6 Tahun Berlalu, Kabut Asap Kembali Hantui Riau: Penerbangan dan Pendidikan Terganggu

Kabut-Asap-Karhutla-Makin-Pekat-Pemko-Pekanbaru-Terapkan-Pembelajaran-Jarak-Jauh.jpg
Kabut asap menyelimuti Kota Pekanbaru (Defri Candra/Riau Online)

RIAU ONLINE, PEKANBARU — Enam tahun setelah kabut asap parah 2019, Riau kembali menghadapi persoalan serupa. Asap kiriman dari Sumatera Selatan (Sumsel) dan Jambi menyelimuti sejumlah wilayah, memperburuk kualitas udara hingga menurunkan jarak pandang di Kota Pekanbaru.

Ironisnya, kabut asap tersebut muncul ketika Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menyatakan kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Riau berada pada titik nihil.

Asap justru terbawa angin dari provinsi tetangga yang masih menghadapi kebakaran. Dampaknya mulai terasa di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan hingga transportasi udara.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru dalam beberapa hari terakhir bukan berasal dari karhutla di Riau. Menurutnya, arah angin membawa asap dari wilayah Sumsel dan Jambi menuju Riau.

"Kabut asap memang cukup pekat beberapa hari ini. Tapi itu bukan dari kebakaran hutan dan lahan di Riau, karena sampai hari ini kita zero karhutla. Ini asap kiriman dari Sumsel dan Jambi," ujar SF Hariyanto di Kantor Gubernur Riau, Kamis, 8 Oktober 2026.

Ia menegaskan, kondisi nihil karhutla di Riau harus terus dipertahankan. Pemerintah daerah, kata dia, tetap memperkuat pengawasan dan kewaspadaan untuk mencegah munculnya titik api baru.

"Tidak ada karhutla saja di daerah kita ini sudah sangat bersyukur sekali. Ini yang harus kita jaga," katanya.

Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Pekanbaru

Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan masyarakat di daratan. Penurunan jarak pandang juga mulai mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru.

Pada Rabu, 7 Oktober 2026, dua pesawat dari Jakarta bahkan tidak dapat mendarat di Pekanbaru akibat jarak pandang yang menurun.

Executive General Manager (EGM) Bandara SSK II Pekanbaru, Achmad, mengatakan dua penerbangan yang terdampak yakni Lion Air JT 292 rute Jakarta (CGK)-Pekanbaru (PKU) dan Citilink QG 936 dengan rute yang sama.

Lion Air JT 292 terpaksa melakukan return to base (RTB) atau kembali ke Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 06.44 WIB.

"Untuk penerbangan Lion Air JT 292 rute Jakarta menuju Pekanbaru mengalami Return to Base (RT) atau kembali ke Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 06.44 WIB, dikarenakan kondisi cuaca di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, dengan jarak pandang saat itu sekitar 600 meter," ujar Achmad.

Sementara itu, Citilink QG 936 rute Jakarta-Pekanbaru juga tidak dapat melakukan pendaratan di Bandara SSK II. Pesawat tersebut akhirnya dialihkan (divert) ke Bandara Hang Nadim, Batam.

Gangguan serupa juga sempat dialami Pelita Air IP 320 rute Jakarta-Pekanbaru. Pesawat tersebut akhirnya berhasil mendarat pada pukul 08.40 WIB setelah sebelumnya melakukan lima kali putaran di udara Pekanbaru sambil menunggu kondisi memungkinkan untuk mendarat.



Sekolah Kembali Terapkan PJJ

Di sektor pendidikan, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru kembali memperpanjang kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik jenjang PAUD hingga SMP.

Kebijakan tersebut diperpanjang hingga Sabtu, 10 Oktober 2026, setelah Pemko mempertimbangkan hasil pemantauan kualitas udara dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).

Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, mengatakan terdapat tiga parameter kualitas udara yang dipantau. Ketiganya menunjukkan kondisi yang sangat tidak sehat.

"Kondisi udara kita di Pekanbaru hari ini dalam kondisi sangat tidak sehat, dan ada tiga parameter, tiga-tiganya menunjukkan kondisi sangat tidak sehat. Dan tadi jam 13.00 WIB itu sampai ke posisi berbahaya," kata Markarius usai rapat membahas kondisi kabut asap di Kompleks Perkantoran Pemerintah Tenayan Raya, Rabu, 7 Oktober 2026.

Buruknya kualitas udara juga mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Markarius menyebut lebih dari 10.000 orang telah mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan asap.

"Yang sudah terpapar sampai hari ini sudah lebih 10.000 orang ya yang terkait dengan asap ini. Asma, ISPA, iritasi, pneumonia. Kemudian yang tertinggi kemarin 7 Oktober itu, pasien kita terkait dengan hal ini 374," ujarnya.

Memori Kabut Asap 2019 Kembali Terulang

Situasi yang terjadi saat ini mengingatkan kembali pada peristiwa kabut asap 2019. Saat itu, Riau sempat berhasil mengendalikan karhutla di wilayahnya. Namun, asap dari kebakaran di Sumsel dan Jambi tetap terbawa angin hingga menyelimuti sejumlah wilayah di Riau.

Dampaknya meluas. Bukan hanya kualitas udara dan kesehatan masyarakat yang terganggu, aktivitas pendidikan, transportasi hingga perekonomian ikut terdampak.

Kondisi tersebut bahkan baru berangsur pulih dan kembali normal pada pertengahan November. Sektor penerbangan menjadi salah satu yang merasakan dampak paling nyata.

Saat penyelenggaraan Tour de Siak 2019, sejumlah pebalap sepeda yang hendak kembali ke daerah asal sempat tertahan di Bandara SSK Pekanbaru karena jarak pandang yang terbatas.

Sebagian penumpang yang hendak menuju Jakarta bahkan memilih menggunakan jalur alternatif melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Sumatera Barat.

Dampaknya kemudian merembet ke transportasi darat. Jasa travel rute Pekanbaru-Padang mengalami lonjakan penumpang. 

Sejumlah penyedia travel bahkan menawarkan layanan khusus mengantarkan penumpang langsung menuju Bandara BIM dengan biaya tambahan.

Enam Tahun Berlalu, Pola yang Sama Kembali Terlihat. 

Enam tahun berselang, pola serupa kembali terlihat. Karhutla terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera. Asap terbawa angin melintasi batas administrasi dan akhirnya berdampak pada daerah lain yang tidak mengalami kebakaran.

Riau menjadi salah satu wilayah yang merasakan dampaknya. Kabut asap menurunkan kualitas udara dan jarak pandang. 

Aktivitas pendidikan kembali terganggu, penerbangan mengalami gangguan, sementara masyarakat harus menghadapi risiko kesehatan akibat paparan asap.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan di suatu wilayah. Asap dapat bergerak jauh mengikuti arah angin dan menimbulkan dampak lintas provinsi.

Karena itu, penanganan karhutla tidak semestinya hanya diukur dari seberapa cepat api dipadamkan setelah kebakaran terjadi. Pencegahan sejak dini dan koordinasi lintas daerah menjadi bagian penting dalam memutus rantai dampak karhutla.

Pengalaman 2015 dan 2019 seharusnya menjadi pelajaran penting bagi seluruh daerah di Sumatera. Polanya sudah berulang: kebakaran terjadi, asap terbawa angin, kualitas udara memburuk, aktivitas masyarakat terganggu dan masyarakat di wilayah lain ikut menanggung konsekuensinya.

Kondisi yang kembali terjadi pada 2026 menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla membutuhkan pencegahan yang konsisten, pengawasan berkelanjutan, koordinasi lintas provinsi serta kesiapsiagaan jauh sebelum asap kembali menyelimuti permukiman.

Jangan sampai kejadian 2015 dan 2019 hanya menjadi catatan sejarah, sementara masyarakat kembali menghadapi persoalan yang sama setiap kali musim karhutla datang.