RIAU ONLINE, PEKANBARU - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Provinsi Riau menjelang akhir Oktober 2025.
Berdasarkan laporan harian hotspot (titik panas) dan luas lahan terbakar pada Kamis, 30 Oktober 2025, terdeteksi 267 titik panas di wilayah Sumatera, dengan 57 titik di antaranya berada di Riau.
Dari total titik panas di Riau, luas lahan terbakar hari itu mencapai 9,57 hektare, dengan total kumulatif mencapai 1.947,18 hektare sejak awal tahun.
Meski angka tersebut menunjukkan hasil upaya pengendalian yang signifikan dibanding periode puncak kemarau, ancaman kebakaran tetap tinggi di beberapa kabupaten.
Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) dan Rokan Hilir (Rohil) menjadi dua wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak.
Inhu mencatat 11 titik panas, sementara Rohil memiliki 8 titik dengan tambahan kebakaran seluas 2 hektare. Petugas dari BPBD, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan Satgas Udara terus berjibaku memadamkan api yang muncul di sejumlah titik.
Sementara itu, di Kabupaten Kampar, terpantau 8 titik panas dengan lahan terbakar mencapai 3,5 hektare. Upaya pemadaman dilakukan oleh BPBD Kampar, dibantu Manggala Agni Pekanbaru, TNI, Polri, serta masyarakat setempat.
Kota Pekanbaru sendiri melaporkan satu titik panas dengan luas kebakaran 1,49 hektare, di mana petugas berhasil melakukan pendinginan pada 7 titik asap.
Secara kumulatif, data dari BMKG dan BRIN menunjukkan terdapat 13.463 titik panas di seluruh Sumatera sepanjang 2025.
Dari jumlah itu, sekitar 2.986 titik berada di wilayah Riau, menjadikannya salah satu provinsi dengan tingkat kerawanan karhutla tertinggi di Indonesia.
Meski begitu, sinergi berbagai instansi berhasil menekan laju kebakaran. Hingga akhir Oktober, tercatat ada 499 fire spot aktif dengan total area terdampak 1.947,18 hektare di seluruh Riau.
Kepala Pelaksana BPBDPK Provinsi Riau, M.Edy Afrizal mengatakan dalam memperkuat upaya darat, Satgas Udara BNPB menurunkan enam unit helikopter yang terdiri dari Heli Patroli dan Heli Water Bombing (WB).
Total terdapat 45 sorti patroli udara dan lebih dari 180 sorti water bombing yang dilakukan di berbagai titik panas.
Heli Bell 505 (PK-WSA) dan Bell 206 (PK-FBI) melakukan patroli di Inhu, Inhil, Rohil, Dumai, dan Siak.
Heli Sikorsky UH-60A (N260UH) dan Heli Mi-8AMT (RA-22729) melakukan 52 sorti water bombing di Kempas Jaya (Inhil), dengan total 859 kali pengeboman menggunakan 3,4 juta liter air.
Heli Kamov KA-32C (RA-31021) dan Heli UH-60A (N600CU) turut memperkuat operasi di Batang Gansal (Inhu), menjatuhkan lebih dari 5 juta liter air secara keseluruhan.
Kepala Pelaksana BPBD Riau menyebutkan bahwa cuaca kering yang masih bertahan serta angin kencang menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman.
"Kebakaran cepat menyebar di lahan gambut yang kering, sehingga kami terus siaga penuh di pos-pos rawan," ujarnya.
Upaya pengendalian karhutla di Riau melibatkan lintas sektor: BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, Damkar, PHR (Pertamina Hulu Rokan), serta masyarakat. Dukungan dari Satgas Udara memperkuat tim darat dalam memadamkan api di titik-titik sulit dijangkau.
Selain pemadaman, kegiatan pendinginan dan patroli udara rutin juga terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala. Sejumlah posko siaga darurat juga didirikan di daerah rawan, seperti Pelalawan, Siak, dan Bengkalis.
Meski situasi masih fluktuatif, pemerintah daerah optimistis mampu menekan laju kebakaran hingga akhir 2025. Langkah mitigasi terus diperkuat melalui edukasi masyarakat, patroli terpadu, dan peningkatan teknologi deteksi dini.
“Tujuan kami bukan hanya memadamkan api, tapi mencegahnya agar tidak muncul lagi,” tegas Kepala Pelaksana BPBD Riau.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena tindakan tersebut dapat memicu bencana besar dan berdampak luas terhadap lingkungan dan kesehatan.

