Penyerangan Karyawan PT SBP Diduga Terorganisir, Ekskavator Muncul Usai Insiden

karyawan-sbp-diserang3.jpg
Sejumlah karyawan PT SBP Inhu mengalami luka bacok dan tembak saat dirawat di rumah sakit (Dok. Pribadi)

RIAU ONLINE, INHU - Peristiwa penyerangan terhadap sejumlah karyawan PT SBP di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, terus diselidiki. Selain dugaan aksi kekerasan yang menyebabkan beberapa pekerja mengalami luka-luka, muncul fakta baru yang dinilai perlu mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum, yakni masuknya satu unit alat berat ekskavator ke lokasi tak lama setelah insiden terjadi.

Salah seorang saksi di lapangan, Edi Yanto, menilai rangkaian kejadian tersebut tidak bisa dipandang sebagai peristiwa spontan. Menurutnya, kelompok yang datang ke lokasi sudah membawa berbagai jenis senjata sebelum penyerangan berlangsung.

Edi mengaku menyaksikan langsung kedatangan sekelompok orang yang diduga terlibat dalam aksi tersebut. Ia menyebut kelompok itu datang dengan membawa senjata tajam, beberapa pucuk senjata api, hingga senapan angin.

"Kami melihat sekelompok massa datang membawa senjata tajam, tiga pucuk pistol dan satu senapan angin. Setelah itu mereka melakukan penyerangan terhadap karyawan PT SBP," ujar Edi Yanto, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurut Edi, situasi di lokasi saat itu berlangsung mencekam. Para karyawan yang berada di area perusahaan berupaya menyelamatkan diri setelah mendapat serangan dari kelompok tersebut.

Ia mengatakan, setelah para pekerja mundur dari lokasi akibat serangan yang terjadi, muncul satu unit alat berat ekskavator yang masuk ke area sekitar tempat kejadian.

"Setelah karyawan mundur, terlihat satu unit ekskavator masuk ke area dekat lokasi penyerangan dan mulai bekerja. Hal itu juga disaksikan oleh beberapa saksi lain di lapangan," ungkapnya.

Masuknya alat berat tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan saksi maupun pihak perusahaan. Edi menilai keberadaan ekskavator itu perlu menjadi bagian dari penyelidikan karena waktu kemunculannya berdekatan dengan peristiwa penyerangan.

"Kami berharap semua rangkaian kejadian ini ditelusuri secara menyeluruh. Jangan hanya fokus pada pelaku yang berada di lapangan, tetapi juga mengungkap tujuan dan pihak yang berkepentingan di balik kejadian tersebut," katanya.



PT SBP Minta Polisi Ungkap Keterkaitan Pelaku dan Alat Berat

Sementara itu, Humas PT SBP, Rahman Manurung, meminta aparat kepolisian melakukan penyelidikan secara komprehensif terhadap seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi.

Menurut Rahman, masuknya alat berat ke lokasi setelah terjadinya penyerangan merupakan fakta yang tidak boleh diabaikan dalam proses hukum.

"Kami meminta kepolisian mengurai hubungan antara pelaku penyerangan dengan alat berat yang masuk ke lokasi. Selain itu, siapa pun yang menjadi aktor intelektual di balik kejadian ini harus diungkap," tegas Rahman.

Ia menegaskan, perusahaan mendukung penuh langkah penegakan hukum yang dilakukan kepolisian dan berharap kasus tersebut dapat diusut hingga tuntas tanpa pandang bulu.

Rahman mengatakan, pengungkapan aktor intelektual menjadi hal penting agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.

"Jangan sampai hanya pelaku lapangan yang diproses. Jika memang ada pihak yang mengatur, memerintahkan atau mendanai aksi tersebut, maka mereka juga harus dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum yang berlaku," ujarnya.

Rahman juga menyoroti adanya dugaan keterlibatan oknum tertentu yang disebut-sebut muncul dalam berbagai informasi yang berkembang di lapangan.

Meski demikian, ia menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum untuk membuktikan setiap dugaan yang ada melalui proses penyelidikan dan penyidikan yang profesional.

"Kami berharap semua pihak yang terlibat diperiksa secara objektif. Jika memang ditemukan adanya pelanggaran prosedur atau keterlibatan oknum tertentu, tentu harus ditindak sesuai aturan yang berlaku," katanya.

Rahman juga meminta adanya pengawasan internal guna memastikan seluruh proses penanganan perkara berjalan transparan dan akuntabel.

"Kami berharap seluruh fakta dapat dibuka secara transparan dan pihak yang terlibat diproses sesuai hukum yang berlaku," pungkasnya.

Di sisi lain, pihak kepolisian menyatakan proses penyelidikan dan penyidikan masih terus berlangsung.