RIAU ONLINE, PEKANBARU - Sudah berminggu-minggu masyarakat di Provinsi Riau menghirup udara berpolusi akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Masyarakat pun harus mewaspadai sejumlah penyakit yang menjadi risiko menghirup asap karhutla dalam rentang waktu yang panjang. Seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata dan kulit, sakit tenggorokan, bahkan risiko kanker paru-paru dan jantung.
Pemerintah telah mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi risiko-risiko penyakit tersebut dengan mengurangi kegiatan di luar ruangan. Kemudian menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar ruangan.
Namun, penggunaan masker tidak berarti secara otomatis membuat masyarakat terbebas dari menghirup asap saat berada di luar ruangan. Terutama, bila masker yang digunakan tidak tepat.
Dirangkum dari berbagai sumber, masker yang direkomendasikan dan mampu menyaring polusi asap adalah masker N95 atau KN95.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), N95 mampu menyaring partikel berukuran 0,3 mikrometer. Kemampuan penyaringan masker ini cukup efektif untuk menyaring asap Karhutla.
Selain itu, dilansir dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, penggunaan masker berbahan kain dan masker medis tidak dianjurkan untuk menangkal polusi asap. Sebab, kemampuan filtrasi masker rendah sehingga tidak mampu menyaring partikel kecil dari udara yang akan masuk ke paru-paru.
Masker medis dan kain juga biasanya tidak melekat pas di wajah sehingga banyak celah untuk udara kotor masuk. Masker yang tepat untuk menyaring udara harus benar-benar pas dan melekat di wajah.
Penggunaan masker yang tepat bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bentuk perlindungan utama bagi kesehatan diri dan keluarga di tengah kepungan kabut asap karhutla. Masker N95 atau KN95 direkomendasikan untuk menjadi perisai terbaik untuk menyaring partikel berbahaya yang tak kasatmata.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih bijak memilih masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan demi menjaga fungsi paru-paru tetap optimal.

