Hutan dan Sungai Tempat Masyarakat Malako Kociak Menggantungkan Asa

Sungai-Subayang22.jpg
Sungai Subayang, Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar. (Foto: Anggun Rosita Alifah/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Masyarakat Adat Kenegerian Malako Kociak yang tinggal di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar masih sangat terikat dengan hutan dan sungai yang mengelilingi kampung mereka.

Tinggal di jantung kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, menjadikan hutan dan sungai  bukan hanya sekadar bentang alam bagi Masyarakat Adat Kenegerian Malako Kociak. Namun, menjadi tempat menggantungkan harapan dan rezeki.

Perubahan kondisi alam dan cuaca akibat perubahan iklim, menjadi tantangan bagi kondisi ekonomi masyarakat yang tinggal di kawasan ini, termasuk bagi Masyarakat Adat Malako Kociak.

Ajismanto, tetua adat berusia 56 tahun mengeluhkan banjir yang semakin sering terjadi di wilayahnya, terutama saat musim hujan tiba.

“Kalau dibandingkan tentu ada perubahan dari yang dulu. Dulu itu kalau musim hujan, ya banjirnya biasa saja. Tapi sekarang, banjirnya sering dan air cepat naik,” ujarnya lirih.

Saat berbincang dengan Nuskan, Jurnalis Masyarakat Adat (JMA), Ajismanto mengungkapkan bahwa kampungnya juga diterjang banjir yang cukup besar pada awal tahun.

“Subayang ini sering banjir, namun yang cukup besar itu waktu bulan Januari. Air sampai ke bawah rumah. Dulu jarang seperti itu,” ungkapnya.

Bagi Ajismanto, banjir bukan hanya jumlah debit air hujan yang turun,  tapi juga isyarat bahwa ada yang berubah di hulu sungai, di hutan yang dulu rimbun, kini mulai jarang.

Hal senada juga diungkapkan oleh Andrianto, pengurus adat berusia 61 tahun. Menurutnya, tutupan hutan yang mulai berkurang berpengaruh pada perubahan cuaca di wilayahnya.

“Perubahan cuaca itu pasti berubah karena kawasan hutan banyak yang berkurang. Kalau dulu air sungai itu jernih, sekarang sering keruh kalau hujan,” keluhnya.

Menurut Andrianto, Sungai Subayang yang telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat adat di desanya kini lebih cepat meluap dan mengakibatkan banjir, jika dibandingkan dengan masa lalu.

“Subayang ini sering banjir jika hujan lebih dari dua hari. Banjir di bulan Januari itu cukup merendam daerah dataran rendah,” kenangnya.

Hutan, Sawit, dan Pilihan Hidup


Sebagian besar warga di Malako Kociak menggantungkan hidup dari hasil bumi. Sawit dan karet menjadi tulang punggung ekonomi, meski tak sedikit yang masih memanfaatkan hasil hutan.

Nasrun, salah seorang warga di Desa Tanjung Beringin berusia 40 tahun yang berprofesi sebagai petani mengaki kini jarang berkebun sendiri. 

“Ada punya orang tua, nggak lebar dan itu juga baru mulai baru berumur sekitar setahunan inilah.”

Sadar tinggal di kawasan konservasi, Masyarakat Adat Kenegerian Malako Kociak tetap mempertahankan tutupan hutan alami di wilayahnya. Meski harus memenuhi kebutuhan hidup, Nasrun hanya memanfaatkan kebun karet lama milik yang kini dialihkan ke tanaman sawit.

“Kalau hutan alam kami masih jaga dan tidak kami rusak dan tidak pernah lagi berladang. Sekarang kami buat sawit ini juga bukan nebang hutan melainkan kebun karet lama yang kami olah,” jelasnya.

ladang padi masyarakat3Ladang padi Masyarakat di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar. (Foto: Nuskan Syarif, JMA)

Senada dengan Nasrun, Sarianum, seorang Ibu Rumah Tangga berusia 48 tahun juga mengungkapkan kondisi masyarakat yang masih bergantung dengan kebun karet tua. Bagi Sarianum, hasil karet dan sawit menjadi tumpuan harian. 

“Motong/nakik itulah, seminggu kadang dapatlah sekitar 100 kg namun kadang nggak juga. Kalau karet ini, hujan nggak nakik, kalau panas baru kami nakik,” ujarnya.

Harga getah karet mentah yang tidak stabil dan cenderung terus menurun, menjadi tantangan bagi petani karet seperti Sarianum dan suaminya. Bahkan, saat hujan turun, dirinya juga tak bisa memanen getah karet dengan cara menakik.

“Kendalanya ya itu kala hujan aja. Namun harga karet ini tidak pernah stabil. Kemarin sempat menyentuh sepuluh ribu per kilogram, namun sekarang dah turun pulan menjadi delapan ribu per kilogram,” terangnya.

Pemuda dan Jejak Hutan yang Hilang

Lahir dan tumbuh besar di dalam kawasan hutan, tidak membuat generasi muda di Kenegerian Malako Kociak dekat dengan hutan. Hutan bukan lagi menjadi tempat seluas kisah para tetua. 

Menurut Ahmad Fauzi, pemuda berusia 20 tahun, dirinya kini sudah jarang berkegiatan di hutan. Pasalnya, kawasan hutan yang dekat dengan kawasan permukiman kini telah banyak beralih fungsi menjadi perkebunan.

“Sekarang sudah tidak ada bang, beberapa tahun ini sudah tidak masuk hutan lagi,” ungkap Fauzi.

Alih fungsi lahan ini, menurutnya, membuat jarak dari permukiman ke kawasan hutan menjadi lebih jauh. Sehingga tidak lagi banyak anak muda yang mengambil rotan dan getah damar di dalam hutan.

“Lihat saja, sampai sekarang hutannya masih lestari dan berdiri. Walau masyarakat menggantikan karet dengan sawit, namun hutan atau imbo gano tidak diganggu gugat. Walau masyarakat bebalak (menebang pohon) namun tidak menjadikan hutan gundul seperti di hilir sana,” kata Fauzi.

Harapan yang Bertahan

Meski hutan kian menipis dan cuaca tak lagi bisa ditebak, masyarakat adat Kenegerian Malako Kociak masih bertahan dengan kearifan yang telah diwariskan turun-temurun. Menjaga alam, berarti menjaga kehidupan.
“Kalau hutan rusak, sungai ini akan mati. Kalau sungai mati, kami juga susah. Jadi kami berusaha jangan sampai itu terjadi,” tutur Ajismanto.

Bagi Masyarakat Adat Kenegerian Malako Kociak, hutan bukan hanya sekadar bentang alam. Hutan adalah napas, sumber rezeki, sumber air, dan sumber kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Dulu hutan ini menjadi sumber perekonomian kami kedua setelah berladang dan karet, kami di hutan mengambil rotan manau, rotan kecil yang digunakan untuk membuat keranjang, ambuang dan lain lain,” kata Ajismanto.