RIAU ONLINE, SIAK - Bupati Siak Afni Zulkifli akan memperjuangkan Tengku Buwang Asmara yang merupakan Sultan Siak Ke-2 dan bergelar Sultan Mahmud Abdul Jalil Muzaffarsyah, sebagai Pahlawan Nasional.
Hal ini disampaikannya saat bertemu Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Jumat malam 28 Agustus 2026.
"Beliau Sultan Siak yang secara nyata ikut berperang melawan penjajah Belanda di masanya. Kami mengusulkan Sultan Siak ke 2 ini dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, selain Sultan terakhir Siak, Sultan Syarif Kasim II," ujarnya.
Tengku Buwang berdasarkan catatan sejarah dikenal sebagai sosok pejuang yang disegani dan ditakuti Belanda. Salah satu perjuangannya yang paling dikenal adalah Perang Guntung, yakni perlawanan Kesultanan Siak terhadap Belanda di Pulau Guntung, muara Sungai Siak.
Tengku Buwang dinobatkan sebagai Sultan Siak di Buatan pada tahun 1746 M setelah Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah atau Raja Kecil wafat.
Tengku Buwang kemudian memindahkan pusat kedudukannya ke Sungai Mempura pada 1750, agst pusat pemerintahannya jauh dari pengaruh Belanda.
Dimasa itu, Belanda terus berupaya mendapatkan akses perdagangan di Sungai Siak. Kesempatan akhirnya diberikan dengan syarat perdagangan bebas dan tanpa monopoli.
Belanda kemudian mendirikan loji di Guntung yang berada di muara Sungai Siak.
Belanda justru menggunakan posisi strategis loji tersebut untuk memaksakan kepentingan dagang. Dimana, para pedagang yang melintas dipaksa menjual barang dagangannya, dan cukai juga dikenakan kepada orang yang lalu-lalang.
Aksi Belanda ini langsung mendapatkan protes dari Sultan Siak hingga sengketa berkembang menjadi konflik bersenjata. Perang Guntung kemudian berlangsung pada 1750-1760.
Akibat perang tersebut, Belanda kehilangan sejumlah bahan perdagangan. Catatan mengenai kondisi tersebut antara lain tercantum dalam laporan Gubernur Malaka kepada Gubernur Jenderal Batavia pada 8 Maret 1758.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa Sungai Siak merupakan salah satu pusat perdagangan penting yang menghasilkan berbagai komoditas dari pedalaman Sumatera, termasuk emas yang memiliki nilai strategis bagi perdagangan Melaka.
Perlawanan dan strategi Tengku Buwang dalam menghadapi Belanda kemudian menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Siak dan perjuangan masyarakat Melayu di kawasan Selat Malaka.
Kini, jejak perjuangan tersebut kembali diangkat ke tingkat nasional melalui usulan agar Tengku Buwang Asmara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
"Perjuangan tersebut bukan sekadar mengangkat nama seorang Sultan, tetapi juga bagian dari upaya membawa sejarah Kesultanan Siak dan kontribusi masyarakat Melayu dalam perjalanan bangsa Indonesia ke panggung nasional," pungkas Afni.

