RIAU ONLINE, PEKANBARU - Tahukah kamu? Dahulu, Riau pernah dilintasi rel kereta api sepanjang 500 km yang membentang dari Kota Pekanbaru menuju Logas, hingga Lubuk Jambi. Bahkan konon, terhubung dengan jalur kereta api di Sumatera Barat (Sumbar).
Jalur kereta api tersebut awalnya dirintis Belanda, lalu dilanjutkan Jepang. Bukan sekedar warisan kemajuan transportasi, proyek ambisius ini dibangun di atas penderitaan rakyat Indonesia.
Di tangan Jepang, proyek ini dikebut dengan menggerakan tenaga dari Jawa. Mereka dipaksa bekerja secara Romusha, di ujung senjata tentara Jepang.
Surat Kabar Langka Salemba yang dikutip dari Perpustakaan Nasional RI, Rabu, 30 Juli 2025, menyebut mereka dipaksa membanting tulang membuat jalan yang panjangnya sekitar 500 km.
Makanan seadanya tak mampu menutup kebutuhan energi untuk memecah batu, menggali tanah, dan membangun rel. Kekerasan menjadi makanan sehari-hari, mulai dari teriakan, tamparan, hingga tendangan tentara Jepang. Tak sedikit yang jatuh sakit dan mati di tengah jalur yang mereka bangun.
Para Romusha itu diangkut menggunakan gerbong-gerbong tertutup rapat. Tanpa jendela, sulit mendapat ruang untuk bernapas.
Entah dibawa kemana. Hanya ada suara teriakan yang terdengar dalam gerbong yang pengap. Teriakannya melengking, menyayat hati, beriringan dengan suara lokomotif dan bunyi keretak dari gerbong-gerbong kereta api.
Suara-suara itu membekas sampai bertahun-tahun setelah perang usai. Penduduk setempat menyebutnya Kereta Api Hantu, yang tiap malam membangunkan penduduk sekitar Logas.
Tidak ada kereta nyata yang benar-benar lewat, tapi rintihannya kian terasa, seolah luka sejarah yang menolak sembuh begitu saja.
Setelah kemerdekaan, jalur itu tak lagi digunakan. Rel-rel yang membentang mulai lenyap. Hilang satu per satu. Sebagian besar diambil regu balak, sebutan bagi peneban kayu liar yang memanfaatkannya sebagai besi tua.
Rel-rel kereta api itu kemudian diambil alih secara resmi oleh Dinas Kehutanan. Di era 1970-an, lok-lok kereta api dan gerbong-gerbong tua yang tidak tersentuh masih bisa ditemukan di daerah Logas, Riau.
Sayangnya, tak banyak yang bisa diselamatkan, karena biaya pengangkutannya lebih mahal daripada nilai jualnya sebagai besi tua. Alhasil, bangkai-bangkai kereta itu dibiarkan membusuk di tengah hutan.
Kini, jejak fisik jalur kereta Pekanbaru–Logas nyaris lenyap. Tapi, sejarah tak sepenuhnya mati. Ia hidup dalam cerita-cerita warga, dalam mitos tentang jeritan Romusha, dan dalam sepotong sunyi yang menggantung di antara rel-rel yang sudah tiada.

