RIAU ONLINE, PEKANBARU - Maret 2026 menjadi periode yang penuh gejolak bagi publik di Provinsi Riau. Berbagai tajuk utama didominasi oleh isu-isu sensitif, mulai dari pengusutan kasus korupsi yang menjerat pucuk pimpinan daerah hingga skandal internal di tubuh kepolisian yang memicu gelombang kritik masyarakat.
Di sisi lain, tragedi kemanusiaan dan perdebatan mengenai pengelolaan dana umat turut mewarnai perjalanan bulan ini. Gugurnya seorang personel kepolisian saat menjaga ketertiban umum membawa duka mendalam.
Sementara itu, mencuatnya isu penyalahgunaan dana zakat untuk proyek infrastruktur memicu diskusi hangat terkait etika dan regulasi anggaran.
Berikut rangkuman mendalam mengenai lima peristiwa paling menonjol yang berhasil dihimpun RIAU ONLINE sepanjang Maret 2026:
1. Kepulangan Abdul Wahid ke Pekanbaru dengan Rompi Oranye
Gubernur Riau non-aktif, Abdul Wahid, tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru pada Rabu, 11 Maret 2026. Tidak lagi disambut sebagai pejabat protokoler, ia datang menggunakan rompi oranye dengan tangan terborgol.
Bersama Kadis PUPR, M. Arief Setiawan, dan Tenaga Ahli, Dani M. Nursalam, ketiganya dikawal ketat oleh aparat gabungan TNI-Polri dan Kejaksaan menuju mobil tahanan.
Meski disambut ratusan pendukung setianya, Wahid memilih irit bicara saat digiring menuju Rutan Sialang Bungkuk.
Selengkapnya: Pakai Rompi Orange dan Tangan Terborgol, Abdul Wahid Tiba di Riau Usai OTT KPK
2. Kontroversi Dana Zakat Rp3 Miliar untuk Proyek Infrastruktur
Dugaan penggunaan dana zakat sebesar Rp3 miliar untuk pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi Polda Riau memicu kritik tajam dari Gerakan Mahasiswa Peduli Riau (GMPR).
Ketua GMPR, Ali Junjung Daulai, menegaskan bahwa dana zakat memiliki peruntukan yang jelas sesuai syariat Islam untuk membantu kaum duafa, bukan untuk mendanai infrastruktur yang seharusnya menjadi tanggung jawab APBD atau APBN.
"Pemerintah seharusnya menjalankan tugas dan fungsinya menggunakan anggaran negara, bukan dana umat," ujar Ali Junjung kepada RiauOnline, Selasa, 16 Maret 2026.
Isu ini menjadi sorotan karena masih banyaknya daerah tertinggal di Riau yang lebih membutuhkan bantuan dana umat tersebut.
"Peruntukan zakat itu sudah jelas. Ini menyangkut aturan pemerintah dan juga aturan agama. Ini uang umat. Sementara itu, masih banyak saudara kita di Riau yang membutuhkan, terutama di daerah tertinggal seperti Kabupaten Kepulauan Meranti dan daerah lainnya," tambahnya.
Selengkapnya: Dana Zakat Diduga Digunakan untuk Bangun Jembatan, GMPR: Ini Uang Umat
3. Oknum Anggota Polda Riau Terjerat Kasus Narkoba
Citra kepolisian kembali tercoreng setelah Brigadir AZ, oknum anggota Pelayanan Markas (Yanma) Polda Riau, diamankan oleh Satresnarkoba Polresta Pekanbaru.
Penangkapan ini terkait dugaan keterlibatan dalam penyalahgunaan narkotika. Brigadir AZ kemudian menjalani pemeriksaan intensif di Mapolresta Pekanbaru untuk menelusuri jaringan dan barang bukti lebih lanjut.
Selengkapnya: Oknum Polisi Ditangkap Usai Diduga Terlibat Narkotika, Polda Riau Bungkam
4. Aiptu Apendra Gugur Saat Pengamanan "Perang Mercon"
Kabar duka datang dari Kabupaten Kampar pada Sabtu, 21 Maret 2026. Aiptu Apendra, personel Polsek Kampar, gugur saat menertibkan aksi "perang mercon" antar pemuda di Lapangan Kantor Camat Kampar.
Diduga terpapar asap tebal yang memicu kekambuhan penyakit asam lambung akutnya. Almarhum sempat dilarikan ke RS Aulia Hospital sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pukul 02.39 WIB.
Selengkapnya: Perang Mercon Berujung Duka, Personel Polsek Kampar Gugur Saat Tugas
5. Kasatresnarkoba Polresta Pekanbaru Dicopot Terkait Skandal Suap
Jabatan Kasatresnarkoba Polresta Pekanbaru yang dijabat Kompol MJK resmi dicopot. Langkah tegas ini diambil setelah mencuatnya kasus dugaan "lepas-tangkap" terhadap pelaku narkoba.
Kompol MJK bersama beberapa penyidik diduga membebaskan tiga dari lima tersangka yang ditangkap di sebuah Tempat Hiburan Malam (THM) setelah menerima uang sogokan sebesar Rp200 juta.
Selengkapnya: Kasatnarkoba Polresta Pekanbaru Dicopot, Diduga Lepas Pelaku Narkoba Usai Dibayar

