Oleh: Ilham Muhammad Yasir, Pemimpin Redaksi Riau Online
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Di depan podium, Presiden Prabowo selalu berbicara lantang. Suaranya bergetar. Ia menjanjikan sebuah perubahan dan harapan besar. Ia lugas dalam menyuarakan perlawanan terhadap korupsi. Ia menolak ketidakadilan. Dan, ia selalu berpihak kepada rakyat kecil.
Namun, setelah lebih setahun berlalu, omongan Prabowo terasa mulai garing. Janji Prabowo, satu-persatu mulai menguap. Harapan yang ia tanam, perlahan-lahan terasa mengering. Ditelan oleh waktu yang semakin menjauh.
Indonesia, yang Prabowo janjikan jadi “Macan Asia”, kini tak terdengar mengaum lagi. Bukan karena tidur nyenyak, tapi karena kebingungannya sendiri. Dalam menghadapi kerusakan alam, korupsi yang semakin membabi-buta, dan bencana yang datang tanpa ampun.
Kita hanya menyaksikan kegagapan. Penanganan pemerintah yang selalu terlambat di setiap peristiwa-peristiwa besar. Prabowo, pemimpin yang dulu berjanji mengangkat Indonesia setinggi langit, kini terperangkap oleh retorikanya sendiri.
Pidato-pidatonya selalu penuh semangat dan selalu menggema. Prabowo dengan lantang berbicara tentang pemberantasan korupsi. Tentang pengelolaan sumber daya alam yang adil, dan tentang masa depan Indonesia yang adil-makmur. Namun kenyataan berkata lain.
Janji-janji itu hanya tinggal “omon-omon”. Pemberantasan korupsi? Perampasan aset mafia tambang? Sebuah ilusi yang tak kunjung pernah tertunai. Korupsi masih tetap merajalela. Bahkan lebih dalam dari yang pernah kita bayangkan. Yang dijanjikan untuk rakyat, justru kembali dikuasai oleh korporasi besar yang bermain di balik layar. Hanya ganti orang dan baju pemainnya saja.
Korupsi yang merusak tatanan negeri ini tetap saja terabaikan. Meskipun Prabowo berulang kali mengatakan bahwa ia akan menghabisi akar kejahatan ini. Revisi UU KPK yang telah memotong kewenangan lembaga antikorupsi, hanya memperparah keadaan. Para koruptor besar terus bebas, sementara rakyat yang berharap akan perubahan hanya dibiarkan menunggu penuh kecewa.
Namun, yang lebih memprihatinkan bukan hanya kegagapan dalam pemberantasan korupsi. Ketika bencana banjir bandang melanda Sumatera pada akhir November 2025. Pemerintah tampak terperangkap dalam kebingungannya sendiri. Berhari-hari tanpa arah.
Berbulan-bulan tanpa penanganan yang jelas. Sementara rakyat meratap, pemerintah sibuk dengan pidato patriotisme yang jauh dari kenyataan. Di tengah lumpur dan kehancuran, Prabowo tetap bertahan dengan narasi besar yang lebih terdengar seperti slogan kosong.
Prabowo, saat pertama kali berkunjung ke lokasi bencana 1 Desember 2025 adalah di Kabupaten Agam, di Sumatera Barat. Lagi-lagi di hadapan para korban bencana, Prabowo memilih berpidato dengan penuh berapi-api. Pidatonya tentang perang melawan mafia tambang. Tentang perang untuk memiskinkan koruptor dan merampas aset-aset mafia yang telah menyengsarakan rakyat.
Tapi Prabowo lupa, saat ia pidato waktu itu, ratusan mayat di Sumatera Barat, di Sumatera Utara dan di Aceh belum ditemukan karena masih tertimbun lumpur. Di tengah duka, di tengah perasaan hancur, rakyat mendapati kenyataan pahit.
Pidato penuh patriotisme itu tidak akan mengembalikan rumah yang hilang. Tidak akan menghidupkan kembali nyawa yang telah terenggut. Sementara itu, desa-desa masih terisolasi, tidak mendapat bantuan yang memadai.
Rakyat menjerit. Namun suara mereka seakan hilang di tengah narasi besar yang dibangun oleh Prabowo. Bangsa Indonesia bisa mengatasi masalahnya sendiri secara mandiri. Itu yang selalu diulang-ulang oleh Prabowo.
Sejak pernyataanya itu, setiap bantuan dari luar negeri selalu ditolak. Malaysia, negeri jiran yang memiliki hubungan batin yang erat dengan orang Sumatera tanpa pamrih membantu pun tak luput ditolak.
Bencana Sumatera bukanlah satu-satunya ujian besar bagi pemerintahan ini. Penolakan terhadap bantuan asing, bahkan dari negara tetangga seperti Malaysia yang datang dengan tulus, menjadi simbol dari egoisme yang tak berujung. Prabowo, dalam pidatonya, menegaskan bahwa Indonesia akan menghadapi tantangan ini dengan kekuatannya sendiri.
Namun kenyataannya, rakyat yang sedang berjuang untuk bertahan hidup saja terabaikan. Tanpa bantuan yang cukup. Apa yang terjadi? Rakyat menunggu. Namun bantuan yang datang terlambat, dan itu bukan bantuan yang dibutuhkan. Bantuan tersebut seharusnya datang jauh lebih cepat, tanpa menunggu keputusan-keputusan politik yang justru semakin memperburuk keadaan.
Setelah sebulan lebih, kondisi di lapangan semakin memperihatinkan. Desa-desa yang hilang, desa-desa yang terisolasi semakin bertambah jumlahnya. Korban jumlahnya semakin banyak, dan bantuan yang tak kunjung cepat datang.
Begitu lambannya penanganan ini menunjukkan betapa pemerintah tidak bisa merespons dengan cepat. Apakah ini yang dimaksud dengan “kekuatan bangsa sendiri”? Sebuah retorika yang menggema tanpa membawa perubahan nyata bagi rakyat yang sedang membutuhkan pertolongan.
Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Negara yang dulu dijanjikan akan bangkit dan menjadi Macan Asia, kini terjerat dalam kebingungan dan ketidakpastian. Janji-janji besar yang disuarakan di atas podium hanya meninggalkan ruang kosong.
Rakyat menunggu janji yang tak kunjung terwujud. Di tengah bencana alam, krisis sosial, dan ketidakadilan yang terus berlarut-larut. Apa yang bisa diharapkan dari pemerintahan ini? Hanya narasi besar yang diulang-ulang, tanpa tindakan nyata.
Prabowo telah berjanji untuk membawa Indonesia menjadi negara yang kuat dan dihormati. Namun, dalam perjalanan setahun lebih ini, Indonesia masih mencari-cari arah. Janji-janji besar yang disampaikan kepada rakyat hanya tinggal kenangan. Pemimpin yang tidak mampu mendengarkan jeritan rakyat, yang lebih sibuk dengan narasi besar daripada tindakan nyata.
Apakah Indonesia akan terus terjebak dalam kebingungannya ini?Ataukah akan ada perubahan yang benar-benar memberikan harapan baru bagi rakyat? Entahlah.
(Penulis saat ini juga sedang menyelesaikan Pendidikan Program Doktor (S3) Hukum Tata Negara di Universitas Islam Riau)

