RIAU ONLINE, PELALAWAN - Warga Sorek, Kabupaten Pelalawan, kembali terbangun dalam kepungan kabut asap pekat, Selasa, 15 September 2026. Indeks kualitas udara bahkan menembus 252 AQI US, masuk kategori "Sangat Tidak Sehat", dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 176,8 µg/m³.
Kabut asap pekat menyelimuti kawasan Sorek hingga ruas Jalan Lintas Timur. Jarak pandang pengendara berkurang drastis, sementara warga kembali harus berhadapan dengan udara yang tercemar dan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi kesehatan.
Di tengah kondisi tersebut, keresahan warga pun mencuat. Sampai kapan penderitaan akibat kabut asap yang berulang setiap musim karhutla ini akan berakhir.
"Kapan penderitaan ini akan berakhir," ujar warga Sorek, Thania.
Keluhan serupa disampaikan warga Sorek lainnya, Rival Chaniago. Ia menilai kondisi yang terjadi saat ini justru semakin mengkhawatirkan.
"Semakin parah negeri ini," sebut Rival Chaniago.
Kembalinya kabut asap pekat di Sorek menambah panjang daftar persoalan karhutla di Riau yang belum sepenuhnya teratasi.
Di tengah upaya pemerintah dan aparat melakukan pemadaman serta penanganan titik-titik kebakaran, masyarakat tetap menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung dari bencana asap tersebut.
Kondisi udara yang masuk kategori sangat tidak sehat juga kembali menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar.
Pencegahan, pengawasan terhadap kawasan rawan terbakar, serta penanganan cepat ketika muncul titik api menjadi hal penting agar asap tidak kembali menyelimuti permukiman warga.
Sebab bagi masyarakat Sorek, persoalannya bukan sekadar kapan api padam. Mereka juga menunggu kapan udara kembali bersih dan kehidupan bisa berjalan normal tanpa harus khawatir setiap kali membuka pintu rumah dan menghirup udara pagi.
Pertanyaan warga kini sederhana, tetapi sekaligus menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah dan seluruh pihak terkait: kapan penderitaan akibat kabut asap ini benar-benar berakhir?

