Kisah Haru Tiga Gadis Peluk Islam di Masjid An Nur, Ada yang Dijauhi Keluarga

masuk-islam-di-annur-22-mei-2026.jpg
Tiga gadis yang memutuskan memeluk agama Islam usai Salat Jumat, Jumat, 22 April 2026. (DEFRI CANDRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Masjid Raya An Nur Provinsi Riau menjadi saksi haru perjalanan spiritual tiga gadis yang memutuskan memeluk agama Islam usai Salat Jumat, Jumat, 22 April 2026.

Di hadapan ratusan jamaah yang memadati masjid kebanggaan masyarakat Riau tersebut, ketiganya bersyahadat dengan suara lirih, namun penuh keyakinan. 

Suasana mendadak hening ketika air mata haru pecah mengiringi prosesi Melinawati Tamba (18), Martha Evline Siahaan (25), dan Indah Permata Buulolo (17), menjadi mualaf.

Ketiganya tampak mengenakan mukena putih dan didampingi kerabat dekat saat menjalani prosesi pembacaan syahadat yang dipandu oleh pembimbing Mualaf Center An Nur, Rubianto.

Di balik keputusan besar yang mereka ambil, ternyata tersimpan kisah hidup yang tidak mudah. Ada yang harus menghadapi penolakan keluarga, dijauhi orang terdekat, hingga kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan karena memilih keyakinan yang berbeda.

Sebelum prosesi syahadat dimulai, Rubianto bersama Sekretaris Mualaf Center An Nur, Afra Khanza, terlebih dahulu memberikan nasihat dan penguatan mental kepada ketiga calon mualaf tersebut.

"Apakah kalian masuk Islam ada yang memaksa?” tanya Rubianto di hadapan jamaah.

Serentak ketiga gadis itu menggelengkan kepala, menandakan bahwa keputusan mereka memeluk Islam lahir dari hati nurani sendiri. Jawaban tersebut sontak membuat suasana semakin haru. 

Sejumlah jamaah terlihat mengusap air mata saat mendengar kisah perjalanan spiritual para gadis muda itu.

Dengan suara tenang, Melinawati Tamba mengaku mulai tertarik kepada Islam karena merasa damai setiap melihat umat Muslim menjalankan ibadah salat.


"Saya masuk Islam karena memang keinginan hati dan merasa nyaman setiap melihat teman dan keluarga melaksanakan salat," ujar Melinawati.

Berbeda dengan Melinawati, Martha Evline Siahaan mengaku hidayah datang bersamaan dengan hadirnya sosok pria yang ingin membimbing dirinya menjadi pribadi lebih baik.

"Selain karena keinginan hati, saya juga ingin menikah dengan pria yang akan membimbing saya dan menjadi imam dalam kehidupan saya kelak," ungkap Martha dengan mata berkaca-kaca.

Namun suasana paling mengharukan terjadi saat Indah Permata Buulolo diminta menyampaikan alasan dirinya memilih menjadi mualaf.

Gadis berusia 17 tahun itu tampak tertunduk. Tangisnya pecah sebelum satu kata pun keluar dari bibirnya. Air mata terus membasahi pipinya hingga ia tak sanggup melanjutkan penjelasan.

Melihat kondisi tersebut, seorang pria yang mengaku sebagai kerabat Indah kemudian mencoba menjelaskan kisah pilu yang dialami remaja tersebut.

"Dia sejak SD kelas IV sudah berhenti sekolah. Keluarga memarahinya karena memeluk agama Islam,” ujar kerabat Indah di hadapan jamaah.

Pernyataan itu membuat suasana di dalam masjid semakin emosional. Beberapa jamaah terlihat ikut menundukkan kepala, sementara lainnya tampak memberikan dukungan moral kepada Indah.

Rubianto mengatakan bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup dan jalan hidayah masing-masing. Menurutnya, tidak ada seorang pun yang dapat mengatur kapan hidayah datang kepada seseorang.

"Hidayah bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Yang penting setelah masuk Islam harus terus belajar dan istiqomah," kata Rubianto.

Ia juga menegaskan kepada para mualaf agar tetap menghormati dan berbuat baik kepada orang tua meskipun berbeda keyakinan.

"Tetaplah berbuat baik kepada kedua orang tua meski berbeda keyakinan. Kita boleh menolak perintah orang tua jika diajak kembali ke agama sebelumnya," tegasnya.

Selain memberikan nasihat agama, Rubianto juga mengingatkan ketiga mualaf tersebut untuk terus belajar memahami ajaran Islam mulai dari tata cara wudhu, salat, hingga memahami rukun iman dan rukun Islam.

"Jangan pernah berhenti belajar. Tetap istiqomah dan terus memperbaiki diri," pesannya.

Usai prosesi syahadat, Mualaf Center An Nur Riau turut memberikan bingkisan kepada ketiga gadis tersebut sebagai bentuk kepedulian dan dukungan moral untuk memulai kehidupan baru mereka sebagai seorang Muslimah.

Momen tersebut pun menjadi pemandangan penuh haru bagi jamaah Salat Jumat yang hadir. Banyak di antara mereka yang ikut mendoakan agar ketiga gadis muda itu diberikan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan barunya.