RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kekecewaan mendalam disampaikan perwakilan mahasiswa terkait dugaan tindakan aparat saat pengamanan aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Riau, Senin, 22 Juni 2026 lalu.
Dalam forum yang membahas tindak lanjut insiden tersebut, mahasiswa menilai aparat tidak menjalankan tugas sesuai prosedur dan justru melakukan tindakan yang dinilai mencederai rasa aman para peserta aksi.
Perwakilan mahasiswa menegaskan, sebagai aparat penegak hukum, polisi semestinya hadir untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat, termasuk mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi secara damai.
"Seharusnya orang-orang abang (polisi) menjaga kami, tapi malah menyerang kami," ujar pihak DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bersama Cipayung Plus Pekanbaru dalam media sosial Instagram @alpin_jakars.
Menurutnya, hingga kini para mahasiswa masih menunggu adanya kejelasan dan pertanggungjawaban atas peristiwa yang terjadi saat demonstrasi.
Ia menilai penyelesaian kasus tersebut penting agar tidak menimbulkan keresahan di kalangan mahasiswa, khususnya organisasi yang tergabung dalam Cipayung Plus Pekanbaru.
"Makanya kami meminta kepada semua pihak yang hadir di sini agar ada pertanggungjawabannya. Kalau persoalan ini benar-benar beres, kami bisa menyampaikan kepada kader-kader kami, khususnya di Cipayung Plus Pekanbaru, supaya mereka merasa tenang," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa merupakan bentuk tanggung jawab moral dan akademik untuk menyuarakan kepentingan masyarakat. Karena itu, menurutnya, penyampaian aspirasi tidak seharusnya direspons dengan tindakan represif.
"Mereka menyampaikan aspirasi, menyampaikan keluh kesah masyarakat, karena memang itu tanggung jawab mahasiswa. Kalau tidak ada lagi mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi, mau dibawa ke mana negara ini, Pak?" tuturnya.
Mahasiswa juga menyoroti cara aparat menangani jalannya aksi. Ia mengaku kecewa karena menilai aparat bertindak tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) dalam pengamanan unjuk rasa.
"Kami merasa aparat bertindak tidak sesuai SOP yang seharusnya mengamankan kami. Saya agak kecewa dengan tindakan yang dilakukan aparat ketika kejadian itu terjadi," ungkapnya.
Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa para mahasiswa tidak melihat adanya empati dari aparat ketika salah seorang peserta aksi menjadi korban dan terjatuh di lokasi demonstrasi. Bahkan, menurut pengakuannya, terdapat aparat yang justru terlihat tersenyum di tengah situasi tersebut.
"Tidak ada rasa simpati dari aparat ketika korban terjatuh. Tadi juga sudah Bapak sampaikan, aparat malah senyum-senyum, seolah-olah tidak terjadi apa-apa," katanya.
Padahal, lanjutnya, saat itu informasi mengenai kondisi korban telah beredar dan disebutkan bahwa korban harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
"Padahal kemungkinan aparat juga sudah diinformasikan bahwa korban masuk rumah sakit," ujarnya.
Pernyataan tersebut menambah sorotan terhadap penanganan aksi demonstrasi di DPRD Riau yang sebelumnya menuai perhatian publik.
Mahasiswa berharap seluruh pihak yang berwenang dapat mengusut secara objektif dugaan tindakan berlebihan dalam pengamanan aksi serta memberikan kepastian hukum agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

