RIAU ONLINE, PEKANBARU - Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar kembali terjadi di Kota Pekanbaru. Kondisi tersebut dikeluhkan sejumlah pengendara karena berlangsung hampir setiap hari dan dinilai mengganggu aktivitas masyarakat.
Antrean kendaraan terlihat di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jalan Imam Munandar atau Jalan Harapan Raya, Pekanbaru. Sejumlah kendaraan tampak mengular untuk mendapatkan solar. Antrean bahkan memakan badan jalan.
Kondisi tersebut disebut bukan hanya terjadi sesekali. Sejumlah warga mengaku sudah berbulan-bulan melihat antrean kendaraan yang hendak membeli solar di SPBU tersebut.
Antrean biasanya mulai terlihat pada pagi hari hingga malam. Bahkan, menjelang tengah malam, kendaraan masih terlihat memadati kawasan SPBU untuk mendapatkan BBM bersubsidi tersebut.
Kondisi ini dinilai mengganggu karena terjadi pada jam-jam sibuk, terutama pagi ketika masyarakat mengantar anak sekolah dan berangkat bekerja, serta sore saat aktivitas warga berlangsung dan masyarakat pulang dari tempat kerja.
"Setiap pagi dan malam selalu ada antrean. Ini sudah berlangsung berbulan-bulan," keluh Shintia, salah seorang pengendara yang melintas di kawasan tersebut, Jumat, 18 September 2026.
Menurut Shintia, antrean kendaraan yang hendak membeli solar seharusnya tidak sampai mengganggu arus lalu lintas apabila distribusi BBM berjalan lancar dan pengaturan antrean dilakukan dengan baik.
Warga juga mempertanyakan mengapa antrean solar bisa berlangsung hampir setiap hari dengan jumlah kendaraan yang begitu banyak.
"Jangan sampai masyarakat yang antre membeli solar dibenturkan dengan masyarakat yang hanya ingin melintas. Dicarikan solusinya," tegasnya.
Antrean kendaraan yang memanjang ke badan jalan berpotensi mempersempit ruang gerak kendaraan, terutama ketika volume lalu lintas sedang tinggi. Kondisi tersebut semakin terasa pada pagi dan sore hari saat aktivitas masyarakat meningkat.
Menurut warga, persoalan antrean solar tidak semestinya hanya dilihat sebagai masalah para pengendara yang mengantre. Dampaknya juga dirasakan pengguna jalan lain yang harus melewati ruas Jalan Imam Munandar.
Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait, termasuk aparat penegak hukum dan pihak yang memiliki kewenangan terhadap distribusi BBM bersubsidi, turun langsung melihat kondisi di lapangan.
Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait karena BBM solar yang dijual merupakan BBM bersubsidi.
Warga meminta pemerintah untuk segera menemukan solusi untuk kondisi ini agar tidak menghambat pengguna jalan akibat antrean solar yang memicu kemacetan.
Selain persoalan antrean, di tengah masyarakat juga beredar informasi mengenai dugaan adanya permainan distribusi solar, termasuk dugaan penimbunan oleh oknum tertentu.
"Kalau minyaknya lancar, antrean tidak akan membuat macet dan panjang. Kalau memang minyaknya sedikit, mungkin pengaturannya bisa dilakukan pada jam-jam yang tidak terlalu sibuk ketika masyarakat sedang beraktivitas," kata warga lainnya, Zul.
Masyarakat juga meminta adanya pengawasan terhadap distribusi solar bersubsidi agar BBM tersebut benar-benar diperoleh masyarakat yang berhak dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pihak tertentu.
"Sudah lama seperti ini. Kami berharap ada tindakan nyata, bukan hanya dibiarkan setiap hari sampai masyarakat yang lewat ikut terganggu," pungkasnya.
Persoalan antrean solar ini disebut bukan hanya terjadi di satu titik. Sejumlah SPBU di Pekanbaru juga kerap menjadi lokasi antrean kendaraan yang hendak mendapatkan solar bersubsidi.

