RIAU ONLINE - Pemadamanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilakukan secara intensif di sejumlah wilayah Provinsi Riau untuk mencegah meluasnya titik api.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengerahkan tim Tim Manggala Agni dari 4 Daerah Operasi (Daops) di Riau, yakni Daops Sumatera V/Dumai, Daops Sumatera VI/Siak, dan Daops Sumatera VII/Rengat.
"Saat ini, tim terus bergerak bersama stakeholder terkait untuk mencegah agar titik api tidak semakin meluas," katanya Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, dikutip dari Liputan6.com, Kamis, 12 Februari 2026.
Ferdian mengatakan di wilayah Kabupaten Pelalawan, kebakaran di Desa Teluk Beringin yang termasuk dalam Pulau Mendol. Manggala Agni Daops Sumatera VII/Rengat bersama BPBD Pelalawan, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pemadaman kebakaran (damkar) masih melakukan pemadaman api yang melahap ratusan hektar lahan dan hampir menghanguskan satu pulau.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat, Ferdian menjelaskan bahwa kebakaran diduga akibat penyiapan lahan, karena angin kencang terjadi kebakaran, dan juga menghancurkan kebuh kelapa punya masyarakat.
"Pulau Mendol merupakan salah satu daerah penghasil kelapa yang penting di wilayah Kabupaten Pelalawan dan merupakan wilayah terluar yang dekat dengan negara tetangga, sehingga kami terus mengerahkan personel dan peralatan di lapangan untuk memastikan api dapat segera dipadamkan sepenuhnya serta meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat," jelasnya.
Sementara itu, progres positif ditunjukkan pada operasi pengendalian karhutla di wilayah pesisir Riau, berkat kerja keras tim gabungan di lapangan.
Sebelumnya, pasukan Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Sumatera VI/Siak pada Minggu, 8 Februari 2026, bahu-membahu bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) memadamkan api yang melahap area seluas 10 hektare di Desa Sepahat, Kabupaten Bengkalis.
Fokus pemadaman juga diarahkan ke Desa Tanjung Leban. Di lokasi ini, sinergi lintas sektoral terlihat sangat kental dengan melibatkan personel TNI, Polri, Regu Pemadam Kebakaran dari PT Bukit Batu Hutani Alam (BBHA), serta relawan Masyarakat Peduli Bencana (MPB).
Mereka terus berupaya membuat sekat bakar dan memutus jalur api agar rembetan karhutla tidak semakin meluas ke area perkebunan produktif maupun kawasan konservasi.
Sementara di Kelurahan Mempura, Kabupaten Siak, kini berangsur kondusif. Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera mengerahkan kekuatan penuh tim Manggala Agni Daops Sumatera VI/Siak untuk menjinakkan si jago merah.
Api utama berhasil dipadamkan. Saat ini, tim di lapangan tengah memasuki fase krusial yaitu mopping up atau pendinginan.
Langkah teknis ini dilakukan dengan menyisir seluruh area bekas terbakar untuk mencari dan mematikan sisa bara api sekecil apa pun yang tersembunyi di balik gambut, guna memastikan tidak ada potensi penyalaan kembali (re-burning) yang dapat memicu kebakaran susulan di kemudian hari.
Di sisi lain, tantangan yang jauh lebih berat dihadapi oleh tim Manggala Agni Daops Sumatera V/Dumai yang tengah berjibaku di garis depan. Mereka harus berhadapan langsung dengan ganasnya api yang melalap vegetasi di wilayah Desa Rantau Bais, Kabupaten Rokan Hilir.
Fokus utama tim saat ini adalah mematikan kepala api untuk mencegah perluasan area terbakar.
Wilayah ini memiliki rekam jejak kerawanan tinggi, mengingat pada tahun 2025 lalu pernah terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan ribuan hektare lahan di sekitar lokasi operasi saat ini.
Kendala operasional di lapangan kian pelik karena karakteristik lahan berupa gambut dalam yang mudah terbakar, minimnya sumber air yang tersedia untuk pemadaman, serta akses lokasi yang sangat sulit dijangkau oleh kendaraan pemadam maupun personel darat.
Ferdian menekankan bahwa tren penurunan luas kebakaran dan minimnya bencana asap yang berhasil dicapai dalam beberapa tahun terakhir harus terus dipertahankan.
Oleh karena itu, strategi pengendalian tidak hanya bertumpu pada pemadaman reaktif semata.
Manggala Agni juga mengintensifkan patroli rutin di area-area rawan guna mendeteksi dini dan mencegah munculnya titik api baru, terlebih di tengah kondisi cuaca yang kering dan hembusan angin kencang yang dapat memperparah penyebaran api.

