RIAU ONLINE, PEKANBARU - Menangkap dinamika masyarakat adat selama 13 tahun bukan sekadar kerja pendokumentasian, melainkan merekam denyut sebuah peradaban yang sedang berjuang melawan arus modernitas dan eksploitasi dengan segala keterbatasan.
Selama itu pula, sastrawan Pekanbaru, Budy Utamy, telah merekam detak jantung Masyarakat Adat Talang Mamak yang kian melambat.
Putri dari tokoh masyarakat Riau, Hj. Azlaini Agus, mengungkap keresahan tentang "Tanah Tuha", ruang hidup yang dulu keramat perlahan gundul dan kehilangan maknanya sebagai tempat pulang.
Budy Utamy bercerita bahwa masyarakat Adat Talang Mamak saat ini berada dalam kondisi kerentanan struktural yang ekstrem. Kegentingan situasi yang beradu dengan periuk yang terkadang hanya berisi timun hutan tak seimbang, namun harus tetap disiangi dengan mata nanar.
“Sejak dekade 1990-an, wilayah Talang Mamak mengalami transformasi akibat ekspansi industri ekstraktif dan perkebunan monokultur. Kehilangan tanah dan ladang padi tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses bertahap yang dipoles sebagai adaptasi ekonomi,” ujarnya.
Ia mengungkap bahwa penanaman kelapa sawit secara perlahan menggantikan perladangan padi, menggeser sistem penghidupan sekaligus mempengaruhi keberlanjutan ritual adat dan upacara adat serta struktur sosial.
Menurutnya, seluruh rangkaian krisis ini dimulai dari penyempitan ruang hidup akibat ekspansi korporasi, konflik agraria yang seolah tiada berujung di hampir seluruh 29 wilayah Kebatinan, pengabaian hak-hak oleh negara sebagai asyarakat Adat yang berdaulat atas sumber daya alam mereka sendiri, hingga perubahan iklim yang memaksa mereka untuk beradaptasi dalam tempo yang sangat singkat.
“Ketidaktahuan atas apa yang sebenarnya terjadi, jalan mana yang bisa ditempuh demi mempertahankan keberlangsungan hidup, serta informasi yang tidak tergapai dan tidak pula disampaikan, memperparah kondisi secara masif,” katanya.
Ia menilai, keseluruhan rangkaian pelemahan ini, jika tidak ingin disebut “pembunuhan identitas” secara gamblang, secara sistematis dan terstruktur mengancam keberlangsungan tatanan adat dan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad.
Kini, rekaman emosional itu hadir dalam sebuah pameran kolaboratif bertajuk "Memerangkap Waktu: Talang Mamak Dalam Puisi dan Etnofotografi."
Budy Utamy bercerita dari kacamata personal yang telah belajar bersama Masyarakat Adat Talang Mamak selama lebih dari satu dekade, mengeksplorasi dua sisi kehidupan Talang Mamak: keintiman filosofi budaya mereka dan kekerasan realitas politik ekonomi yang mereka hadapi. Pun, masih banyak anak Sungai yang masih menunggu untuk dijenguk dan ditapaki.
Acara akan dimulai dengan Prosesi Pembukaan yang memaparkan urgensi perlindungan masyarakat adat secara formal. Selanjutnya, pengunjung akan diarahkan melalui sebuah Tur Imersif, di mana 8 foto dan puisi disajikan secara berurutan untuk membangun narasi kronologis.
Puncak acara ditandai dengan Sesi Berbagi Perspektif (sharing session). Dalam sesi ini, baik pengunjung maupun pembicara akan membicarakan mengenai perubahan sosial-ekologis yang terjadi selama 13 tahun terakhir, termasuk diskursus mengenai konflik lahan dan upaya resiliensi budaya.

