Asap Karhutla Kian Pekat, Ribuan Warga Pekanbaru Terserang ISPA

Asap-di-Pekanbaru2.jpg
Asap karhutla menyelimuti Kota Pekanbaru, Selasa, 15 September 2026 (HERIANTO WIBOWO/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Riau mulai memukul kesehatan masyarakat. Dalam dua pekan terakhir saja, Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru mencatat 3.028 warga terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Data  tersebut dihimpun Diskes Pekanbaru dari 21 Puskesmas yang tersebar di wilayah Kota Pekanbaru.

Angka ini menjadi alarm di tengah semakin tebalnya asap yang melanda sejumlah kabupaten/kota, mulai dari Pekanbaru, Kampar, Siak, Dumai, Pelalawan, Indragiri Hulu hingga Rokan Hilir.

Dampaknya tak hanya dirasakan warga yang mengalami gangguan pernapasan. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga mulai mengeluhkan mata perih dan berair hingga sesak napas ketika berkendara di tengah kepungan asap.

Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, terutama bagi warga yang masih harus beraktivitas di luar ruangan.

"Warga diminta untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan," kata Dedy Sambudi beberapa waktu lalu.

Menurut Dedy, paparan udara yang tercemar asap Karhutla dapat memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Gangguan kesehatan akibat paparan tersebut juga tidak hanya berpotensi dialami kelompok masyarakat tertentu.



"Yang terdampak ISPA ada balita, anak-anak hingga lansia," jelasnya.

Sementara itu, salah seorang warga, Awan, mengaku mulai merasakan dampak kabut asap ketika melakukan perjalanan menuju Pekanbaru. Mata terasa perih, berair dan napas menjadi sesak meski dirinya telah menggunakan masker saat berkendara.

"Setiap hari berangkat kerja ke Pekanbaru, mata perih, napas sesak karena asap," ujar Awan.

Menurutnya, penggunaan masker memang dilakukan sebagai bentuk perlindungan saat berada di tengah kepungan asap. Namun, masker yang dikenakan tidak serta-merta membuat seluruh dampak kabut asap hilang.

Ia mengatakan, rasa perih pada mata tetap dirasakan selama perjalanan. Mata bahkan menjadi berair ketika harus melewati kawasan dengan kondisi asap yang cukup tebal.

"Meskipun sudah menggunakan masker, mata tetap saja perih dan berair," pungkasnya.

Kondisi tersebut membuat perjalanan yang sebelumnya menjadi rutinitas sehari-hari kini terasa lebih berat. Warga harus menghadapi udara yang tidak nyaman sekaligus meningkatkan kewaspadaan saat berkendara karena jarak pandang dapat terganggu oleh kabut asap.

Masyarakat diminta tidak menganggap remeh kondisi kabut asap yang terjadi. Penggunaan masker ketika berada di luar ruangan menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan, khususnya ketika kondisi udara sedang buruk.

Masyarakat juga diharapkan dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak diperlukan. Kelompok rentan seperti balita, anak-anak dan lansia perlu mendapatkan perhatian lebih untuk menghindari paparan asap secara langsung.