RIAU ONLINE, KAMPAR - Di tepian Sungai Subayang, ketika kabut masih menggantung di antara pepohonan, kehidupan sudah dimulai lebih awal. Di sinilah, di Desa Gajah Bertalut, para perempuan memulai harinya dengan langkah sederhana, namun penuh makna menuju sungai. Bagi mereka, sungai bukan sekadar sumber air. Sungai adalah tempat berbagi kehidupan.
Setelah pekerjaan rumah selesai, sebagian perempuan ikut ke kebun karet. Mereka bersama suami menyadap, mengumpulkan getah atau pun membersihkan kebun karet. Peran perempuan Desa Gajah Bertalut tak hanya berhenti di dapur. Mereka juga sebagai penopang ekonomi keluarga, meski hasilnya sering kali hanya cukup untuk bertahan hidup.
Desa Gajah Bertalut masih bergulat dengan keterbatasan. Listrik belum stabil, sinyal telepon kadang hilang, dan akses jalan masih sulit ditempuh. Tapi di balik semua itu, ada keteguhan yang tumbuh dari perempuan-perempuan desa ini. Keteguhan untuk menjaga rumah, anak-anak, dan alam yang memberi mereka kehidupan.
Para perempuan tidak hanya menjaga dapur, tapi juga menjaga harmoni antara manusia dan alam. Mereka menjadi penjaga nilai adat, pewaris kearifan lokal, dan penggerak kecil dalam rantai kehidupan di hulu Kampar.

Nurjana, pengerajin anyaman rotan dan manau di Desa Gajah Bertalut, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar.
Dari Anyaman Hutan
Masih lekat dalam ingatan Nurjana (74) kala dirinya masih produktif dan masuk ke dalam hutan untuk mencari manau, tanaman sejenis rotan. Masyarakat adat mengenal manau sebagai hasil hutan bukan kayu yang penting dan sering diambil secara turun-temurun dari dalam hutan. Batangnya besar, kuat, lentur, dan bernilai ekonomi tinggi.
Bersama anak dan suaminya, Nur masuk ke dalam hutan mencari manau untuk bahan baku membuat anyaman.
"Daripada tidak ada kegiatan di rumah, ikut suami mencari manau ke hutan. Namanya ambuang (keranjang berbahan rotan dengan rangka manau). Saya mulai membuat ambuang tahun 1971," kenang Nur.
Saat ini Nur masih produktif membuat anyaman di rumahnya. Menurutnya, kegiatan tersebut seolah menjadi panggilan jiwa yang tidak mungkin bisa dihentikan. Nur tak menampik banyak orang yang berminat membeli hasil anyamannya. Mulai dari anyaman keranjang, anyaman karpet, dan berbagai jenis anyaman lainnya.
"Ada ambuang baubiang, ambuang apik, keranjang, lapiak (tikar)," jelasnya.
Nur hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk menyelesaikan anyaman. Orang yang berminat biasanya datang ke rumah Nur dan memesan anyaman. Bahkan pernah ada pesanan dari Kota Batam, Kepulauan Riau.
Namun kini dirinya mengaku sulit mendapatkan bahan baku rotan manau. Tubuh rentanya tak lagi tangguh masuk ke dalam hutan. Apalagi anak-anak juga melarang, namun juga tidak melanjutkan tradisi mencari dan menganyam manau.
"Sekarang sudah susah mencari manau. Tapi kalau ada bahan kita pasti tetap bikin. Kalau saat sehat badan saya pasti buat," kata Nur sambil menunjukkan anyaman ambuang berusia 20 tahun.
Sebagai perempuan Desa Gajah Bertalut, Nur hanya berharap masih bisa terus menciptakan kerajinan anyaman manau. Ia dan beberapa perempuan lainnya yang masih menganyam, ingin tradisi tersebut tidak lekang oleh zaman.
Hidup di Tengah Perubahan Iklim
Gemericik Sungai Subayang yang dulu menenangkan, kini terdengar berbeda. Alirannya lebih deras, terus menggerus tepian sungai. Pohon-pohon tumbang dengan akar mencuat, seperti berusaha bertahan dari tarikan air. Tak hanya kehilangan pepohonan, tetapi juga bagian dari kehidupan mereka yang selama ini bergantung pada sungai dan hutan yang kini nyaris tak lagi sama.
Reza, seorang ibu rumah tangga berusia 28 tahun mengingat saat dirinya melahirkan anak pertamanya yang kini berusia 2,5 tahun. Kondisinya yang harus menjalani operasi sesar di rumah sakit di Pekanbaru, sempat terhambat dengan alat transportasi yang minim.
Perjalanan selama hampir tiga jam menggunakan pighau, perahu dalam bahasa daerah itu sempat terhalang aliran sungai yang dangkal. Beberapa kali, pengemudi pighau harus turun dan mendorong sampannya karena air yang terlalu dangkal untuk bisa dilalui. Menurutnya, fasilitas kesehatan di desa masih belum memadai. Hanya ada bidan yang bertugas di Puskesmas Pembantu (Pustu).
"Pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan anak-anak belum memadai, kami kan cuma punya bidan ya, jadi itu saja," ujar Reza.
Reza dan para perempuan lainnya di desa merasakan cuaca teramat terik dalam dua tahun belakangan. Di saat yang sama, curah hujan juga kadang turun tidak teratur. Kondisi ini tentunya mengganggu aktivitas sehari-hari.
"Aktivitas kita terhambat, apalagi yang memotong karet," paparnya.
Sementara untuk kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan memasak, Reza mendapatkan aliran air dari anak sungai di atas bukit.
Air dialiri ke ujung kampung dengan fasilitas selang dari desa. Tersedia bak besar yang menampung air untuk kemudian dialiri sampai ke rumah warga. Warga tidak perlu membayar, hanya jika ada kerusakan mesti diperbaiki dan dijaga bersama.
"Keperluan air bersih sehari-hari cukup. Tapi sekarang kami sering kekeringan, musim kemarau ini sudah terasa selama dua bulan. Air kami sering putus putus. Hidup air satu jam," keluhnya.
Reza tidak begitu mengerti dengan kondisi perubahan cuaca. Namun ia mulai sadar, jumlah ikan di sungai tidak sebanyak dahulu. Ukuran ikan pun tidak banyak yang besar-besar.
"Jumlah ikan juga semakin sedikit. Kalau dulu masa kita kecil, ikan ukurannya besar-besar ya, sekarang sudah tidak lagi. Ini terasa sejak dua tiga tahun belakangan. Kami biasanya mengganti lauk ikan teri yang kita beli di pasar Terapung. Di sana kami membeli stok untuk dapur. Pasar itu ada setiap Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu," jelasnya.
Reza juga menyadari bahwa masyarakat yang tinggal di seberang desa mereka juga kesulitan air. Ada sekitar 15 rumah masyarakat di sana.
"Masyarakat di seberang desa kami malah lebih sulit air. Mereka harus mengambil air ke Sungai Subayang," ucapnya.

Kantor Desa Gajah Bertalut, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar.
Suara dari Hulu
Sekretaris Desa Gajah Bertalut, Suherman (38) menyebutkan bahwa hutan dan sungai menjadi salah satu sumber kehidupan mereka. Banyak masyarakat yang mengumpulkan hasil hutan, serta mencari ikan di sungai.
Suher menyadari bahwa masih ada masyarakat yang membuat kerajinan tangan. Membuat ambuang, tikar dari anyaman umbai (tanaman sejenis pandan yang hidup di dalam air) dan rotan manau. Dirinya punya harapan agar potensi yang ada di desa mereka terus digali dan dikembangkan.
"Kalau bisa pemerintah maupun pihak yang bisa membantu untuk memberikan pendampingan mengelola pariwisata desa kami," harapnya.
Ia bercerita, dulu sempat ada pembinaan, namun tidak berlanjut. Tidak sampai terbentuk pokja maupun pokdarwis.
"Kita juga ada yang dibina oleh WRI, AMAN dan pihak ketiga lainnya, seperti perempuan adat, perempuan tani. Dulu di sini juga ada berkebun cabai (2019-2020). Cuma untuk tanaman cabai daerah kita tanahnya masih tidak mendukung," paparnya.
Untuk hasil hutan, kata Suher, panennya masih murni untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat desa. Sementara untuk kayu, tiap tahunnya semakin jauh ke dalam untuk mencari, karena dari awal masyarakat mengambil kayu yang ada di bagian depan hutan.
Menurutnya, perlu adanya pengetatan aturan melalui Peraturan Desa (Perdes) agar masyarakat bisa memperhatikan dan peduli menjaga hutan. Tidak menebang pohon sembarangan.
"Kalau selama ini kan belum ada aturan itu. Kita sebetulnya juga ada program dari WRI yakni Pohon Asuh. Itu launching masa Gubri Syamsuar. Kita juga sudah dapat pohon sekitar 300 lebih jenis berbagai pohon yang ada di hutan," ulasnya.
Upaya Menjaga Hutan dan Sungai
Datuk Pucuk Kenegerian Gajah Bertalut, Badul Aziz (52) menyampaikan bahwa, rentang waktu dua tahun ini memang terasa lebih kering. Kondisi ini tentunya mengganggu aktivitas masyarakat. Ketika air dangkal, sampan perahu sulit bergerak.
"Sedangkan kita juga banyak memasok bahan makanan dari luar desa. Umpamanya kita bisa membawa sebanyak 500 kg bahan di saat air sungai normal, ketika air dangkal hanya bisa 200 kg muatan. Kita harus sering turun piyau untuk mendorong," ulasnya.
Aziz mengakui memang banyak perubahan pada kondisi sungai saat ini. Ketika hujan dengan intensitas sedang saja sudah bisa langsung banjir. Itu mereka rasakan setahun hingga dua tahun belakangan. Banjir dan kekeringan dengan siklus yang cepat. Air otomatis menjadi keruh.
"Itu disebabkan ada yang menebang pohon di tepi sungai. Ketika kita bisa menjaga sungai di desa kita, tetapi desa lain belum tentu. Nah, sungai kita kan sama alirannya," paparnya.
Sementara hutan, ada inisiatif dari masyarakat adat Gajah Bertalut dan Kenegerian terkait usulan pengakuan hutan adat, termasuk partisipasi dalam program Perhutanan Sosial.
Dokumen usulan hutan adat dari Kenegerian Gajah Bertalut diserahkan, sebagai bagian dari empat kenegerian di Kabupaten Kampar yang mengusulkan hutan adat.
"Kita juga sudah mengajukan untuk penetapan kawasan hutan adat ini sampai ke pusat. Namun sampai sekarang SK belum turun. SK dari Bupati sudah dapat diakui sebagai hutan ulayat," jelasnya.
Datum Pucuk menjelaskan bagaimana wilayah adat mereka terbagi atas fungsi dan aturan yang diwariskan turun-temurun.
"Kalau hutan ulayat itu ada bagian-bagiannya. Hutan ulayat di Gajah Bertalut ini seluas 4.414 hektar. Di situ ada bagian-bagiannya. Ada hutan pemanfaatan, ada hutan karet, ada hutan yang betul-betul dilindungi," ujarnya.
Pembagian kawasan ini sudah ditetapkan oleh leluhur mereka. Di mana, batas wilayah ditandai dengan "air yang berkecucuran dan tanah yang berketelengan". Ungkapan ini merujuk pada daerah cucuran air atau hulu-hulu sungai yang berada di puncak bukit sebagai batas alam wilayah kenegerian.
Tujuannya adalah agar masyarakat dapat memanfaatkan area perkebunan untuk menanam, memanen hasil hutan di kawasan pemanfaatan, serta menjaga kawasan inti hutan.
"Kalau untuk sanksi bagi masyarakat tempatan tidak ada. Jika ada yang menebang di kawasan yang dilarang maka akan dikenakan sanksi dari ninik mamak. Lagian juga memakan waktu satu hari jika mau masuk ke dalam hutan," sebutnya.
Masyarakat juga menetapkan wilayah tempat ikan-ikan berkembang biak menjadi lubuk larangan. Wilayah ini ditandai dengan tali yang melintang, sebagai tana tak ada yang boleh menangkap ikan di kawasan tersebut.
Setahun sekali, saat air mulai surut di musim kemarau, masyarakat akan mengadakan pesta rakyat untuk bersama-sama membuka lubuk larangan. Mereka menangkap ikan bersama, memasak ikan untuk dimakan bersama, serta dibagikan ke seluruh masyarakat desa secara adil.
Masyarakat Hukum Adat Gajah Bertalut Diakui
Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup telah melakukan identifikasi dan pengakuan terhadap beberapa Masyarakat Hukum Adat (MHA), termasuk Kenegerian Gajah Bertalut sebagai salah satu MHA yang mendapatkan pengakuan di Kabupaten Kampar.
Gubernur Abdul Wahid dalam beberapa kesempatan menyebut bahwa terdapat persoalan tumpang tindih antara pemanfaatan pembangunan (jalan, fasilitas umum, permukiman, dll.) dengan kawasan hutan (termasuk hutan lindung/perlindungan dan hutan produksi). Ia berharap ada dialog dan solusi dari Kementerian Kehutanan/KLHK agar kebijakan kehutanan dan pembangunan daerah bisa lebih sinkron.
Sebelumnya, masyarakat Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar komitmen memberikan dukungan kepada pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Riau Nomor Urut 1, Abdul Wahid-SF Hariyanto, setelah selama ini merasa dianaktirikan.
Seperti yang disampaikan oleh salah satu Tokoh Masyarakat Kampar Kiri Hulu, Jamri R, saat memberikan sambutan pada kampanye dialogis bersama Cawagub Riau SF Hariyanto, di Desa Gema, Kampar Kiri Hulu. Selama ini pemimpin Riau yang datang hanya menyampaikan janji, tapi janji tak pernah sampai ke masyarakat, Kampar Kiri Hulu.
"Di Kampar Kiri Hulu ini ada 24 desa, dimana masih banyak desa-desa arah ke Batu Sasak masih kondisi. Masyarakat Kampar Kiri Hulu sepakat memilih Gubernur Riau Nomor 1, tapi jangan anak tirikan Kampar Kiri Hulu. Karena calon-calon Gubernur sebelumnya juga datang dan berjanji namun setelah jadi tidak ada perubahan," ujar Jamri, Minggu 3 November 2024.
"Kami ingin perubahan, jika Pak SF Hariyanto terpilih jangan sampai hanya kampanye saja datang ke sini, tapi harapan kami bapak bisa datang lagi membawa perubahan untuk desa-desa di Kampar Kiri Hulu," tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Jamri juga meminta agar Paslon Gubernur Riau Nomor Urut 1 jika terpilih untuk memberi perhatian khusus ke Kampar Kiri Hulu, karena masih banyak desa-desa yang terisolir. Bahkan pada saat hujan air sungai yang berada di sepanjang desa meluap dan terjadi banjir.
"Kami juga mohon dibantu normalisasi sungai Subayang di Desa Gema yang mengalami pendangkalan. Atas kondisi itu sering terjadi banjir dan terjadi abrasi. Karena sungai Subayang salah aset desa untuk destinasi pariwisata. Kalau sungai rusak, maka pendapatan desa tidak bisa masuk," harap Jamri,
"Kemudian kami juga berharap, jika Allah mengabulkan niat bapak, bantu kami pembangunan jembatan gantung yang bisa dilewati mobil untuk menghubungkan Desa Gema dengan beberapa desa lainnya, Desa Pulau Pencong, Kota Lama, Sungai Sati, Desa Dua Sepakat, dan Desa Ludai," harapnya lagi.
Terkait usulan tersebut, calon Wakil Gubernur Riau Nomor 1, SF Hariyanto, menyatakan komitmennya memperhatikan infrastruktur di Kampar Kiri Hulu, khusus persoalan jalan Lipat Kain-Batu Sasak. Begitu juga dengan usulan normalisasi dan turap sungai Subayang, sebut Hariyanto, itu merupakan kewenangan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS).
"Ruas jalan dari Lipat Kain menuju Desa Batu Sasak itu zaman saya dulu waktu menjabat Kasi di Dinas PU dibuka. InsyaAllah itu nanti kita selesaikan. Terkait normalisasi, itu nanti kita dudukan dengan BWSS, sebab sungai itu kewenangan mereka, dan tidak ada masalah. Seperti abrasi di Indragiri Hulu dulu juga kita minta bantu BWSS langsung ditanggapi," sebutnya.
Kemudian untuk permintaan jembatan gantung, mantan Pj Gubernur Riau ini langsung menyatakan siap membantu masyarakat jika nanti terpilih. Sebab permintaan masyarakat tersebut hal yang wajar untuk membuka akses antar desa.
"Untuk jembatan gantung itu Insha Allah nanti akan saya bangun, saya janji. Itu sebagai oleh-oleh saya nanti untuk masyarakat Gema. Itu semua bisa diwujudkan kalau kami bersama Pak Abdul Wahid terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Riau. Karena itu kami mohon doa restu dan dukungan masyarakat Kampar Kiri Hulu nanti tanggal 27 November coblos calon Gubernur dan Wakil Gubernur Riau Nomor 1," kata SF Hariyanto.

