RIAU ONLINE, PEKANBARU - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru terus memperkuat program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Salah satunya melalui pelatihan pengelolaan peternakan ayam petelur di lahan terbatas yang digelar Lapas Pekanbaru bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distankan) Kota Pekanbaru, Jumat, 17 Juli 2026.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti oleh 25 Warga Binaan Pemasyarakatan. Selain mendapatkan materi teori, para peserta juga akan menjalani praktik langsung di kandang ayam petelur milik Lapas Pekanbaru.
Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan keterampilan warga binaan sekaligus mendukung program ketahanan pangan di lingkungan lapas.
Menurutnya, Lapas Pekanbaru saat ini telah memiliki sekitar 1.080 ekor ayam petelur dan akan terus menambah populasi hingga mencapai kapasitas kandang sebanyak 2.000 ekor.
"Kita ingin memberikan pelatihan kepada WBP dalam bidang peternakan ayam petelur. Nantinya populasi ayam akan kita tambah menjadi 2.000 ekor sehingga ketahanan pangan di Lapas Pekanbaru benar-benar dapat tercapai. Secara internal kita sudah mampu memenuhi kebutuhan gizi warga binaan," ujar Yuniarto.
Ia menjelaskan, produksi telur dari peternakan tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan sesuai ketentuan yang berlaku.
"Sebagaimana Peraturan Menteri Nomor 1 Tahun 2026, satu orang narapidana mendapatkan enam butir telur setiap 10 hari. Dengan produksi yang semakin meningkat nantinya akan ada surplus. Kalau kita sudah menghasilkan sekitar 2.000 butir telur, tentu itu menjadi capaian tersendiri bagi Lapas Pekanbaru," jelasnya.
Yuniarto menambahkan, kerja sama dengan Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Pertanian dan Peternakan bukan hanya bertujuan meningkatkan produksi telur, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah bebas nanti.
"Hari ini kita bekerja sama dengan Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Pertanian dan Peternakan melaksanakan penyuluhan sekaligus pelatihan kepada WBP. Tujuannya adalah memberdayakan warga binaan agar menjadi peternak yang terampil karena kita memiliki kandang dengan kapasitas 2.000 ekor ayam," lanjut Yuniarto.
"Sekarang jumlah ayam kita sekitar 1.080 ekor. Jika nanti sudah mencapai 2.000 ekor, maka selain mampu memenuhi kebutuhan gizi warga binaan, program ini juga akan meningkatkan keterampilan mereka di bidang peternakan sebagai bekal setelah kembali ke masyarakat," sambungnya.
Pelatihan tersebut dirancang berlangsung selama dua hari dengan kombinasi pembelajaran di kelas dan praktik lapangan.
"Setelah mendapatkan materi, mereka langsung praktik di kandang. Pesertanya sebanyak 25 orang warga binaan," ungkap Yuniarto.
Menariknya, peserta pelatihan tidak dipilih melalui proses seleksi khusus. Lapas memberikan kesempatan kepada seluruh warga binaan yang memiliki minat di bidang peternakan untuk ikut serta secara bergiliran.
"Pemilihan peserta tidak perlu diseleksi. Siapa saja yang berminat mengikuti pelatihan akan kita berikan kesempatan dan nantinya dilakukan secara bergilir sesuai minat mereka," pungkasnya.
Sementara itu, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Pekanbaru, Zulpan Ependi, menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung penuh program pembinaan yang dijalankan Lapas Pekanbaru.
Menurutnya, pelatihan tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam memberikan pembinaan dan pemberdayaan kepada masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan.
"Kami diajak oleh Lapas Pekanbaru untuk memberikan pelatihan dan pembinaan kepada warga binaan. Negara harus hadir memberikan pembinaan dan pemberdayaan, termasuk melalui pengembangan peternakan ayam petelur," ujar Zulpan.
Ia menegaskan, Distankan Kota Pekanbaru akan terus mendukung berbagai program pemberdayaan yang dijalankan Lapas Pekanbaru.
"Kami siap mendukung setiap program Lapas Pekanbaru, khususnya dalam pengembangan peternakan dan peningkatan keterampilan warga binaan," tegasnya.
Dukungan juga datang dari pihak ketiga, yakni CV Cahaya Utama, yang telah menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan Lapas Pekanbaru untuk mendukung proyek perubahan yang digagas Kalapas Yuniarto.
Perwakilan CV Cahaya Utama menyebutkan bahwa kolaborasi tersebut merupakan langkah strategis guna memastikan keberlanjutan produksi telur sekaligus memperkuat program pembinaan keterampilan bagi warga binaan.
"Ini merupakan langkah strategis untuk memastikan terjaminnya rantai pasokan telur bagi kebutuhan konsumsi di Lapas sekaligus meningkatkan keterampilan warga binaan. Kami berharap program ini terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat," ujarnya.
Melalui sinergi antara Lapas Pekanbaru, Pemerintah Kota Pekanbaru, dan pihak swasta, program peternakan ayam petelur diharapkan tidak hanya mampu mendukung ketahanan pangan di dalam lapas, tetapi juga melahirkan warga binaan yang memiliki keterampilan dan bekal usaha sehingga lebih siap kembali ke tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pidananya.

