Empat Tahun Konversi BRK Syariah, DPRD Harap BRK Selalu Jadi Kebanggaan Riau

Ketua-Komisi-III-DPRD-Provinsi-Riau-Edi-Basri2.jpg
Ketua Komisi III DPRD Provinsi Riau, Edi Basri (Dok. DPRD Riau)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Konversi Bank Riau Kepri (BRK) menjadi BRK Syariah telah memasuki tahun keempat pada 22 Agustus 2026.  Seiring berjalannya waktu, BRK Syariah  (BRKS) telah berkembang menjadi perbankan yang senantiasa melayani masyarakat secara amanah dan profesional. 

Ketua Komisi III DPRD Provinsi Riau Edi Basri mengatakan, Komisi III DPRD Riau sebagai mitra kerja BRKS senantiasa berharap agar bank penopang APBD Provinsi Riau ini dapat terus menjadi kebanggaan masyarakat Riau. 

"Kami mengucapkan selamat dan sukses telah berjalannya konversi BRKS selama 4 tahun. Tentu kita semua punya harapan agar BRKS selalu menjadi kebanggaan masyarakat Riau," ujarnya, Senin 31 Agustus 2026.

Menurutnya, BRKS sebagai perbankan syariah memberikan kenyamanan bagi masyarakat untuk melakukan transaksi keuangan dengan prinsip dan manajemen yang syariah dan bebas riba. 

"Sehingga nasabah kita bisa terjaga dari riba, yang diharamkan bagi umat Islam. Dari segi keuntungan juga lebih terjamin, yakni melalui pembagian keuntungan. Inilah yang membuat masyarakat merasa nyaman dan aman menggunakan layanan BRKS," jelasnya 

Disamping itu, Edi juga berharap agar BRKS selalu berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi Riau. Baik sebagai perbankan yang melayani masyarakat maupun sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). 

"Capaian BRKS sebagai BUMD sudah sesuai target, tapi kita yakin potensinya masih bisa lebih tinggi lagi. Oleh karenanya, kami berharap agar BRKS selalu berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi Riau," pungkasnya. 

Konversi BRKS sejak tahun 2022 sebagaimana diketahui telah membawa banyak perubahan pada model bisnis dan produk yang ditawarkan. Dimana, seluruh pengembangan layanan dan perbankan perseroan selalu menanamkan prinsip syariah. 



Diantaranya, sejumlah program yang menyasar literasi dan inklusi keuangan, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengembangan produk syariah hingga digitalisasi layanan.

Disamping itu, Pengamat Ekonom di Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, mengatakan BRK yang telah dikonversi menjadi BRKS perlu diarahkan menjadi perbankan syariah yang memberikan dampak lebih besar bagi perekonomian masyarakat. 

"Fungsi utama bank (syariah) tetap sama, yaitu intermediasi, menyerap dana dan menyalurkan pembiayaan. Bedanya, basisnya bagi hasil, bukan bunga," jelasnya.

Menurutnya, BRKS memiliki ruang yang besar untuk mengembangkan layanan perbankan di sektor riil. Dimana, perkebunan sawit dan karet, perikanan, dan UMKM memiliki kebutuhan pembiayaan yang besar dan dapat menjadi sasaran pengembangan pembiayaan syariah.

"Sektor riil seperti sawit, karet, perikanan, dan UMKM butuh skema pembiayaan yang adil. Ini adalah ruang yang harus digarap lebih serius oleh BRK Syariah dalam empat tahun ke depan," jelasnya. 

BRKS juga memberikan karakteristik pembiayaan yang lebih beragam ketika nasabah menghadapi tekanan usaha. 

"Mekanisme restrukturisasi syariah seperti reconditioning, restructuring, bahkan konversi pembiayaan menjadi penyertaan modal bisa jadi alat penyelamat saat harga komoditas turun," jelasnya.

Ia mendorong, BRK Syariah memperkuat literasi masyarakat agar para calon nasabah benar-benar memahami prinsip syariah dan keuntungan dalam perbankan syariah. Berkaitan dengan ini, tata kelola BRKS juga harus lebih baik. 

"Tantangannya kini bagaimana BRK Syariah menjadi bank yang bukan hanya patuh syariah, tapi juga profitable dan sehat. BRK Syariah harus menjadi Bank Penggerak Ekonomi Daerah. Dana APBD Pemprov dan Pemkab se-Riau yang parkir di BRK harus diputar untuk pembiayaan produktif, bukan konsumtif," jelasnya.

Sejumlah potensi besar yang bisa dikembangkan oleh BRKS diantaranya pembiayaan kebun plasma syariah, inarah alat pertanian, qardh untuk nelayan dan sukuk daerah untuk infrastruktur.

BRKS juga harus benar-benar memastikan bahwa Dewan Pengawas Syariah aktif memastikan setiap akad, murabahah, mudharabah, musyarakah, benar-benar dijalankan tanpa unsur maysir, gharar, dan riba.

"Layanan BRKS juga harus mengikuti perkembangan digital, dan SDM sehingga dapat terus bersaing di tengah masyarakat," paparnya. 

Menurutnya, empat tahun pertama konversi BRKS adalah pijakan untuk berkembang. Pihaknya berharap agar BRKS terus bertumbuh sebagai bank daerah yang berdampak bagi masyarakat Riau. 

"Jika BRKS tetap konsisten sebagai perbankan syariah, profesional dan berani ambil resiko, saya yakin empat tahun berikutnya konversi BRKS akan bisa bertahan bahkan menjadi pemimpin," pungkasnya.