintaan tersebut disebut dengan alasan adanya “biaya lain” jika ingin diprioritaskan atau dibantu agar diterima bekerja.
Sebagian warga merasa keberatan dengan adanya pungutan itu. Pasalnya, mereka mendaftar kerja untuk mencari penghasilan, namun justru diminta uang di awal proses seleksi.
“Ada yang memilih pasrah karena tidak punya uang untuk bayar,” ujar salah seorang warga kepada Riau Online, Sabtu, 23 Mei 2026.
Warga yang tidak memiliki uang memilih tetap mengikuti proses pendaftaran dengan harapan masih memiliki kesempatan diterima tanpa harus membayar.
Program kerja di dapur MBG sendiri saat ini cukup diminati masyarakat. Selain dianggap membuka lapangan pekerjaan baru, pekerja di dapur MBG disebut sudah bisa menerima gaji dalam waktu sekitar 10 hari kerja, sehingga banyak warga tertarik mendaftar.
Asisten lapangan SPPG Jatibaru, Resky, membenarkan dirinya pernah menyampaikan adanya biaya kepada calon pekerja. Namun ia menegaskan pembayaran tersebut tidak bersifat wajib.
“Tidak wajib, hanya saya sampaikan ada biaya lain kalau mau dibantu diterima. Dan nominalnya juga tidak hanya tetapkan,” kata Resky.
Ia juga mengaku tindakan tersebut merupakan inisiatif pribadi untuk mendapatkan tambahan uang.

