RIAU ONLINE, KUANSING - Panitia Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, menyoroti dugaan adanya pemacu yang memamerkan minuman diduga tuak saat mengikuti rangkaian Pacu Jalur di Teluk Kuantan.
Peristiwa tersebut menuai keresahan di tengah masyarakat karena dinilai tidak hanya berkaitan dengan persoalan budaya, tetapi juga menyentuh norma agama dan nilai-nilai adat yang selama ini menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Pacu Jalur.
Salah seorang panitia Pacu Jalur, Darwis, dengan tegas meminta agar persoalan tersebut tidak dianggap sepele. Ia bahkan menyatakan, apabila dugaan tersebut terbukti, pemacu yang bersangkutan layak diberikan tindakan tegas hingga dikeluarkan dari arena Pacu Jalur di Narosa, Teluk Kuantan.
"Kalau memang terbukti ini terjadi, kita usir saja pemacunya dari Narosa Teluk Kuantan. Karena ini mencederai nilai-nilai kita," tegas Darwis, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Menurutnya, persoalan tersebut sangat sensitif karena menyangkut hubungan kultural masyarakat Kuansing dengan masyarakat Indragiri Hulu (Inhu). Kedua daerah tersebut memiliki akar budaya yang sama karena sebelumnya berada dalam satu rumpun wilayah.
"Iya ndak, Pak? Bapak-bapak tersinggung ndak dengan itu? Tersinggung kita, Pak. Inhu-Kuansing itu budayanya sama, Pak. Karena dulu kita satu rumpun," ujarnya.
Darwis menilai, apabila tindakan tersebut benar terjadi, maka bukan hanya masyarakat Kuansing yang merasa tersinggung. Masyarakat Inhu juga dinilai memiliki alasan yang sama untuk merasa keberatan karena budaya yang diwariskan kedua daerah tersebut memiliki keterikatan yang kuat.
"Karena kita budaya kita sama. Tersinggung Kuansing, mungkin Inhu juga tersinggung. Tersinggung di Inhu, juga Kuansing juga tersinggung," katanya.
Darwis menegaskan, persoalan tersebut menurutnya tidak lagi sebatas pelanggaran terhadap norma budaya. Ia menyebut dugaan aksi memamerkan minuman tersebut telah masuk ke ranah norma agama.
"Di samping ini telah memasuki ranah bukan saja lagi budaya, Pak. Ini sudah masuk ranah daripada norma-norma agama," tegasnya.
Ia mengakui bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan pemahaman yang berbeda. Namun, ketika berada di wilayah Kuansing dan mengikuti kegiatan Pacu Jalur yang merupakan bagian dari budaya masyarakat setempat, setiap peserta diminta menghormati nilai dan norma yang berlaku.
"Kita harus bersikap saling menghargai. Ini yang penting," ujarnya.
Darwis menilai, kehadiran peserta dari luar daerah merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kuansing. Menurut dia, semakin banyak daerah yang ikut ambil bagian dalam Pacu Jalur menunjukkan bahwa tradisi tersebut telah mendapatkan perhatian luas di tingkat nasional.
Namun, keterlibatan peserta dari luar daerah juga harus dibarengi dengan penghormatan terhadap adat istiadat setempat.
"Kita tidak ingin nilai-nilai ini hilang dikarenakan adanya pemacu-pemacu yang berdatangan ke Teluk Kuantan," katanya.
Darwis mengatakan masyarakat Kuansing justru merasa bangga dengan semakin banyaknya peserta dari luar daerah yang datang mengikuti Pacu Jalur.
Ia menyebut sejumlah daerah telah ikut berpartisipasi, mulai dari Jambi, Sumatera Barat hingga DKI Jakarta.
"Kita bangga, Pak. Sampai hari ini saya pribadi bangga. Datang Jambi, datang Sumbar, ada dari DKI yang hadir ke sini berpacu, kita bangga, Pak," tuturnya.
Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai daerah menunjukkan bahwa Pacu Jalur telah berkembang menjadi salah satu tradisi yang mampu menarik perhatian secara nasional.
"Berarti Pacu Jalur sudah mampu umpamanya perhatian secara nasional," katanya.
Darwis menilai perkembangan tersebut sejalan dengan upaya menjadikan Pacu Jalur sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN). Menurutnya, dulu peserta Pacu Jalur lebih banyak berasal dari wilayah sekitar Kuansing dan Inhu, tetapi kini cakupannya semakin luas.
"Kita menggaungkan Karisma Event Nasional, tingkat nasional, tapi pesertanya hanya dari dua kabupaten saja. Kan ndak bangga kita, Pak? Sekarang sudah bangga kita," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat Kuansing tidak alergi terhadap kehadiran pemacu dari luar daerah. Justru, kehadiran mereka disambut sebagai bentuk pengakuan terhadap besarnya nilai budaya Pacu Jalur.
"Tapi kita dengan hadirnya pemacu-pemacu luar ke Kabupaten Kuantan Singingi, kita tidak alergi, Pak," katanya.
Meski demikian, Darwis meminta para peserta dari luar daerah memahami adat dan budaya masyarakat setempat.
Ia mengingatkan pepatah yang sangat dikenal dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya dalam konteks adat Melayu, yakni "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."
"Tetapi begitu sampai di Kabupaten Kuantan Singingi, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Artinya apa? Ikuti nilai-nilai budaya adat masyarakat yang ada di tempat itu," tegas Darwis.
Ia menjelaskan bahwa Pacu Jalur tidak dapat dipandang semata-mata sebagai kompetisi olahraga atau perlombaan profesional.
Menurutnya, Pacu Jalur merupakan tradisi masyarakat yang sarat dengan nilai budaya, adat dan agama.
"Pacu Jalur bukan perlombaan profesional, tapi adalah perlombaan tradisional dari budaya masyarakat adat," katanya.
Darwis kemudian mengingatkan filosofi adat yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Kuansing.
"Adatnya bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah. Adat mengato, syarak mengato, adat memakai," ujarnya.
Menurutnya, filosofi tersebut memiliki makna bahwa adat dan kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai agama.
"Apa yang dikatakan oleh agama, dipakaikan dalam adat istiadat," sambungnya.
Darwis juga meminta agar dugaan adanya jalur yang menampilkan atau memamerkan minuman tersebut segera diklarifikasi kepada panitia.
Ia mengatakan persoalan tersebut telah menjadi pembicaraan masyarakat dan bahkan telah mendapat perhatian dari sejumlah tokoh serta instansi keagamaan di daerah.
"Mohon nanti kalau perlu nanti jalur-jalur yang memamerkan minuman itu, tolong klarifikasinya ke panitia," ujarnya.
Menurut Darwis, keresahan masyarakat sudah cukup besar. Ia mengaku telah menerima komunikasi dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) maupun pihak Kementerian Agama terkait persoalan tersebut.
"Karena sampai saat ini gaduh Pak masyarakat kita. Dari Ketua MUI sudah kontak saya, dari Kepala Kementerian Agama sudah kontak saya," katanya.
Darwis berharap persoalan tersebut dapat segera dijelaskan sehingga tidak berkembang menjadi polemik yang lebih besar dan mengganggu pelaksanaan Pacu Jalur.
Ia menekankan bahwa masyarakat Kuansing pada dasarnya terbuka terhadap siapa pun yang ingin datang dan ikut meramaikan tradisi Pacu Jalur. Namun, keterbukaan tersebut tetap memiliki batas, yakni penghormatan terhadap adat, budaya dan norma masyarakat setempat.
"Jadi ini perlu saya sampaikan, Pak," pungkasnya.

