Dari Media Sosial ke Jalanan

Oleh-Ilham-Muhammad-Yasir-Redaktur-Eksekutif-Riau-Online.jpg
(Istimewa)

Oleh Ilham Muhammad Yasir, Redaktur Eksekutif RiauOnline

RIAU ONLINE, PEKANBARU - GERAKAN masyarakat sipil yang akhir-akhir ini muncul begitu spontan. Gerakannya tidak terorganisir atau diarahkan oleh pihak mana pun. Ini adalah gelombang murni dari suara rakyat.

Meskipun baru empat bulan menjabat, pemerintahan Prabowo masih mempertahankan warisan kebijakan era Mulyono. Tak ada tanda-tanda bahwa ia berpihak pada rakyat, meski sebelumnya menjanjikan perubahan. Akhirnya, masyarakat menyadari bahwa drama politik ini hanya ulangan dari satu dekade terakhir.

Pergerakan #IndonesiaGelap bukanlah sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Sebelum mahasiswa turun ke jalan, media sosial lebih dulu menjadi wadah aspirasi rakyat. Ribuan opini dan keluhan yang dilontarkan akhirnya menggema hingga ke media mainstream, menandakan bahwa keresahan ini tidak bisa lagi dibungkam.

Aksi ini lebih dari sekadar protes terhadap Prabowo. Ini adalah protes terhadap sistem yang sudah terlalu lama diam terhadap penderitaan rakyat. Banyak tokoh yang tidak lagi bisa berdiam diri, mengecam kebijakan yang semakin menjauh dari kepentingan rakyat.


Buzzer yang dulu agresif dalam menyerang para pengkritik kini mulai redup. Fenomena ini terjadi seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat sipil yang mulai aktif dalam membangun narasi perlawanan sendiri. Media mainstream yang sebelumnya enggan mengangkat isu kritis kini mulai memberi ruang lebih besar untuk suara masyarakat.

Selain di dunia maya, aksi ini juga menggema di berbagai sektor. Isu penggusuran dan kriminalisasi aktivis semakin sering terjadi. Kasus Rempang di tulisan sebelumnya adalah contoh nyata bagaimana negara lebih memilih kepentingan investasi dibanding hak rakyat. Kasus kriminalisasi warga oleh aparat menunjukkan bahwa demokrasi kita masih memiliki luka lama yang terus terbuka.

Gerakan ini bukan sekadar protes, tetapi penegasan bahwa demokrasi harus tetap hidup. Kebangkitan masyarakat sipil adalah pertanda bahwa suara rakyat tidak bisa lagi dibungkam. Pemerintah tentu harus menyadari bahwa ini bukan sekadar gejolak sesaat. Selama ketidakadilan terus terjadi, suara-suara ini akan terus bergema, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Sesungguhnya, demokrasi yang sehat justru tercermin dari keberanian rakyat berbicara tanpa takut akan intimidasi.

Peristiwa ini menandai semakin luasnya literasi politik masyarakat. Kini, rakyat semakin memahami bagaimana sistem bekerja dan bagaimana mereka dapat menekan kebijakan yang tidak adil. Dengan meningkatnya kesadaran ini, aksi-aksi ke depan tidak lagi hanya sebatas protes, tetapi strategi untuk mengubah kebijakan secara nyata.

Perlawanan di dunia digital dan fisik kini saling terhubung, menciptakan ruang-ruang baru bagi aktivisme. Kolaborasi antar kelompok sipil semakin erat, memungkinkan penyebaran informasi dan mobilisasi massa yang lebih cepat dan efektif. Ini adalah tanda bahwa demokrasi partisipatif benar-benar mulai hidup kembali.

Ke depan, gerakan ini tidak hanya harus bertahan, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan yang dapat menawarkan solusi. Jika rakyat dapat memanfaatkan momentum ini dengan baik, maka perubahan bukan lagi sekadar harapan, melainkan sesuatu yang nyata dan dapat diwujudkan. Ini adalah bukti bahwa dalam dunia yang penuh tantangan, suara rakyat tetap akan menemukan jalannya, dan mereka akan terus mengawal agar demokrasi kita tetap hidup. Merdeka.***