Empat Kecelakaan Besar Terjadi di Pelalawan Selama Dua Pekan

Kondisi-pikap-Gran-Max-usai-nabrak.jpg
Kondisi pick up Gran Max usai menabrak truk Hino di Jalan Lintas Timur (Jalintim), Rabu 9 Juli 2025. (Dok. Lantas Pelalawan)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Deretan kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) terjadi di Kabupaten Pelalawan, Riau, meskipun Operasi Patuh LK 2025 tengah berlangsung. Ironisnya, terjadi peningkatan kasus kecelakaan sepanjang Juli ini, terutama di ruas Jalan Lintas Timur (Jalintim).

Dari data yang berhasil dihimpun, sedikitnya empat kecelakaan besar terjadi dalam dua pekan terakhir, sebagian besar melibatkan kendaraan besar seperti truk dan minibus. 

Kondisi ini memicu keresahan warga dan mempertanyakan efektivitas operasi kepolisian yang semestinya bertujuan meningkatkan keselamatan berkendara.

Kecelakaan pertama tercatat pada 1 Juli 2025, ketika sebuah truk bermuatan berat terguling di Jalintim, Kecamatan Bandar Sei Kijang. Peristiwa tersebut menyebabkan kemacetan sepanjang 2 kilometer dan mengganggu aktivitas warga selama berjam-jam.

Tak berselang lama, 4 Juli 2025, sebuah sepeda motor menabrak bagian belakang truk yang sedang parkir di bahu jalan, tepatnya di Desa Payo Atap, Kecamatan Pangkalan Lesung. Pengendara mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Lebih tragis lagi, Selasa, 8 Juli 2025, kecelakaan maut terjadi di depan SD Payo Atap, Pangkalan Lesung. Sebuah mobil Grand Max pick-up bertabrakan dengan truk Hino di pagi hari. Menurut saksi mata, sopir pick-up tewas di tempat.

"Kami dengar suara benturan keras, pas kami lari keluar, sopir sudah tidak bergerak lagi,” ujar Andi (38), warga sekitar.


Selanjutnya, Selasa, 15 Juli 2025, insiden kembali terjadi di KM 40 Jalintim, wilayah Pangkalan Lesung. 

Sebuah minibus menghantam bagian belakang truk tronton. Belum ada laporan resmi soal korban, namun kendaraan mengalami kerusakan parah dan lalu lintas kembali terganggu selama beberapa jam.

Maraknya kecelakaan ini menimbulkan pertanyaan tajam dari masyarakat terkait peran aparat kepolisian dalam menjaga keselamatan lalu lintas. 

Banyak yang menilai bahwa sosialisasi mengenai keselamatan berkendara masih sangat minim, terutama kepada pengemudi truk dan kendaraan berat yang seringkali parkir sembarangan di tepi jalan.

"Setiap hari kita lihat truk-truk parkir tanpa lampu hazard, tanpa rambu peringatan. Ini bahaya, apalagi malam hari. Polisi harusnya tindak tegas,” ungkap Rini, warga Kecamatan Pangkalan Lesung.

Selanjutnya, pengendara motor, Indra Syahputra, juga menyoroti lemahnya pengawasan dan ketegasan aparat kepolisian.

"Operasi Patuh seharusnya bukan sekadar rutinitas, tapi memberikan efek jera. Kalau sosialisasi kurang dan penindakan lemah, ya kecelakaan makin banyak," jelas Indra.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi terkait maraknya lakalantas di wilayah hukumnya, Kasatlantas Polres Pelalawan, AKP Enggarani Laufria, belum memberikan tanggapan resmi. 

Ketiadaan keterangan dari pihak berwenang ini membuat publik makin mempertanyakan transparansi dan keseriusan dalam menangani persoalan keselamatan lalu lintas di Pelalawan, terlebih saat operasi berskala nasional tengah berlangsung.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari Satlantas Polres Pelalawan mengenai langkah konkret untuk menekan angka kecelakaan di Jalintim yang kini disebut-sebut sebagai salah satu titik merah rawan lakalantas di Riau.