RIAU ONLINE, PEKANBARU - Upaya pemberantasan narkoba yang tengah digencarkan aparat kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) mendapat apresiasi dari komika, penulis sekaligus pembuat konten asal Tangerang, Mega Salsabillah.
Namun di balik apresiasinya tersebut, Mega menyampaikan pesan kritis kepada Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto agar pemberantasan narkoba tidak hanya menyasar bandar dan jaringan peredaran di tengah masyarakat, tetapi juga menelusuri kemungkinan keterlibatan oknum aparat.
Melalui pernyataannya yang beredar di media sosial pribadinya @mega_salsabillah, Mega menilai langkah aparat yang semakin gencar melakukan penggerebekan di kampung-kampung yang diduga menjadi lokasi peredaran narkoba merupakan perkembangan positif.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa upaya pemberantasan narkotika harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk dengan memastikan tidak ada anggota aparat yang terlibat dalam penyalahgunaan maupun melindungi jaringan peredaran barang terlarang tersebut.
Mega secara khusus meminta Kapolri agar pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap masyarakat yang diduga terlibat narkoba. Menurutnya, anggota kepolisian juga perlu menjalani tes urine sebagai bagian dari upaya memastikan institusi penegak hukum bersih dari penyalahgunaan narkotika.
"Pak Kapolri, Pak Suyudi, lagi gencar-gencarnya bekerja sama sama BNN buat ngegrebek kampung-kampung narkoboy. Sejauh ini gua respect," ujar Mega dalam pernyataannya dikutip RIAUONLINE, Kamis, 22 Oktober 2026.
Ia mengaku menghargai langkah pemberantasan narkoba yang dilakukan aparat, terlebih jika upaya tersebut benar-benar menjadi prioritas sejak awal masa jabatan pimpinan terkait.
Namun, bagi Mega, pemberantasan narkoba tidak cukup hanya dengan menangkap pengguna, pengedar, ataupun bandar yang berada di lapangan.
Menurutnya, aparat juga perlu memastikan bahwa tidak ada oknum yang menyalahgunakan kewenangan untuk melindungi jaringan narkotika.
"Padahal baru beberapa, belum ada sebulan apa kalau nggak salah dia dilantik gitu, tapi udah gencar buat memberantas narkoboy," lanjutnya.
Dalam pernyataannya, Mega kemudian menyampaikan permintaan agar Kapolri melakukan pemeriksaan urine terhadap anggota kepolisian.
Langkah tersebut dinilainya penting untuk memastikan aparat yang bertugas memberantas narkoba tidak justru terlibat dalam penyalahgunaan barang terlarang itu.
"Tapi mohon maaf nih Pak, kalau bisa izin, anggota-anggota Bapak juga dites urine. Dicari tuh mana anggota Bapak yang terhubung sama jaringan narkoboy," ucapnya.
Mega juga menyoroti dugaan adanya pihak-pihak yang memberikan perlindungan kepada jaringan peredaran narkoba. Ia menilai, pemberantasan narkotika harus menyentuh seluruh mata rantai peredaran, termasuk apabila ditemukan keterlibatan oknum berseragam.
Dalam pernyataannya, Mega menyebut dua institusi berseragam yang ia maksud sebagai pihak yang perlu mendapat perhatian jika muncul dugaan keterlibatan aparat.
"Karena kan biasanya orang-orang narkoboy pasti ada backing-annya Pak. Kalau... kalau kagak cokelat, ya hijau. Orang-orang berseragam pasti yang nge-backing-in itu," jelasnya.
Pernyataan tersebut merupakan kritik dan dugaan yang disampaikan Mega. Dugaan mengenai adanya pihak yang membekingi jaringan narkoba perlu dibuktikan melalui penyelidikan dan proses hukum. Tidak berarti seluruh anggota kepolisian maupun personel TNI terlibat atau memberikan perlindungan kepada bandar narkoba.
Mega bahkan menyarankan agar pemeriksaan dapat dimulai dari internal kepolisian, tanpa harus menunggu seluruh dugaan keterlibatan pihak lain ditelusuri.
"Ya kalau Bapak belum berani ke yang hijau, yang cokelat dulu dah. Nggak apa-apa Pak," katanya.
Lebih lanjut, Mega meminta agar aparat tidak berhenti pada penangkapan para pelaku yang berada di lapangan.
Ia mendorong adanya penelusuran terhadap kemungkinan keterlibatan oknum yang diduga melindungi bandar, menjadi bagian dari jaringan, atau memanfaatkan posisi dan kewenangannya untuk memuluskan peredaran narkotika.
"Cari tuh Pak, mana anggota-anggota Bapak yang melindungi bandar-bandar, yang ikut jaringan, sama jaringan narkoboy," tegasnya.
Bagi Mega, langkah tersebut penting agar pemberantasan narkoba tidak hanya terlihat dari banyaknya penggerebekan dan penangkapan, tetapi juga dari keberanian aparat membersihkan institusinya sendiri apabila ditemukan pelanggaran.
Kritik itu sekaligus menjadi pengingat bahwa kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum sangat bergantung pada konsistensi dalam menindak setiap pelanggaran, tanpa memandang pangkat, jabatan, ataupun latar belakang pelakunya.
Meski menyampaikan kritik secara terbuka, Mega menegaskan bahwa dirinya tetap menghargai upaya pemberantasan narkoba yang sedang dilakukan.
"Tapi kalau bisa, jangan marah sama saya Pak. Saya udah respect banget nih sama Bapak. Bapak udah mau berantas narkoboy," tutupnya
Di Provinsi Riau, upaya pemberantasan narkoba juga terus dilakukan melalui berbagai kegiatan penindakan dan pencegahan.
Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau bersama personel gabungan, misalnya, melaksanakan Operasi Sarang Narkoba di enam tempat hiburan malam di Kota Pekanbaru.
Operasi tersebut merupakan bagian dari upaya mencegah dan memberantas penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika di wilayah Riau.
Direktur Reserse Narkoba Polda Riau Kombes Pol Putu Yudha Prawira menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah dan pimpinan kepolisian dalam memerangi narkoba.
"Operasi ini merupakan tindak lanjut perintah Presiden Prabowo Subianto melalui Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto serta arahan Kapolda Riau Irjen Pol Arman Achdiat dalam memberantas narkoba," ujar Putu Yudha
Selain operasi di tempat hiburan malam, Ditresnarkoba Polda Riau dan Satresnarkoba Polresta Pekanbaru juga diketahui gencar melaksanakan razia serta penindakan di lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat peredaran narkoba.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menekan peredaran narkotika sekaligus mencegah kawasan permukiman maupun tempat hiburan disalahgunakan sebagai lokasi transaksi barang terlarang.

