RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pernyataan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan yang menyebut kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau secara umum mengalami penurunan mendapat respons keras dari masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Herry Heryawan saat meninjau penanganan karhutla di Kabupaten Kampar bersama Menteri Lingkungan Hidup M Jumhur Hidayat.
Kapolda Riau menyebut secara umum kondisi karhutla di Riau mulai mengalami penurunan. Meski demikian, ia mengakui masih terdapat titik kebakaran yang menjadi perhatian, salah satunya berada di Desa Kerumutan, Kabupaten Pelalawan.
Kebakaran di kawasan tersebut disebut telah berlangsung sekitar 26 hari dan menghanguskan lahan lebih dari 280 hektare.
Karena lokasi kebakaran berada di kawasan gambut, proses pemadaman tidak mudah. Penanganannya bahkan membutuhkan dukungan operasi udara secara berkelanjutan untuk membantu pemadaman dan mencegah api kembali muncul dari bawah permukaan gambut.
Namun, klaim mengenai menurunnya karhutla tersebut justru menuai kritik dari warga, khususnya masyarakat Pekanbaru.
Sejumlah warga menilai kondisi di lapangan tidak menggambarkan situasi yang disebutkan Kapolda. Mereka mengaku masih merasakan dampak kabut asap, mulai dari jarak pandang yang terganggu hingga keluhan sesak napas.
Respons tersebut terlihat pada kolom komentar unggahan akun Instagram RiauFolk pada Senin, 24 Agustus 2026.
Salah seorang warga, Nia***, mempertanyakan klaim tersebut dengan mengungkapkan kondisi yang dialaminya.
“Menurun apanya, sudah sesak nafas saya,” ujar Nia***.
Komentar serupa disampaikan Avri***. Ia mengaku kondisi kabut asap justru semakin parah dan telah mencapai wilayah Rumbai, Pekanbaru.
“Hari ini makin parah, sudah sampai Rumbai asapnya,” timpal Avri***.
Warga lainnya, Ax***, juga mempertanyakan dasar klaim bahwa karhutla di Riau mengalami penurunan. Ia menyebut asap masih terlihat di sejumlah ruas jalan di Pekanbaru.
“Menurun? Atas dasar apa. Jalan Garuda Sakti berasap semua,” kata Ax*** dengan kesal.
Keluhan warga bahkan menyebut dampak asap tidak hanya dirasakan di wilayah Riau. Nisya*** menyinggung dampak kabut asap yang disebut telah terasa hingga Sumatera Barat.
“Menurun apanya, sampai Sumbar dampaknya,” lanjut Nisya***.
Sementara itu, Boim*** melontarkan kritik lebih tajam terhadap pernyataan tersebut.
“Manipulatif data lagi,” sindir Boim***.Keluhan mengenai kualitas udara juga disampaikan Adi**. Ia mengaku kondisi asap masih sangat mengganggu aktivitas masyarakat.
“Tidak ada menurun, parah kali asapnya. Sesak dibuat,” sahut Adi**.
Warga lainnya, Yulia***, bahkan membandingkan kondisi yang ia lihat langsung di sejumlah wilayah Pekanbaru.
Ia mengaku tinggal di kawasan Sukajadi dan saat bepergian menuju Jalan Ahmad Dahlan masih menemukan banyak asap.
“Menurun dari mana. Saya tinggal di Sukajadi barusan keluar menuju Ahmad Dahlan dan banyak asap,” ujar Yulia***.
Kritik lain datang dari Ax*** yang menyebut kondisi Pekanbaru masih diselimuti kabut asap. Ia juga menyinggung akun Presiden Prabowo Subianto dan Partai Gerindra dalam komentarnya.
“Pekanbaru kabut asap, tapi Karhutla dibilang menurun, @prabowo @gerindra,” tulis Ax***.
Gelombang komentar tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara klaim penurunan karhutla secara umum dengan pengalaman sebagian masyarakat yang masih merasakan langsung dampak asap di lapangan.
Bagi warga, ukuran kondisi karhutla bukan hanya jumlah titik api atau luasan lahan yang terbakar, tetapi juga dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Ketika asap masih tercium, jarak pandang terganggu dan masyarakat mulai mengeluhkan sesak napas, klaim bahwa karhutla telah menurun dinilai belum mencerminkan kondisi yang mereka rasakan.
Perbedaan persepsi inilah yang kini menjadi sorotan. Di satu sisi, aparat menyebut kondisi karhutla secara umum mulai menurun.
Namun di sisi lain, masyarakat Pekanbaru masih mengeluhkan kabut asap yang mereka rasakan dalam aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat pernyataan Kapolda Riau tentang penurunan karhutla menjadi bahan perbincangan di media sosial, terutama karena masyarakat meminta agar kondisi di lapangan juga menjadi bagian penting dalam melihat keberhasilan penanganan karhutla di Riau.

