Menapaki Jejak Kepahlawanan Lewat Festival Sastra Tapak Bayang 2026

Menapaki-Jejak-Kepahlawanan-Lewat-Festival-Sastra-Tapak-Bayang-2026.jpg
Festival Sastra Tapak Bayang 2026 mengangkat tema Kepahlawanan dalam Bentuk yang Luas. (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Tidak semua perjuangan tercatat dalam sejarah. Tidak semua nama yang berjasa berdiri di barisan paling depan. Sebagian hadir melalui kerja-kerja senyap, melalui keberanian merawat kehidupan, pengetahuan, kebudayaan, dan ingatan.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Festival Sastra Tapak Bayang 2026 hadir di Pekanbaru dengan mengangkat tema “Kepahlawanan dalam Bentuk yang Luas”. Festival ini menjadi ruang perjumpaan sastra dan seni untuk membaca kembali sejarah, ingatan, identitas, serta pengalaman manusia yang selama ini mungkin berada di luar narasi utama.

Festival Sastra Tapak Bayang akan berlangsung selama tiga hari, 18–20 September 2026, di Rumah Nonblok, Pekanbaru. Seluruh rangkaian kegiatan terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Direktur Festival Sastra Tapak Bayang 2026, Husin atau yang akrab dipanggil Ucin, mengatakan bahwa festival ini berangkat dari kegelisahan terhadap cara sejarah kerap menyisakan ruang bagi nama-nama tertentu, sementara banyak pengalaman perjuangan lainnya berada di luar catatan utama. 

“Festival Sastra Tapak Bayang berangkat dari kegelisahan bahwa sejarah sering kali hanya menyisakan ruang bagi nama-nama tertentu, sementara banyak pengalaman dan perjuangan lain berada di luar narasi utama,” tutur Ucin melalui keterangan tertulis, Kamis, 17 September 2026. 

“Kami ingin melihat kepahlawanan dalam pengertian yang lebih luas—bukan hanya mereka yang berada di medan pertempuran, tetapi juga mereka yang merawat kehidupan, mengorganisasi, menjaga pengetahuan, dan berjuang dalam senyap,” imbuhnya.

Salah satu jejak yang menjadi pintu masuk festival adalah Syahawa Hasan Basri, tokoh perempuan pejuang Riau yang mendirikan Laskar Perempuan. Penghadiran kembali nama Syahawa menjadi bagian dari upaya membuka pembacaan mengenai pengalaman dan kontribusi perempuan dalam sejarah perjuangan Riau pada periode 1945–1950.

Bagi penyelenggara, kepahlawanan tidak semata-mata berkaitan dengan pertempuran atau tindakan heroik yang tercatat secara formal. Ia dapat hadir dalam berbagai bentuk keberanian dan pengorbanan yang memungkinkan kehidupan terus berlangsung.



Pilihan kata “Tapak” merujuk pada jejak dan langkah untuk menelusuri kembali cerita, pengalaman, serta pengetahuan yang diwariskan melalui sejarah, sastra, tradisi lisan, maupun ingatan masyarakat. Sementara “Bayang” menunjuk pada cerita dan pengalaman yang pernah hadir, tetapi belum selalu memperoleh cukup ruang dalam narasi utama.

“Bayang bukan berarti sesuatu yang tidak ada. Ia ada karena pernah hadir, tetapi mungkin belum cukup mendapat cahaya. Festival ini mengajak kita mengubah posisi berdiri, menapak kembali jejak-jejak itu, dan menemukan suara yang selama ini berada di dalam bayang,” kata Ucin.

Selain menghadirkan pembacaan terhadap sejarah perempuan, festival juga memperluas percakapan melalui sastra. Sastra dipandang bukan hanya sebagai karya dan ekspresi artistik, tetapi juga sebagai medium untuk menyimpan pengalaman, membaca zaman, mempertanyakan identitas, dan merawat ingatan.

Selama tiga hari pelaksanaan, Festival Sastra Tapak Bayang menghadirkan berbagai program, di antaranya monolog, wicara performa, pembacaan puisi, poetic photography, serta tiga panel diskusi.

Panel pertama bertajuk “Perempuan, Sejarah, dan Kritik Sastra di Riau: Melampaui Label Gender: Menagih Kesetaraan Hakiki dalam Kritik Sastra”, menghadirkan Budy Utamy dan Alvi Puspita, dengan moderator Herman Thamrin.

Panel kedua bertajuk “Membedah Politik Representasi dan Identitas: Buku Puisi Hantu Padang”, menghadirkan Esa Tegar Putra dan Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum., dengan moderator Pinto Anugrah.

Sementara panel ketiga, “Sastra dan Ekosistem Penerbitan: Merawat Karya, Menghidupkan Bacaan, dan Memperpanjang Ingatan”, menghadirkan Siti Salmah dan Hary B Koriun, dengan moderator Syahyarwan Zam.

Ketiga panel tersebut dirancang untuk mempertemukan berbagai perspektif mengenai perempuan dan sejarah, identitas dan representasi, serta hubungan antara penulis, penerbit, komunitas, dan pembaca dalam membangun ekosistem sastra yang berkelanjutan. 

Ucin mengatakan, festival ini tidak dimaksudkan untuk memberikan satu kesimpulan mengenai sejarah maupun kepahlawanan. Sebaliknya, ruang perjumpaan tersebut diharapkan dapat membuka kemungkinan pembacaan baru.

“Bagi kami, sastra bukan hanya soal karya dan keindahan bahasa. Sastra juga merupakan cara untuk menyimpan dan membaca kembali ingatan. Melalui sastra, kita bisa melihat sejarah dari sisi yang lebih dekat dengan pengalaman manusia—tentang kehilangan, keberanian, identitas, relasi sosial, dan berbagai suara yang mungkin tidak selalu tercatat dalam sejarah formal.”

Festival Sastra Tapak Bayang 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai perhelatan selama tiga hari. Pertemuan antara sastrawan, seniman, akademisi, komunitas, penerbit, pembaca, dan masyarakat diharapkan dapat membuka kemungkinan jejaring, kolaborasi, penciptaan karya, serta kerja-kerja kebudayaan lanjutan.

Festival Sastra Tapak Bayang 2026 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026.

Atas dukungan tersebut, panitia menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang telah memberikan ruang dan kepercayaan bagi komunitas untuk mengembangkan gagasan, mempertemukan berbagai perspektif, serta menghadirkan kembali jejak-jejak sastra dan kebudayaan kepada publik. Mari menapak jejak. Membaca bayang. Menemukan kembali ingatan.