UAS Kenang Kisah Abdul Wahid: Anak Yatim yang Jadi Gubernur dan Terjerat OTT KPK

Wahid-hariyanto-daftar-kpu.jpg
Abdul Wahid - SF Hariyanto didampingi Ustad Abdul Somad (UAS) Saat Pendaftaran Calon Gubernur Riau di KPU Riau, Rabu, 28 Agustus 2024 (Winda Mayma Turnip/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU — Nama Gubernur Riau Abdul Wahid menjadi perhatian publik setelah namanya ikut terseret dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Senin 3 November 2025.

Di tengah sorotan tersebut, pendakwah kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) mengenang perjalanan hidup sahabatnya itu melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @ustadzabdulsomad_official.

Dalam unggahan tersebut, UAS menuliskan kisah hidup Abdul Wahid yang penuh perjuangan sejak kecil. Ia menggambarkan sosok Abdul Wahid sebagai anak yatim asal Simbar, Indragiri Hilir, yang menempuh pendidikan agama dengan keterbatasan ekonomi.

"Anak yatim. Di Simbar. Kampung di Indragiri Hilir. Dikirim ibunya mondok ke Canduang. Lanjut kuliah di Fakultas Tarbiyah UIN Suska Riau. Jadi kuli bangunan untuk biaya kuliah,” tulis UAS dalam unggahannya.

Menurut UAS, perjalanan hidup Abdul Wahid berawal dari kerja keras dan kesederhanaan. Ia pernah menumpang di kantor Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebelum akhirnya aktif berpolitik hingga terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Riau dan kemudian DPR RI.

“Punya duit, kenal dengan anak gadis, baru kenal dua bulan, dia pinang sendiri, nikah. Duduk di DPR Provinsi Riau dan DPR-RI,” tulis UAS melanjutkan.


Pada 2024, Abdul Wahid memutuskan kembali ke Riau untuk maju dalam Pemilihan Gubernur. UAS menuturkan bahwa saat itu ia sempat bertanya alasan sahabatnya ingin menjadi gubernur.

“Untuk apa jadi Gubernur?,” tanya UAS.

“Saya mau bangun Riau. Masih banyak orang susah, Ustaz,” jawab Abdul Wahid, seperti dikutip dari unggahan tersebut.

UAS mengaku mendukung niat tersebut dengan syarat agar pemerintahan yang dipimpin Abdul Wahid bersih dan berpihak kepada rakyat kecil. Ia menyebut ada 16 poin program yang disepakati, seperti pembangunan Islamic Centre, pemberian beasiswa bagi siswa berprestasi, insentif untuk guru mengaji, hingga bantuan bagi pengurus jenazah.

“Bersih. Jangan main duit,” tulis UAS mengingatkan dalam unggahan itu.

Kini Terjerat Kasus KPK

Namun, perjalanan politik Abdul Wahid kini dihadapkan pada ujian berat. KPK menangkapnya dalam operasi senyap yang dilakukan di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Riau, bersama sejumlah pejabat dan pihak swasta.

Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto membenarkan penangkapan tersebut dan menyebut ada 10 orang yang diamankan, termasuk Abdul Wahid.

“OTT kali ini berkaitan dengan dugaan praktik korupsi di lingkungan Dinas PUPR Provinsi Riau,” ujar Fitroh.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menambahkan, tim masih melakukan pemeriksaan intensif dan akan menyampaikan konstruksi perkara setelah proses klarifikasi selesai.