Penganiayaan Sekretaris PMII Supriadi Dipicu Selisih di Jalan, BB Senpi Masih Diselidiki

Penganiayaan-Sekretaris-PMII-Supriadi-Dipicu-Selisih-di-Jalan-BB-Senpi-Masih-Diselidiki.jpg
Pelaku Penganiayan terhadap Sekretaris PMII Riau Supriadi ditangkap Polda Riau. Pelaku berinisial AS. (Dok. Polda Riau)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau mengungkap modus di balik kasus pengeroyokan atau penganiayaan terhadap seorang mahasiswa di Jalan Bangau Sakti, Kecamatan Binawidya, Pekanbaru, 5 Juli 2026. 

Penyidik telah menetapkan satu orang tersangka berinisial AS (26), seorang pekerja swasta, Senin, 27 Juli 2026 lalu. Penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik mengantongi alat bukti yang dinilai cukup sesuai ketentuan perundang-undangan.

Dari hasil penyidikan sementara, insiden tersebut diduga dipicu persoalan sepele di jalan yang berujung pada aksi kekerasan. Kasubdit Jatanras Polda Riau, AKBP Roy Noor, mengatakan proses penangkapan merupakan bagian dari rangkaian penyidikan yang dilakukan secara objektif dan profesional.

"Untuk saat ini, kami penyidik dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau telah melakukan penangkapan terhadap seseorang yang telah kami tetapkan sebagai tersangka dengan alat bukti sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku," ujar AKBP Roy Noor, Rabu, 5 Agustus 2026.

Ia menegaskan, penyidik tetap mengedepankan prinsip objektivitas, profesionalitas, dan proporsionalitas dalam mengusut perkara tersebut. Seluruh fakta, alat bukti, serta keterangan para pihak masih terus didalami untuk mengungkap secara utuh kronologi maupun kemungkinan keterlibatan pelaku lain.

"Proses penangkapan ini merupakan bagian dari proses penyidikan yang kami lakukan dengan tetap menjunjung tinggi objektivitas, profesional, dan proporsional agar semua fakta, alat bukti maupun keterangan dari seluruh pihak yang berkaitan dengan perkara ini bisa kami ungkap secara jelas," terang Roy Noor.

Berdasarkan pemeriksaan sementara terhadap tersangka, polisi mengungkap dugaan awal motif penganiayaan bermula ketika korban dan pelaku berpapasan di jalan hingga nyaris bertabrakan. Insiden tersebut kemudian memicu adu mulut sebelum berakhir dengan aksi pemukulan terhadap korban.



"Kalau motif yang disampaikan oleh tersangka itu keterangan sementara karena berpapasan. Kami masih melakukan pendalaman. Keterangan dari tersangka, di jalan terjadi selisih, hampir tabrakan kemudian kontak verbal, lalu terjadi pemukulan," jelas Roy Noor.

Meski demikian, polisi belum menyimpulkan motif tersebut sebagai fakta akhir karena penyidik masih melakukan pendalaman terhadap seluruh keterangan dan alat bukti yang ada. Roy menegaskan pihaknya sengaja belum membuka seluruh hasil penyidikan kepada publik demi menjaga integritas proses hukum.

"Terkait latar belakang motif akan kami sampaikan kemudian. Untuk kelancaran maupun integritas proses penyidikan ini kami jaga betul agar tidak ada informasi yang dapat menghambat proses pembuktian maupun penyidikan yang sedang kami laksanakan," tegasnya.

Selain menetapkan AS sebagai tersangka, penyidik juga masih mengembangkan kasus tersebut untuk memastikan ada atau tidaknya pelaku lain yang terlibat dalam penganiayaan terhadap Sekretaris PKC PMII Riau tersebut.

"Untuk sementara ada satu orang yang sudah kami amankan, tangkap, dan sudah kami tetapkan sebagai tersangka, yakni AS, pekerjaan swasta. Terkait perkembangan ada atau tidak pelaku lainnya, nanti akan kami sampaikan kembali," ujarnya.

Dalam perkembangan terbaru, kondisi korban dilaporkan telah membaik dan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

"Korban sudah keluar dari rumah sakit dan sudah bisa beraktivitas kembali," kata Roy.

Terkait bentuk kekerasan yang dialami korban, baik keterangan korban maupun tersangka menyebut pemukulan dilakukan menggunakan tangan.

Sementara itu, mengenai dugaan adanya penggunaan senjata tajam atau benda tertentu dalam kejadian tersebut, polisi menyatakan masih melakukan pendalaman karena minimnya rekaman kamera pengawas di lokasi kejadian.

"Itu yang lagi kami dalami terkait ada atau tidak. Memang di lokasi kejadian CCTV sangat minim, bahkan di titik kejadian tidak ada CCTV," pungkasnya.