PT BKM Bendung Saluran Primer Saat Petani di Siak Mengeluh Kekeringan

PT-BKM-Bendung-Saluran-Primer-Saat-Petani-di-Siak-Mengeluh-Kekeringan.jpg
Bupati Siak, Afni Zulkifli meninjau kondisi sumber air utama petani di Kecamatan Bungaraya, Selasa, 15 Juli 2025. (Hendra Dedafta/Riau Online)

RIAU ONLINE, SIAK – Bupati Siak, Afni Zulkifli, menemukan adanya tindakan pembendungan saluran primer oleh PT Balai Kayang Mandiri (BKM) saat meninjau kondisi sumber air utama petani di Kecamatan Bungaraya, Selasa, 15 Juli 2025.

Penemuan ini terjadi di tengah keluhan petani Bungaraya yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau berkepanjangan.

Temuan tersebut didapat saat Bupati Afni Z turun langsung ke lokasi saluran primer yang mengalir dari kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, salah satu sumber air penting bagi pertanian di Bungaraya.

“Petani selalu mengeluh kekeringan ketika musim kemarau. Setelah kita cek langsung ke lapangan, ternyata saluran primer yang bersebelahan dengan PT BKM dibendung oleh perusahaan, dikasih celah hanya sekitar 1 meter. Akibatnya, air ke Bungaraya tidak mengalir normal,” ujar Bupati Afni Z, Senin 14 Juli 2025.

Menurut keterangan yang diterimanya di lapangan, pihak PT BKM mengaku membendung saluran primer tersebut untuk membuat akses jalan masuk ke area perusahaan. Namun Bupati menilai hal tersebut tidak dapat dibenarkan, apalagi jika berdampak langsung pada kebutuhan dasar petani.


Bupati Afni Z juga mengaku terkejut saat melihat kondisi saluran air milik perusahaan sepanjang 7 kilometer terisi penuh air terdapat aktifitas muat kayu akasia, sementara saluran primer yang menuju ke lahan pertanian masyarakat Bungaraya justru hampir kering, padahal jaraknya hanya sekitar 500 meter.

“Air di kanal perusahaan penuh, tapi saluran primer untuk masyarakat kering kerontang, tidak sampai air ke Bungaraya. Ini sangat tidak adil dan perlu ditindaklanjuti,” tambahnya. 

Sementara, Water Manajemen PT BKM, Hendrik, di lokasi kepada Bupati Afni Z, mengaku bahwa bendungan tersebut dibuat untuk jalan masuk ke kawasan perusahaan. Sedangkan saluran air perusahaan terisi penuh untuk membasahi gambut dan antisipasi karhutla. 

Namun hal itu dibantah oleh Bupati Afni, menurutnya jika hanya untuk jalan masuk tidak harus membendung saluran primer, bisa dengan membuat jembatan. 

"Kalau untuk membasahi gambut dan antisipasi karhutla tidak sebanyak itu. Jangan-jangan air di kanal perusahaan untuk mengeluarkan hasil panen akasia," Katanya. 

"Air yang digunakan oleh perusahaan itu air dari alam, ada hak yang sama untuk masyarakat, seharusnya penggunaanya berimbang, berbagi rata dengan masyarakat," Imbuhnya. 

Pemkab Siak berencana segera menindaklanjuti temuan ini dengan memanggil manajemen PT BKM untuk dimintai klarifikasi, serta mencari solusi agar aliran air ke lahan pertanian masyarakat Bungaraya kembali normal. 

Pemerintah juga akan memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang, apalagi di tengah upaya menjaga ketahanan pangan daerah di musim kemarau.