Dari Belanda, Cucu Tentara Tawanan Jepang Lihat Jejak Kakeknya Bangun Rel Kereta Api

Cucu-Tentara-Tawanan-Jepang-di-Pekanbaru.jpg
Cucu Tentara Tawanan Jepang di Pekanbaru (Istimewa)

Penulis: Osvian Putra

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Minggu, 31 Agustus 2025, langit Pekanbaru tampak cerah. Terik matahari khatulistiwa seakan mengulang suasana delapan dekade silam, ketika para romusha dan tawanan perang dipaksa Militer Jepang bekerja membangun jalur kereta api dari Pakan Baroe menuju Muaro.

Meski panas matahari terasa menyengat, semangat anak dan cucu Opa Josephus Paulus van Driessche, seorang tawanan perang Belanda yang ikut membangun jalur maut kereta api Pekanbaru–Muaro, tak pernah surut. 

Mereka menelusuri jejak sejarah sang kakek dengan antusias, menyaksikan sisa-sisa peninggalan yang menjadi saksi bisu kekejaman masa pendudukan Jepang di Bumi Lancang Kuning.

Perjalanan dimulai dari Jalan Ahmad Yani, dahulu bernama Jalan Bangkinang. Kawasan ini tercatat sebagai salah satu jalan tertua di Pekanbaru, selain Jalan Senapelan dan Jalan Saleh Abbas. 

Cucu Tentara Tawanan Jepang di Pekanbaru3Anak dan cucu tawanan perang Jepang dari Belanda napak tilas di Pekanbaru (Foto: Istimewa)


Tepat di depan pusat perbelanjaan Pasar Kodim, masih berdiri tiga bangunan tua yang kini berfungsi sebagai kantor militer, cafe, dan sebuah gedung tak bertuan. Pada masa sebelum Perang Dunia II, bangunan itu adalah perkantoran Koninklijke Petroleum Maatschappij (Perusahaan Minyak Belanda). Keberadaan industri minyak dan jalur pelayaran Koninklijke Paketvaart Maatschappij (Perusahaan Perkapalan Belanda) yang menghubungkan Pekanbaru–Bengkalis–Singapura, membuat pelabuhan Pekanbaru semakin ramai. 

Tak jauh dari sana, mereka berhenti di depan rumah dinas Wali Kota. Gedung yang kini ditempati RRI ini, pada masa pendudukan Jepang, dijadikan kediaman Kapten Miyazaki, pimpinan militer Jepang di Pekanbaru yang mengawasi proyek kereta api Pakan Baroe–Muaro. Di belakang gedung, yang kini berdiri menara telekomunikasi, dahulu terdapat makam para romusha dan tawanan perang yang gugur sepanjang proyek berlangsung, Mei 1944–Agustus 1945.

Cucu Tentara Tawanan Jepang di Pekanbaru2Anak dan cucu tawanan perang Jepang dari Belanda napak tilas di Pekanbaru (Foto: Istimewa)

Perjalanan berlanjut ke Jalan Juanda. Di sana masih terlihat sisa besi rel yang membentang di atas sungai kecil, menjadi bukti nyata keberadaan jalur kereta api di Pekanbaru. Hal serupa ditemukan di samping kantor Telkom, simpang Jalan Hang Tuah menuju Masjid An Nur, berupa 12 tiang pagar yang dahulu menjadi bagian infrastruktur rel.

Mereka kemudian menuju halaman Gereja HKBP. Pada masa perang, tempat ini pernah menjadi lokasi pemakaman tentara Belanda. Usai perang, jenazah mereka dipindahkan ke Jakarta dan Cimahi, Jawa Barat.

Dari sana, perjalanan diteruskan ke Jalan Lokomotif. Nama jalan, kompleks perumahan, hingga pekuburan di kawasan itu menjadi jejak nyata sejarah perkeretaapian. Sisa besi jembatan rel di atas sungai kecil di kawasan itu masih tegak hingga kini.

Menjelang siang, mereka menyusuri Jalan Indra Pahlawan, Jalan Semeru, Jalan Beringin, hingga berhenti di Jalan Kopan. Lokasi yang dulu menjadi workshop proyek kereta api, kini difungsikan sebagai kantor Satpol PP Provinsi Riau. Dari sana, perjalanan berlanjut ke Jalan Jenderal Sudirman, untuk melihat bekas Kamp II, tak jauh dari Hotel Pangeran. 

Bagi mereka, perjalanan ini bukan sekadar napak tilas sejarah. Di setiap bekas jejak rel, di setiap tiang jembatan, dan di setiap sisa bangunan, mereka tak hanya menemukan peninggalan sejarah, tetapi juga sepotong kisah perjuangan dan pengorbanan sang kakek.