Rentang 9 Hari, Dua Insiden Diduga Keracunan Usai Santap MBG di Dumai

dapur-mbg7.jpg
Foto Arsip : Petugas menyiapkan paket makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sidokumpul, Lamongan, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/Spt)

RIAU ONLINE, DUMAI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Dumai kembali menjadi sorotan. Dalam rentang waktu hanya sembilan hari, dua insiden dugaan keracunan dilaporkan terjadi setelah siswa mengonsumsi makanan yang didistribusikan melalui program tersebut.

Insiden pertama terjadi pada siswa SMAN 2 Dumai pada Selasa, 4 Agustus 2026. Sejumlah siswa mengeluhkan mual, pusing, sakit perut hingga demam setelah menyantap menu MBG.

Belum tuntas persoalan tersebut, kasus serupa kembali terjadi di SD Negeri 013, Kelurahan Buluh Kasap, Kecamatan Dumai Timur, Kamis, 13 Agustus 2026. 

Puluhan siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Dua kejadian dalam waktu berdekatan ini memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat, khususnya para orang tua siswa.

1. Puluhan Siswa SMAN 2 Dumai Mengeluh Sakit

Dugaan keracunan pertama terjadi di SMAN 2 Dumai, Selasa, 4 Agustus 2026. Puluhan siswa-siswi dilaporkan mengalami berbagai keluhan kesehatan setelah menyantap hidangan yang didistribusikan oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sehat Sejahtera Bersama yang berada di bawah naungan Yayasan Cahaya Bintang Abadi.

SPPG tersebut berlokasi di Jalan Merdeka Baru, Kota Dumai. Pada hari kejadian, menu MBG yang disajikan kepada para siswa terdiri dari nasi putih, ayam woku, tahu goreng saus, buah semangka, serta tumis kacang panjang.

Keluhan kesehatan mulai dirasakan sejumlah siswa beberapa jam setelah mengonsumsi makanan tersebut. Gejala kemudian semakin terasa pada Selasa malam.

Para siswa dilaporkan mengalami mual, pusing, sakit perut, muntah, diare hingga demam.

Salah seorang siswa berinisial O bahkan harus mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit di Kota Dumai pada Kamis, 6 Agustus 2026 sekitar pukul 03.00 WIB karena kondisinya cukup serius.

Orang tua O membenarkan bahwa anaknya mengalami sejumlah gejala setelah pulang sekolah.

“Sore Selasa itu setelah pulang sekolah anak saya mengalami pusing, mual, sakit perut, hingga muntah, mencret, dan demam. Kamis dini hari dokter menyatakan anak saya harus dirawat,” ujar orang tua siswa tersebut.

Namun, orang tua O juga menegaskan dirinya tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa kondisi anaknya disebabkan oleh makanan MBG.

“Namun dalam hal ini saya tidak bisa menjustifikasi kasus ini terjadi dari MBG,” katanya.

Pihak SMAN 2 Dumai juga membenarkan adanya laporan dari sejumlah orang tua siswa mengenai keluhan kesehatan tersebut.

“Kami mendapatkan laporan langsung dari orang tua murid bahwasanya anak-anak mereka merasakan sakit perut, mual, dan pusing usai menyantap makanan yang didistribusikan ke sekolah,” ungkap perwakilan SMAN 2 Dumai.

Tim Gabungan Turun Investigasi

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan langsung diterjunkan untuk melakukan investigasi.

Tim tersebut melibatkan Dinas Kesehatan Kota Dumai, Puskesmas Jaya Mukti, Satintelkam Polres Dumai hingga Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).



Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Kota Dumai, Suryani, mengatakan pihaknya bergerak cepat setelah menerima informasi mengenai adanya siswa yang mengalami keluhan kesehatan.

“Begitu dapat informasi tersebut, kami langsung mengambil langkah cepat turun ke lapangan untuk melakukan investigasi ke sekolah dan ke dapur SPPG,” terang Suryani.

Menurutnya, mayoritas siswa mengalami mual, pusing dan sakit perut pada malam hari. Namun, ada pula siswa yang mulai merasakan keluhan beberapa jam setelah mengonsumsi makanan.

“Dominan anak-anak mengalami mual, pusing, dan sakit perut pada malam hari, walaupun ada yang sudah merasakan gejala empat jam setelah makan,” ujarnya.

Untuk memastikan penyebabnya, sampel makanan kemudian dikirim ke Laboratorium Kesehatan (Labkes) Provinsi Riau.

“Kami bekerja sesuai prosedur, sampel makanan sudah dikirim ke Labkes Provinsi Riau dan hasilnya sedang kita tunggu,” kata Suryani.

SPPG Klaim Langsung Turun Tangan

Kepala SPPG Sehat Sejahtera Bersama, Habibi, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Satgas MBG Kota Dumai dan Badan Gizi Nasional (BGN) setelah menerima laporan dari sekolah.

“Kami dengan tim, setelah dikabarkan oleh pihak sekolah pada Rabu, langsung menuju ke sekolah dan menerima keterangan,” jelas Habibi.

Pihak SPPG kemudian menyediakan tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan terhadap siswa yang mengalami keluhan.

“Selanjutnya kami menyediakan dokter dari Labkes untuk pengecekan dan pemberian obat,” katanya.

Selain itu, pihaknya turut mendampingi proses pengambilan sampel makanan untuk pemeriksaan laboratorium.

“Sore harinya kami mendampingi pengambilan sampel makanan untuk diuji lab. Pihak Satgas Kota Dumai dan BGN juga sudah bergerak melakukan investigasi,” ujar Habibi.

Terkait adanya siswa yang harus menjalani rawat inap, Habibi mengaku telah menerima informasi tersebut.

“Kami sudah tahu, kami juga akan mengecek anak tersebut ke rumah sakit. Karena banyak tim Satgas yang datang ke dapur, jadi kami harus membagi waktu terlebih dahulu,” tegasnya.

2. Sembilan Hari Berselang, Dugaan Keracunan Kembali Terjadi

Sembilan hari setelah kejadian di SMAN 2 Dumai, dugaan keracunan kembali dilaporkan terjadi di SD Negeri 013 Dumai, Kamis, 13 Agustus 2026.

Sekitar 36 siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG.

Sejumlah siswa bahkan terlihat lemas dan harus mendapatkan penanganan medis.

Kondisi tersebut membuat para wali murid berdatangan ke sekolah untuk memastikan keadaan anak-anak mereka.

Salah seorang wali murid, Daus, mengaku melihat sejumlah siswa yang mengenakan seragam Pramuka dalam kondisi lemas dan membutuhkan pertolongan.

Ia mengatakan, seorang siswa sempat dibawa ke halaman sekolah sebelum dimasukkan ke dalam ambulans milik Pemerintah Kota Dumai dengan nomor polisi BM 7753 RA.

Namun, menurut Daus, ambulans tersebut tidak membawa siswa itu ke rumah sakit.

“Katanya sopir ambulans hanya wajib standby di sekolah. Akhirnya guru SDN 013 bernama Dila membawa anak tersebut ke rumah sakit menggunakan kendaraan pribadi,” ujar Daus.

Daus juga menyebutkan sejumlah siswa lainnya telah lebih dahulu dibawa ke fasilitas kesehatan setelah mengalami keluhan yang diduga muncul usai mengonsumsi makanan MBG.

“Banyak anak yang terlihat lemas. Kami sebagai wali murid tentu khawatir dan ingin memastikan mereka mendapatkan pertolongan,” katanya.

Makanan MBG yang dikonsumsi para siswa tersebut diketahui diproduksi oleh salah satu SPPG yang berada di Jalan Gajah Mada, Dumai.

Penyebab Masih Menunggu Pemeriksaan

Meski dua insiden terjadi dalam waktu berdekatan, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami para siswa belum dapat dipastikan.

Belum ada keterangan resmi yang menyatakan bahwa makanan MBG menjadi penyebab langsung gangguan kesehatan tersebut.

Karena itu, hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi dari instansi terkait menjadi penting untuk memastikan apakah terdapat kontaminasi atau persoalan lain pada makanan yang dikonsumsi para siswa.

Jika dihitung dari kejadian pertama pada 4 Agustus hingga insiden kedua pada 13 Agustus 2026, hanya terdapat jeda sembilan hari.

Rentang waktu yang cukup singkat itu membuat keamanan dan kualitas makanan dalam program MBG di Kota Dumai kembali menjadi perhatian.

Di sisi lain, pemerintah dan pihak terkait dituntut memastikan proses penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi ke sekolah benar-benar memenuhi standar keamanan pangan.

Untuk saat ini, dugaan keracunan pada kedua kasus tersebut masih harus menunggu hasil pemeriksaan dan keterangan resmi dari pihak berwenang.