Festival Talam Durian 1 KM di Pekanbaru Dikritik Warganet: Yang Panjang Mejanya

festival-talam-durian.jpg
Ratusan warga Pekanbaru memadati Festival Talam Durian di Jalan Jalan Jenderal Sudirman, Minggu, 21 Juni 2026. (Tangkapan layar)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Festival Kue Talam Durian yang digelar Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru yang diklaim sepanjang 1 kilometer di Jalan Jenderal Sudirman, Minggu, 21 Juni 2026, menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Acara yang semula disambut antusias ribuan warga itu justru menuai berbagai kritik dan kekecewaan dari masyarakat yang hadir.

Sejak pagi hari, warga dari berbagai penjuru Kota Pekanbaru sudah memadati lokasi talam durian yang membentang dari depan Mal Pelayanan Publik (MPP) hingga melewati kawasan Tugu Zapin. 

Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi menyaksikan langsung festival yang disebut-sebut sebagai rekor kue talam durian terpanjang tersebut.

Kepadatan pengunjung menyebabkan arus lalu lintas di sekitar lokasi sempat tersendat. Bahkan banyak warga rela berdiri berjam-jam dan mengantre demi melihat serta mencicipi kue talam durian yang menjadi ikon acara.

Namun, harapan masyarakat ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan di lapangan. Sejumlah warga mengaku kecewa setelah mengetahui bahwa yang membentang sepanjang satu kilometer lebih didominasi oleh meja-meja panjang.

Kekecewaan itu kemudian ramai diungkapkan melalui berbagai komentar di media sosial, salah satunya pada unggahan akun Instagram @naufal_a25 yang membahas pelaksanaan festival tersebut.

Salah seorang warganet bernama menyoroti sistem pembagian kue dan pengamanan acara yang dinilai kurang tertata.

"Sistem pembagian dan keamanan tidak tepat. Sepanjang talam dibatasi sama barikade dan ada penjaga panitia khusus. Ini tidak tertata dengan baik," tulis  Ja**.

Komentar bernada sindiran juga datang dari akun lainnya yang menyebut rekor yang tercipta lebih layak diberikan kepada meja daripada kuenya.

"Rekor Pak Agung Nugroho, meja talam terpanjang di dunia dan selamat ibu-ibu PKK," sindir Fad**.

Sementara itu, influencer Pekanbaru Rio Wandra juga ikut memberikan komentar yang kemudian ramai diperbincangkan warganet.

"Meja terpanjang, ndak ngale fen gara-gara iko (tak main-main fen gara-gara ini)," tulis Rio.


Tak hanya soal panjang kue yang dipersoalkan, beberapa warga juga mengkritik mekanisme pembagian yang dianggap tidak merata.

Akun Didi mengaku melihat adanya oknum panitia yang ikut mengambil kue dalam jumlah lebih dari satu.

"Ini bagaimana ceritanya panitia OKK ikutan ngambil kue talamnya dan dimasukkan dalam kotak. Bahkan ada yang ambil dua," tulisnya.

Komentar serupa juga disampaikan akun Allen yang menilai publik memiliki ekspektasi berbeda sebelum datang ke lokasi.

"Sebaiknya jangan tertipu teman-teman, ini yang terpanjang bukan kuenya tapi mejanya dan mulut admin," tulisnya.

Kekecewaan warga semakin terlihat dari berbagai komentar yang menyebut ekspektasi mereka terlalu tinggi terhadap konsep festival tersebut.

"Ekspektasi aku terlalu besar," tulis Ryan.

"Jangan tinggi sekali ekspektasinya, yang terpanjang bukan kue tapi mejanya," tambah Angga.

Namun ada pula warganet yang mendukung kegiatan yang melibatkan masyarakat luas tersebut. Meski begitu, warganet menyebut konsep penyajian masih perlu dievaluasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

"Mengajak semua warga Pekanbaru, tapi konsep tampilan talam durian kurang tepat. Apalagi ada buah durian langsung dihidangkan. Semoga ada evaluasi," tulisnya.

Komentar senada datang dari Erlina yang mengaku membayangkan seluruh meja akan dipenuhi kue talam durian secara utuh.

"Rupanya talam disusun memanjang satu-satu. Kirain sesuai gambar, penuh meja semua," tulisnya disertai emoji tertawa.

Sedangkan akun Dand menanggapi dengan nada bercanda.

"Rekor MURI loh ya," tulisnya sambil menambahkan emoji tertawa.

Dari pantauan di media sosial, mayoritas komentar yang muncul bukan mempermasalahkan pelaksanaan festival itu sendiri, melainkan lebih kepada ekspektasi publik yang berbeda dengan kondisi nyata di lapangan.

Banyak warga mengaku datang sejak pagi bahkan rela berdesakan karena mengira akan melihat hamparan kue talam durian yang tersusun penuh sepanjang satu kilometer.

Sebagian warga juga mengaku tidak kebagian mencicipi kue meskipun sudah menunggu cukup lama. 

Kondisi tersebut memunculkan kritik terkait sistem distribusi dan pengaturan massa yang dinilai perlu diperbaiki apabila kegiatan serupa kembali digelar di masa mendatang.

Meski demikian, festival ini tetap berhasil menarik perhatian masyarakat dalam jumlah besar dan menjadi salah satu agenda yang paling ramai diperbincangkan di Pekanbaru dalam beberapa waktu terakhir. 

Di sisi lain, derasnya kritik dari masyarakat di media sosial diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara agar konsep acara ke depan lebih jelas, tertata, dan mampu memenuhi ekspektasi warga yang hadir.

Alih-alih dikenang sebagai festival kue talam durian terpanjang, acara tersebut justru ramai dibicarakan karena munculnya istilah baru di kalangan warganet: “yang terpanjang bukan kuenya, melainkan mejanya.” 

Kalimat itulah yang kini menjadi sindiran paling viral usai gelaran festival tersebut.