15 Tahun Pekanbaru Seperti ‘Kuali’, Ini Biang Kerok Banjir yang Tak Kunjung Usai

Banjir-Rendam-Puluhan-Rumah-di-Rumbai-Warga-Minta-Solusi-Pemerintah.jpg
Kondisi banjir di Rumbai, Kamis, 4 September 2025. (Rahmadi Dwi Putra/Riau Online)

RIAU ONLINE, PEKANBARU — Hujan deras yang mengguyur Kota Pekanbaru hampir sepanjang hari pada Minggu 13 Oktober 2025, menyebabkan sejumlah wilayah tergenang banjir.

Akibatnya, arus lalu lintas di beberapa ruas jalan protokol sempat macet parah karena air meluap ke badan jalan.

Beberapa titik yang terdampak banjir antara lain Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Tuanku Tambusai, dan Jalan Arifin Ahmad. Genangan air di lokasi tersebut membuat pengendara kesulitan melintas dan menimbulkan antrean panjang kendaraan.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, mengatakan salah satu penyebab utama banjir adalah banyaknya saluran drainase yang tidak berfungsi dengan baik akibat tersumbat atau tertutup bangunan.

“Banjir ini bukan baru tahun ini terjadi, tapi sudah hampir 15 tahun. Penyebabnya karena banyak bangunan berdiri di atas drainase, ada juga drainase yang tertutup dan penuh sedimen. Akibatnya, jalur air tersumbat dan tidak bisa mengalir lancar,” ujar Agung, Senin 13 Oktober 2025.

Ia menyebut Pemerintah Kota Pekanbaru kini fokus untuk melakukan langkah-langkah konkret dalam penanganan banjir. Ia mengibaratkan kondisi kota saat ini seperti “kuali besar” yang harus memiliki saluran air menuju muara agar tidak tergenang setiap kali hujan turun.


“Hampir seluruh drainase di Pekanbaru tidak berfungsi baik. Tapi kami terus melakukan upaya penanganan, dan hasilnya mulai terlihat. Tahun ini, titik banjir memang belum hilang sepenuhnya, tapi air lebih cepat surut dibanding sebelumnya,” jelasnya.

Agung menilai, sistem pengendalian banjir yang digunakan selama ini sudah tidak relevan lagi. Oleh karena itu, Pemko Pekanbaru akan memperbarui masterplan pengendalian banjir agar lebih sesuai dengan kondisi saat ini.

Salah satu langkah baru yang akan diterapkan adalah penggunaan sistem biopori untuk membantu penyerapan air. Dalam upaya tersebut, Pemko Pekanbaru bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang lebih dulu menerapkan sistem tersebut.

“Tahun depan kami akan menerapkan sistem biopori sebagai bagian dari program pengendalian banjir. Kami sudah menjalin kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk hal ini,” ujar Agung.

Meski begitu, ia mengakui intensitas hujan yang tinggi pada Minggu kemarin menjadi salah satu faktor yang memperparah genangan air.

“Hujan kemarin memang sangat deras dari pagi sampai malam. Kami prihatin dengan kondisi ini, dan saya akan turun langsung ke lapangan bersama BPBD serta Dinas Sosial untuk meninjau kondisi warga terdampak,” pungkasnya.