RIAU ONLINE, SIAK - Upaya dokter spesialis untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka di forum Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kabupaten Siak justru berujung kekecewaan.
Alih-alih mendapatkan solusi, pernyataan pimpinan yaitu Plt Kepala Dinas Kesehatan Siak dan Direktur RSUD Tengku Rafian Ahmad Siak justru dinilai menyudutkan posisi dokter di hadapan forum.
Sehari pasca RDP yang berlangsung pada Senin,m30 Maret 2026, polemik antara dokter spesialis dan Pemerintah Kabupaten Siak belum juga mereda. Para dokter menilai Plt Kepala Dinas Kesehatan Siak dan Direktur RSUD Tengku Rafian tidak menjawab substansi persoalan yang mereka perjuangkan.
Perwakilan dokter spesialis, DR. dr. Dinna Devi, menegaskan bahwa forum yang seharusnya menjadi ruang penyampaian aspirasi justru berubah arah.
“Yang kami sampaikan sebenarnya sederhana, soal keadilan pembayaran antara dokter spesialis ASN dan non-ASN. Tapi yang muncul ke publik justru narasi lain yang menyudutkan kami,” ujarnya, Selasa 31 Maret 2026.
Menurutnya, pernyataan Plt Kadiskes dan Dirut RSUD dalam forum tersebut terkesan menggiring opini seolah-olah dokter spesialis tidak memiliki loyalitas terhadap daerah. Padahal, kata dia, tuntutan yang disampaikan murni menyangkut profesionalitas dan keadilan.
“Mereka menuntut kesetiaan, tapi tidak memperjuangkan. Bahkan ketika kami menyampaikan aspirasi, justru diposisikan seakan-akan kami yang bermasalah,” tegasnya.
Dinna juga menyoroti bahwa persoalan ini seharusnya dapat diselesaikan di tingkat manajerial tanpa harus melebar ke ruang publik. Ia menilai komunikasi yang tidak berjalan baik sejak awal menjadi pemicu membesarnya polemik.
Selain itu, ia meluruskan anggapan yang berkembang terkait latar belakang pendidikan dokter spesialis. Menurutnya, tidak semua dokter dibiayai oleh pemerintah daerah.
“Banyak dari kami menempuh pendidikan dengan biaya sendiri. Jadi tidak tepat jika seolah-olah kami memiliki beban tertentu terhadap daerah,” katanya.
Suasana RDP sendiri berlangsung tegang dan sarat emosi. Salah satu momen yang menjadi sorotan adalah ketika dr. Adhisty Azlin, dokter spesialis asal Siak, tak kuasa menahan tangis akibat kekecewaan yang dirasakan.
Ketegangan memuncak saat para dokter menyampaikan permintaan agar dipermudah mutasi ke daerah lain jika memang tidak lagi dibutuhkan. Pernyataan tersebut justru memicu respons keras dari Plt Kadiskes Siak.
“Saya tersinggung dengan statement itu. Saya ini budak Siak,” ujar Handry dengan nada tinggi di forum tersebut.
Di sisi lain, Direktur RSUD Tengku Rafian, Khamariah, menilai persoalan ini seharusnya tidak disampaikan secara terbuka dan cukup diselesaikan secara internal. Ia juga menyinggung adanya kecemburuan sosial di lingkungan tenaga kesehatan.
Namun bagi para dokter, forum DPRD seharusnya menjadi ruang untuk didengar, bukan justru menjadi tempat mereka merasa disudutkan. Hingga kini, mereka masih berharap adanya solusi konkret atas tuntutan keadilan yang disampaikan.

