RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kehadiran dua jenderal polisi yang dikenal memiliki rekam jejak kuat dalam pemberantasan premanisme ternyata belum mampu meredam keresahan masyarakat akibat maraknya aksi begal di Kota Pekanbaru dan sekitarnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, laporan dugaan pembegalan bermunculan dari berbagai wilayah. Mulai dari Jalan Melati dekat Air Hitam, kawasan Rumbai, Jalan Soekarno Hatta, Rimbo Panjang, Labersa hingga Kabupaten Pelalawan yang telah menelan korban.
Para pelaku disebut-sebut beraksi secara berkelompok dan tak segan membawa senjata tajam seperti parang, celurit hingga samurai untuk mengancam korbannya.
Fenomena ini menjadi sorotan publik karena terjadi di tengah kepemimpinan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan dan Wakapolda Brigjen Hengki Haryadi, dua perwira tinggi yang selama ini dikenal tegas dalam memberantas premanisme dan kejahatan jalanan.
Keresahan warga semakin meningkat karena aksi para pelaku tidak hanya menyasar pengendara yang melintas pada malam hari, tetapi juga masyarakat yang beraktivitas menjelang subuh hingga pagi hari saat kondisi jalan masih sepi. Salah satu peristiwa yang ramai diperbincangkan terjadi di Jalan Melati Ujung, dekat kawasan Air Hitam.
Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, seorang pengendara sepeda motor Scoopy menjadi korban pembegalan oleh tiga pelaku yang berboncengan menggunakan satu sepeda motor.
Para pelaku disebut membawa parang dan celurit. Saat korban berusaha mempertahankan kendaraannya, ia justru mengalami luka bacok di bagian tangan sebelum motornya dibawa kabur.
"Min jalan Melati stadion sudah tidak aman, tadi subuh terjadi pembegalan. Pelakunya bonceng tiga bawa parang dan celurit. Korban sempat melawan tapi dibacok kena tangan," tulis seorang warga dalam unggahan yang kemudian ramai dibagikan.
Warga meminta agar informasi tersebut disebarluaskan sebagai peringatan bagi masyarakat yang melintas di kawasan Air Hitam dan Jalan Melati, terutama saat dini hari dan menjelang subuh.
Laporan serupa juga datang dari kawasan Rumbai. Seorang warga bernama Suhelda mengungkapkan adanya dugaan pembegalan terhadap seorang pria yang hendak melaksanakan salat Subuh di Masjid Al Ittihad. Menurutnya, kejadian terjadi sekitar pukul 04.30 WIB ketika kondisi jalan masih gelap dan minim penerangan.
"Di Rumbai arah mau ke Masjid Al Ittihad dekat kuburan Chevron ada bapak-bapak mau salat Subuh dibegal karena jalan sepi dan gelap, tidak ada lampu jalan," tulisnya.
Korban disebut memilih menyerahkan sepeda motor miliknya demi keselamatan jiwa setelah dihadapkan dengan ancaman para pelaku.
Kondisi serupa juga terjadi di Rimbo Panjang
Seorang korban mengaku dipepet dua kendaraan yang ditumpangi tiga orang pelaku bersenjata tajam.
"Tadi malam saya dipepet dua kendaraan berjumlah tiga orang dan membawa dua bilah samurai. Alhamdulillah saya tidak sempat dibacok karena saya menyerahkan kendaraan beserta kuncinya," tulis korban melalui media sosial.
Tak hanya masyarakat umum, seorang kurir JNE juga dikabarkan menjadi korban pembegalan di kawasan Labersa. Dalam peristiwa tersebut, korban kehilangan uang hasil pembayaran COD senilai lebih dari Rp2 juta.
"Teman saya kurir JNE juga kena begal di Labersa sore kemarin, hilang duit COD dua juta lebih," ungkap seorang warga bernama Nof.
Rentetan kejadian tersebut memicu gelombang kekhawatiran di tengah masyarakat. Banyak warga menilai kasus pembegalan di Pekanbaru mulai terjadi secara beruntun dan dalam waktu yang berdekatan.
"Gak mungkin kan dalam satu minggu ini aja ada tiga berita pembegalan, mulai dari SM Amin, Rimbo Panjang sampai Melati," tulis seorang netizen sambil menandai akun kepolisian.
Keluhan lain juga muncul dari masyarakat yang berharap aparat keamanan meningkatkan patroli dan pengawasan.
"Pekanbaru semakin tidak aman. Di mana-mana ada pembegalan dan pencurian. Tolong pak polisi lebih diketatkan pengamanan untuk Pekanbaru ini," tulis seorang pengguna media sosial.
Ironisnya, maraknya aksi begal ini terjadi di saat Polda Riau dipimpin oleh dua jenderal yang memiliki pengalaman panjang dalam memberantas premanisme.
Wakapolda Hengki Haryadi bahkan secara terbuka mengakui bahwa dirinya da Herry Heryawan telah lama bekerja sama dalam menghadapi kelompok-kelompok kriminal jalanan.
"Ini merupakan suatu kebanggaan, bisa bertugas di Polda Riau. Terlebih, Pak Kapolda ini adalah sudah seperti saudara saya sendiri," kata Hengki Haryadi saat memberikan keterangan di Pekanbaru dikutip dari Media Center, Senin, 1 Juni 2026.
Ia mengungkapkan bahwa hubungan keduanya telah terjalin sejak masa pendidikan di Akademi Kepolisian hingga kembali dipertemukan dalam berbagai penugasan strategis.
"Sejak dari pendidikan akademi kepolisian kami satu angkatan, hingga bertugas di Polda Metro Jaya kami di sana bersama-sama," ujarnya.
Menurut Hengki, Kapolda Riau merupakan sosok mentor yang banyak mengajarkan keberanian dalam menghadapi kelompok-kelompok preman.
"Ya kita telah berkolaborasi memberantas premanisme. Saya ingat betul beliau pernah bilang kalau preman itu jangan lihat seramnya, karena memang itu tujuan preman untuk menakuti. Jadi jangan sampai polisi takut sama preman," tegasnya.
Bahkan, Hengki mengungkapkan filosofi yang selama ini menjadi pegangan dalam menghadapi pelaku kejahatan jalanan.
"Kalau mereka gila, kita gunakan cara-cara gila untuk menangkapnya. Inilah ajaran Pak Kapolda dulu, sehingga beliau menjadi mentor bagi saya untuk memberantas premanisme," katanya.
Ia menegaskan bahwa dirinya hadir di Polda Riau untuk mendampingi Kapolda dalam menjalankan tugas menjaga keamanan masyarakat.
"Kalau beliau ini adalah nahkoda, saya adalah mualimnya, bertanggung jawab terhadap arah navigasi kapal termasuk keselamatan awak," jelasnya.
Pernyataan tersebut kini menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kasus pembegalan yang meresahkan warga. Banyak masyarakat berharap pengalaman dan ketegasan dua jenderal tersebut dapat segera diwujudkan melalui langkah konkret di lapangan.
Warga mendesak agar patroli diperbanyak, titik-titik rawan kriminalitas diawasi secara intensif, serta para pelaku begal yang selama ini meresahkan segera ditangkap. Terbaru korban tewas usai di begal di Pelalawan Riau. Pelaku berjumlah dua orang belum ditangkap hingga saat ini.
Masyarakat juga berharap sinergi yang selama ini dikenal sukses dalam memberantas premanisme dapat kembali dibuktikan untuk menekan aksi begal yang kini menjadi momok bagi warga Pekanbaru.
Sebab, bagi masyarakat, ukuran keberhasilan bukan hanya pada komitmen dan pernyataan tegas, melainkan pada terciptanya rasa aman ketika mereka melintas di jalan-jalan Kota Pekanbaru, baik siang maupun malam hari.

