RIAU ONLINE, PEKANBARU - Sejumlah wilayah di Kota Pekanbaru, masih dihantui banjir. Kondisi ini membuat masyarakat diliputi rasa was-was saat hujan deras mengguyur, terutama di kawasan Rumbai, Payung Sekaki, dan Tenaya Raya.
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, tak menampik bahwa penanganan banjir saat ini memang belum maksimal.
Agung mengungkap salah satu langkah antisipasi yang menjadi andalan Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru, yakni memanfaatkan kembali infrastruktur bersejarah peninggalan era kolonial.
Pemko Pekanbaru telah membangun Parit Belanda di kawasan Rumbai sebagai upaya mengurangi dampak banjir.
"Adanya Parit Belanda ini untuk mengurangi dampak banjir," ungkapnya, Jumat, 16 Oktober 2025.
Parit Belanda adalah istilah yang merujuk pada saluran drainase atau kanal utama buatan peninggalan masa kolonial Belanda di Kota Pekanbaru, khususnya di kawasan Rumbai, yang kini direvitalisasi oleh Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru untuk mengatasi masalah banjir
Parit Belanda awalnya digunakan pada era kolonial Belanda dalam mengatur aliran Sungai Siak untuk melindungi permukiman warga.
Parit Belanda diperkirakan dibangun sekitar tahun 1861 pada masa Pemerintah Keresidenan Riau, menjadikannya salah satu infrastruktur tata air tertua di Pekanbaru.
Penyebutan "Parit Belanda" sebagai solusi di ibu kota Provinsi Riau pada 2025, memunculkan pertanyaan besar mengenai seberapa jauh Pemko Pekanbaru bergantung pada warisan tata air dari masa lalu.
Meski demikian, ia mengklaim ada sejumlah lokasi yang sudah menunjukkan perbaikan, terutama dalam kecepatan surut air.
"Sudah banyak yang dilakukan, sehingga banjir saat ini lebih cepat surutnya. Biasanya tiga jam, sekarang bisa surut setengah jam," ujarnya.

