RIAU ONLINE, PEKANBARU - Unjuk rasa yang digelar Cipayung Plus Kota Pekanbaru di depan Gedung DPRD Provinsi Riau Senin, 22 Juni 2026, lalu meninggalkan kesan buruk yang selama ini tak pernah terjadi.
Di tengah jalannya unjuk rasa, seorang peserta aksi dilaporkan menjadi korban dugaan pemukulan oleh oknum aparat yang hingga kini belum diketahui identitasnya.
Akibat insiden tersebut, korban mengalami luka di bagian wajah dan harus mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Awal Bros Sudirman.
Peristiwa itu pun memicu reaksi berbagai pihak yang mendesak adanya pengungkapan secara transparan.
Anggota DPRD Riau dari Fraksi PDI Perjuangan, Andi Darma Taufik, mengaku telah menerima laporan resmi dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Pekanbaru terkait dugaan kekerasan yang terjadi saat demonstrasi berlangsung, Kamis, 25 Juni 2026.
Menurut Andi, informasi yang diterimanya mengarah pada dugaan keterlibatan seorang oknum yang memiliki ciri-ciri menyerupai anggota kepolisian.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa semua pihak harus tetap menjunjung asas praduga tak bersalah hingga proses penyelidikan selesai dilakukan.
"Berdasarkan informasi yang kami terima, dugaan pemukulan dilakukan oleh oknum tak dikenal yang memiliki ciri-ciri menyerupai anggota kepolisian," ujar Andi Darma.
"Namun demikian, kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah,” sambungnya.
Ia menilai kejadian tersebut tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa kejelasan. Selama ini, berbagai aksi demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung DPRD Riau umumnya berjalan aman dan kondusif tanpa adanya laporan kekerasan fisik terhadap peserta aksi.
“Selama ini demonstrasi di depan kantor DPRD berjalan damai. Tidak pernah ada insiden pemukulan hingga menyebabkan peserta aksi harus dirawat di rumah sakit. Karena itu, kami meminta Kapolda Riau mengusut tuntas kasus ini agar kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian tidak terganggu akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Cabang IMM Kota Pekanbaru, Rahmatul Aufa, menjelaskan bahwa situasi mulai memanas ketika salah seorang peserta aksi berusaha membakar spanduk sebagai bentuk ekspresi simbolik dalam demonstrasi.
Menurutnya, aparat keamanan yang berjaga kemudian bergerak masuk ke belakang barisan massa dengan cara yang dinilai tidak proporsional.
“Pergerakan aparat secara tiba-tiba memicu kepanikan dan kekacauan di tengah massa. Dalam situasi tersebut, botol yang dipegang kader kami terlepas dan terlempar ke badan jalan. Kami menegaskan bahwa hal itu bukan tindakan yang disengaja, melainkan akibat tekanan fisik yang muncul karena pergerakan aparat ke dalam kerumunan,” kata Rahmatul.
Di tengah suasana yang kacau itulah, dugaan aksi kekerasan terhadap peserta demonstrasi disebut terjadi. Korban dilaporkan menerima pukulan di bagian mata dan pelipis hingga terjatuh ke aspal.
Sejumlah peserta aksi yang berada di lokasi menyebut korban sempat berada dalam kondisi hampir tidak sadarkan diri sebelum akhirnya dievakuasi untuk mendapatkan pertolongan medis.
Rahmatul mengungkapkan, sejumlah saksi dari berbagai organisasi mahasiswa, termasuk GMNI dan PMII, memberikan keterangan yang relatif serupa terkait sosok yang diduga melakukan pemukulan.
“Berdasarkan keterangan sejumlah saksi dari massa aksi, termasuk kader GMNI dan PMII, pelaku kekerasan merupakan seorang pria bertubuh besar dengan tinggi sekitar 178 sentimeter. Ia mengenakan pakaian serba hitam, berambut sebahu, dan memakai ikat kepala,” ungkapnya.
Menurut kesaksian yang dihimpun mahasiswa, pria tersebut diduga bergerak dari area yang sama dengan posisi aparat berpakaian preman atau intelijen yang berada di sekitar lokasi pengamanan aksi.
Setelah insiden terjadi, sosok yang dimaksud disebut terlihat berlindung di sekitar pagar Gedung DPRD Provinsi Riau.
“Beberapa saksi mata menyebut individu itu bergerak dari arah yang sama dengan posisi aparat berpakaian preman atau intelijen. Kami tidak ingin berspekulasi mengenai identitasnya, tetapi kami mendesak pihak berwenang untuk segera mengidentifikasi dan mempertanggungjawabkan tindakan tersebut,” tegas Rahmatul.
Hingga kini, mahasiswa dan sejumlah pihak terus mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan pemukulan tersebut.
Mereka berharap identitas pelaku dapat segera terungkap sehingga tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat serta memastikan hak menyampaikan pendapat di muka umum tetap terlindungi tanpa intimidasi maupun kekerasan.

