(Istimewa)
Senin, 24 Maret 2025 08:58 WIB
Editor: Anggun Rosita Alifah
(Istimewa)
Oleh: Dr. H. Erman Gani, MA, Dosen UIN Suska Riau/Sekum MUI Kota Pekanbaru
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pelantikan serentak kepala daerah oleh Presiden Prabowo Subianto untuk masa jabatan 2025–2030 menjadi momentum bersejarah dalam sistem pemerintahan Indonesia. Para pemimpin yang telah kembali ke daerah masing-masing kini dihadapkan pada tugas besar: membuktikan bahwa amanah yang mereka emban bukan sekadar kekuasaan, melainkan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan keadilan dan integritas.
Menariknya, tugas perdana mereka dimulai di awal Ramadhan—bulan yang dipenuhi keberkahan, rahmat, dan pengampunan. Momen ini bukan sekadar kebetulan, melainkan pengingat bahwa kepemimpinan sejati harus dilandasi nilai-nilai ketulusan, keadilan, dan kepedulian terhadap rakyat.
Pemimpin sebagai Wali bagi Rakyatnya
Dalam khazanah Islam, kepemimpinan memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar posisi strategis. Imam al-Suyuthi dalam al-Asybah wa al-Nazhair menyatakan bahwa kedudukan seorang pemimpin atas rakyatnya serupa dengan wali terhadap anak yatim. Artinya, seorang pemimpin bukan hanya administrator, melainkan pelindung, pengayom, dan penjaga hak-hak rakyatnya.
Baca Juga
Al-Qur’an secara eksplisit menekankan pentingnya keadilan dalam mengelola amanah, sebagaimana dalam QS. An-Nisa [4]: 2, yang melarang wali mengambil hak anak yatim dan menegaskan bahwa harta tersebut harus dikembalikan ketika mereka dewasa. Analogi ini menegaskan bahwa kepala daerah wajib menjaga, mengelola, dan menyalurkan kekayaan negara untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi.
Lebih dari itu, ancaman bagi mereka yang menyalahgunakan amanah juga ditegaskan dalam QS. An-Nisa [4]: 10, yang menyebutkan bahwa orang yang memakan harta anak yatim secara zalim seakan-akan menelan api neraka. Ayat ini menjadi peringatan keras bagi pemimpin yang menyimpang, menegaskan bahwa korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga dosa besar yang akan mendapatkan balasan setimpal di akhirat.
Membawa Kepemimpinan ke Ranah Spiritual
Kepemimpinan yang ideal bukan hanya tentang kebijakan dan pembangunan fisik, tetapi juga tentang bagaimana seorang pemimpin menempatkan dirinya di hadapan rakyat dan di hadapan Tuhan. Sebagai kepala daerah, mereka harus memahami bahwa jabatan ini bukan hak, melainkan titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Masyarakat kini menanti, apakah para pemimpin yang baru dilantik akan benar-benar menjalankan tugasnya sebagai wali bagi rakyatnya? Apakah mereka akan tetap teguh menjaga amanah atau tergoda untuk menyelewengkan kekuasaan?
Di awal perjalanan kepemimpinan ini, semoga mereka selalu ingat bahwa kekuasaan adalah ujian, dan sejarah hanya mencatat dengan tinta emas mereka yang memimpin dengan keadilan dan ketulusan.