Mendagri Minta Kepala Daerah Tak Sembarangan Bikin Kebijakan

Bukan-Militerisme-Mendagri-Retret-Kepala-Daerah-Belajar-Soal-Akmil.jpg
(ANTARA/Heru Suyitno)

RIAU ONLINE - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian ingatkan para kepala daerah untuk tidak sembarangan dalam membuat kebijakan. Hal ini disampaikan Tito di Kompleks Akmil Magelang, Senin, 24 Februari 2025.

Tito menekankan ucapannya kepada kepala daerah yang baru menjabat. Pasalnya, dari 493 kepala daerah yang mengikuti retreat, tiga perempat dari mereka baru pertama kali menjabat.

"Poin penting saya adalah ada 3/4 itu adalah wajah baru," kata Tito, dikutip dari KUMPARAN, Selasa, 25 Februari 2025.

"Nah, kalau yang 1/4 tadi, mereka sudah ngalamin selama 5 tahun, atau pada waktu jadi bupati 10 tahun, jadi gubernur," ujarnya.

Peringatan yang disampaikan Tito kepada kepala daerah yang mengikuti retret ini menjadi salah satu poin penting dalam arahannya.


"Agar setiap pengambilan kebijakan oleh kepala daerah itu sekali lagi berbasis data, supaya kebijakannya akurat. Tadi, diambil beberapa sampel-sampel," kata Tito.

"Itulah kira-kira pelajaran yang bisa dipetik pada malam ini oleh teman-teman baik yang sudah menjadi kepala daerah, apalagi yang belum. Mereka harus dilengkapi dengan itu. Kalau enggak nanti dibuat kebijakan sembarangan," imbuhnya.

Sementara itu, untuk kepala daerah yang sudah pernah menjabat, Tito kembali mengingatkan pengelolaan daerah masing-masing harus membuat kebijakan berbasis data.

"Bukan berbasis feeling. Oleh karena itulah malam ini kita undang ekonom, Menteri Perekonomian untuk menjelaskan ekonomi Indonesia," katanya.

Harapannya, kepala daerah tahu langkah-langkah yang harus dikerjakan dalam rangka mengendalikan inflasi, mengejar pertumbuhan ekonomi daerah masing-masing.

"Karena semuanya variasi. Ada yang tinggi, ada yang rendah, di mana saja di daerah menjadi kawasan ekonomi khusus, kemudian ditunjukkan juga peta-peta tadi, target-target nasional. Yang perlu dengan data itu," tutur Tito.

Dengan data maka setiap daerah mengerti masalah mulai dari masalah ekonomi, kemiskinan atau pengangguran. 

"Nah, bisa membandingkan dengan daerah-daerah lain. Dan kemudian biar terpacu dan memiliki bekal. Yang data BPS Dr. Amalia tadi, itu menjelaskan tadi mengenai data semua itu,” kata Tito.

“Data daerah-daerah itu tiap-tiap daerah, ya. penduduk yang tadi penduduk miskin, penduduk miskin ekstrem, pengangguran, kemudian masalah ekonomi, masalah data, sosial, itu semua disebut ya oleh beliau," pungkasnya.