LAPORAN: MG SEPTRI WINDYANA PUTRI
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Provinsi Riau kental dengan adat dan budaya melayu. Konsep budaya melayu bahkan mendasari segala bentuk penciptaan ekspresi di Bumi Lancang Kuning.
Budaya melayu bahkan ditemukan pada bangunan khas Riau. Jika melihat ke dalam rumah tradisional melayu Riau, ada yang berbeda dari bagian dapurnya.
Disadur dari buku Dapur dan Alat-alat Memasak Tradisional Daerah Riau yang terbit pada 1987 yang membahas Melayu Kuantan dan Melayu Bengkalis.
Perbedaannya hanya ada pada sistem adat yang digunakan pada Melayu Kuantan dan Melayu Bengkalis yang sama-sama berakar pada budaya Melayu. Disebutkan tata ruang rumah yang menjadi landasan dalam menetapkan dapur bersumber dari kebudayaan melayu. Namun, tuntutan dan kebutuhan hidup masyarakat setempat tentunya berbeda.
Ada dua jenis dapur di Provinsi Riau, dapur orang kuantan di Melayu Kuantan dan dapur orang Melayu Bengkalis untuk Melayu Pesisir.
Dapur Kebudayaan Melayu Kuantan
Septri MG/Buku Dapur dan Alat-Alat Memasak Tradisional Daerah Riau
Tipe dapur menurut kebudayaan melayu kuantan adalah menurut sistem adat berdasarkan garis ibu yang berkuasa di rumah adalah mamak yaitu saudara laki-laki pihak ibu. Sistem tata ruang rumah melayu kuantan diatur berdasarkan sistem adat ini.
Bentuk asli rumah dapur melayu kuantan adalah memanjang. Bagian kiri dinamakan "ujung" dan bagian kanan dinamakan "pangkal". Tiang tengah nomor dua dari kiri dinamakan "riang nuo." Riang nuo menjadi tempat duduk mamak rumah dalam pertemuan-pertemuan resmi yang berlangsung di rumah ini.
Pihak laki-laki yang datang tempatnya adalah di ujung. Pihak laki-laki dihormati, karena itu diletakkan di ujung (tempat yang dihormati), tetapi tidak mempunyai kekuasaan di dalam rumah karena yang berkuasa adalah mamak rumah.
Ruang tempat memasak biasanya sengaja dibuat sempit karena khusus dibuat untuk tempat meletakkan tungku saja. Ruang rumah bagian pangkal sekitar dapur biasanya dijadikan sebagai tempat makan keluarga yang dilakukan dengan duduk bersila dalam posisi melingkar. Pengecualian terjadi terhadap pengantin baru. Makanannya dihidangkan khusus oleh isterinya di ujung rumah, dekat kamar pengantin. Setelah mereka mempunyai anak, baru sang menantu ikut makan bersama-sama dengan anggota keluarga lain di dapur.
Di kalangan masyarakat melayu kuantan, dapur bukan hanya sekedar ruang tempat memasak dan makan, melainkan mempunyai fungsi lain sebagai pusat (puserek) kegiatan rumah tangga. Seperti tempat pemandian jenazah dan ruangan bersalin.
Dapur Melayu Bengkalis (Melayu Pesisir)
Septri MG/Buku Dapur dan Alat-Alat Memasak Tradisional Daerah Riau
Tipe dapur menurut kebudayaan melayu pesisir khususnya Bengkalis adalah memakai sistem adat menurut garis keturunan bapak. Rumah dibangun membujur ke belakang dari jalan. Bangunan dapur dibuat di bagian belakang.
Dapur jenis ini dibuat berukuran 5x6 m atau 6x7 m, atau sekat seperti kamar dipergunakan sebagai ruang makan, kegiatan keluarga, tempat berkumpul dan istirahat keluarga.
Tempat memasak dan meletakkan tungku dibuat lagi sebuah dapur samping berukuran 2,5 x 3 m atau 2x3 m. Dapur samping ini ada kalanya memakai tiang, ada kalanya terletak di atas tanah.
Adapun di antaranya alat-alat dapur tradisional dari Melayu Riau adalah sebagai berikut:
1. Lesung Batu
Lesung batu adalah alat dapur tradisional melayu Riau yang pada umumnya terbuat dari batu alam yang kokoh dan tahan lama. Penggunaan lesung batu melibatkan proses pengulekan bahan makanan menggunakan alu (penumbuk), yang juga terbuat dari batu.
Septri MG/Buku Dapur dan Alat-Alat Memasak Tradisional
Masyarakat Riau menggunakan lesung batu untuk berbagai keperluan masak, seperti menghaluskan rempah-rempah, membuat bumbu masak, dan mengolah hasil pertanian seperti beras, jagung, dan ubi.
Selain itu, lesung batu juga dipergunakan untuk mengolah rempah-rempah seperti lengkuas, kunyit, dan jahe.
Meskipun perkembangan teknologi telah membawa berbagai alat masak modern, lesung batu tetap menjadi warisan berharga yang dilestarikan oleh masyarakat Riau.
2. Balanga (Kuali Besar)
Belanga merupakan alat masak tradisional masyarakat melayu Riau yang umumnya terbuat dari tanah liat dan memiliki bentuk seperti panci atau wajan dengan pegangan di kedua sisinya.
Septri MG/Buku Dapur dan Alat-Alat Memasak Tradisional
Alat masak ini digunakan khusus untuk mengolah masakan yang membutuhkan proses perebusan atau pematangan yang lambat seperti sayuran. Proses memasak dengan balanga umumnya melibatkan penggunaan api arang atau kayu bakar.
3. Takaran
Takaran adalah wadah air berbentuk bulat dan berleher panjang yang terbuat dari keramik..Bagi masyarakat melayu Riau, takar digunakan dalam upacara keagamaan.
Septri MG/Buku Dapur dan Alat-Alat Memasak Tradisional
Motif yang umum ditemukan pada takaran adalah ukiran pola geometris, dan gambar-gambar simbolik.
4. Torak (Kendi Bercorot)
Torak atau kendi bercorot melayu Riau terbuat dari bahan kuningan yang bersegi. Torak memiliki bentuk leher yang panjang dengan mulut yang sempit dan dekorasi ukiran atau corak yang indah bermotif pucuk rebung. Torak pada umumnya berdiameter 16 cm hingga 18 cm.
Septri MG/Buku Dapur dan Alat-Alat Memasak Tradisional
Dalam kebudayaan tradisional melayu Diau, torak berfungsi sebagai tempat air minum dalam upacara adat atau perkawinan karena dipercaya oleh masyarakat terdahulu air yang terdapat di dalam torak dianggap suci, murni, menyejukan, dan menjadi simbol perkawinan yang sempurna.
5. Tudung Saji
Tudung saji ini biasanya terbuat dari rotan, yaitu sejenis tumbuhan palma yang sering digunakan sebagai bahan dasar kerajinan anyaman. Tudung saji berfungsi sebagai alat untuk menutup bahan makanan yang telah masak dan telah terhidang agar makanan yang disajikan tetap hangat dan terhindar debu atau serangga.
Septri MG/Buku Dapur dan Alat-Alat Memasak Tradisional
Tudung saji pada umumnya berbentuk kerucut atau setengah lingkaran. Ukuran tudung saji pun yang besar dan ada kecil. Untuk tudung saji yang berukuran besar biasanya memiliki diameter 74 sampai 90 cm. Sedangkan tudung saji yang berukuran kecil biasanya memiliki diameter 25 cm sampai 30 cm.