Diungkap Korban, Kejanggalan di Balik Kebakaran Hotel New Hollywood Pekanbaru

Hotel-Hollywood-Pekanbaru-Terbakar.jpg
Hotel Hollywood Pekanbaru Terbakar (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Insiden kebakaran yang terjadi di Hotel New Hollywood, Jalan Kuantan, Kota Pekanbaru, menyisakan trauma mendalam bagi para tamu hotel. 

Salah satu korban, Rayrillant, harus mendapatkan perawatan medis di RS Awal Bross akibat paparan asap tebal dan luka sobek saat berusaha menyelamatkan diri dari kepulan asap di lantai atas hotel.

Peristiwa mencekam itu terjadi pada Sabtu, 20 Desember 2025 dini hari, saat hotel tengah dipadati tamu, termasuk rombongan kantor korban yang sedang menggelar kegiatan gathering.

Raylilant menuturkan, saat itu kantornya memilih Hotel New Hollywood karena fasilitas ballroom yang dilengkapi LED serta harga yang masih sesuai dengan anggaran.

"Kantor kami kebetulan mengadakan gathering di sana. Kami dapat ballroom dengan LED dan posisinya memang masuk di budget," ujar Raylilant dalam akun medsosnya, Minggu, 21 Desember 2025.

Sekitar pukul 04.30 WIB, Raylilant yang masih terjaga di kamar lantai 5 mulai mendengar suara gaduh di luar kamar.

"Saya masih begadang, buka laptop. Sekitar jam setengah lima pagi, saya dengar ada suara orang ribut-ribut di luar kamar," katanya.

Penasaran, Rayrillant keluar kamar untuk mengecek kondisi sekitar. Saat itu, ia mengaku belum mencium bau asap ataupun melihat tanda-tanda kebakaran di lantai 5.

Namun, informasi yang ia terima dari tamu lain menyebutkan adanya kebakaran di lantai 3. Raylilant pun turun melalui tangga darurat karena hotel tidak memiliki lantai 4.

"Pas saya turun, di lantai 3 sudah ada asap, warnanya putih dan tidak terlalu pekat," jelasnya.

Video kondisi tersebut sempat direkam Raylilant dan kemudian viral di media sosial.

Awal Mula Tercium Kejanggalan

Rayrillant  mengungkap kejanggalan saat kebakaran terjadi. Ia menyebut suasana di lantai 3 justru terlihat sangat santai. Banyak staf hotel berada di lokasi, namun tidak menunjukkan kepanikan.

"Staf hotel banyak di situ, tapi anehnya mereka santai saja. Duduk-duduk, cuma nutup hidung pakai handuk. Mereka bilang cuma satu kamar," ungkapnya.


Bahkan, menurut Raylilant, tidak ada alarm kebakaran yang berbunyi. Dugaan awal menyebutkan kebakaran berasal dari satu kamar, kemungkinan akibat rokok, namun situasi dinilai terisolasi di satu lantai saja.

Karena khawatir akan keselamatan rombongan kantornya, Raylilant segera menginformasikan kondisi tersebut kepada rekan-rekannya di lantai 5.

"Jam lima lewat saya langsung bilang ke teman-teman di lantai 5 untuk evakuasi. Saya naik lagi, ketok pintu satu per satu kamar, suruh semua turun karena ada kebakaran," tuturnya.

Seluruh rombongan akhirnya turun dan berkumpul di lobi dan area depan hotel. Namun, suasana yang mereka temui kembali membuat heran.

"Vibes-nya benar-benar santai. Resepsionis masih terima tamu check-in. Tamu baru juga kayak tidak ada rasa khawatir sama sekali," kata Rayrillant.

Setelah menunggu belasan menit, sebagian tamu merasa tidak kuat berada di luar. Tidak ada larangan dari pihak hotel untuk kembali naik ke kamar.

"Satpam bahkan bilang aman. Saya lihat di lantai 3 asap sudah jauh berkurang, staf hotel bawa APAR. Saya pikir sumber apinya sudah ketemu dan padam," ujarnya.

Tanpa adanya alarm kebakaran atau peringatan lanjutan, Rayrillant pun memutuskan kembali ke kamar di lantai 5. Namun, keputusan itu nyaris merenggut nyawanya.

"Saya masuk kamar, tutup pintu, tiduran sekitar 5–10 menit. Tiba-tiba ada teriakan di koridor. Asap masuk dari sela-sela pintu,” katanya dengan suara bergetar.

Saat membuka pintu kamar, Rayrillant mendapati asap hitam pekat memenuhi koridor, listrik padam, dan tidak terlihat satu pun staf hotel.

"Lampu mati, asap hitam pekat, tidak ada alarm, tidak ada staf. Saya tidak bisa lihat apa-apa," ucapnya.

Dalam kondisi panik, Rayrillant berusaha menuju tangga darurat. Asap hitam membuat pernapasan terasa sangat menyakitkan.

"Setiap hirup asap rasanya tenggorokan, dada, mata, semua sakit. Saya sampai meraba-raba karena gelap total,"  katanya.

Ia mengaku kesulitan menemukan tangga darurat dan mulai merasa kehabisan tenaga.

"Saya pikir waktu saya habis. Saya ingat di ujung hotel ada jendela,"  ujarnya.

Rayrillant kemudian berlari menyusuri koridor menuju ujung gedung dan menemukan jendela yang tidak bisa dibuka penuh. Ia memaksa membukanya demi mendapatkan udara.

"Saya pukul jendela supaya bisa ambil napas. Tangan saya sobek, sampai harus dijahit," jelasnya.

Di lokasi itu, Raylilant tidak sendirian. Beberapa tamu lain, termasuk pasangan suami istri, ikut berlindung di dekat jendela.

"Ada ibu-ibu bilang dia tidak kuat lagi. Saya sendiri teriak minta tolong, minta ampun, karena benar-benar tidak bisa napas," kenangnya.

Dari bawah, warga dan petugas meminta para korban untuk tidak melompat.

"Saya sampai berpikir lebih baik lompat daripada mati karena asap,” tutup Rayrillant.

Hingga kini, Raylilant masih menjalani perawatan medis akibat dampak asap kebakaran dan luka fisik. Insiden ini memunculkan pertanyaan serius terkait prosedur keselamatan, sistem alarm, serta kesiapsiagaan staf hotel dalam menghadapi situasi darurat.