RIAU ONLINE, PEKANBARU — Halaman Kantor Wali Kota Pekanbaru dipadati ratusan orang pada Senin pagi, 17 Agustus 2026. Ada yang mengenakan seragam dinas, ada pula warga biasa yang sengaja datang lebih pagi untuk mendapat tempat terbaik menyaksikan upacara detik-detik proklamasi. Cuaca cukup bersahabat, matahari belum terlalu terik ketika barisan mulai terbentuk di lapangan Kompleks Perkantoran Tenayan Raya.
Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol. Muharman Arta, tampak hadir bersama jajaran Forkopimda kota. Di sekelilingnya, pejabat pemerintahan duduk berdampingan dengan tokoh masyarakat — pemandangan yang setiap tahun terulang, namun tak pernah kehilangan maknanya.
Begitu Inspektur Upacara tiba, penghormatan pun diberikan. Dari situ, upacara mengalir sesuai susunan yang sudah dihafal luar kepala: pengibaran bendera, mengheningkan cipta, pembacaan Pancasila dan UUD 1945, sampai akhirnya teks Proklamasi dibacakan dengan lantang. Semua rangkaian ini rampung sekitar pukul 10.00 WIB, tepat waktu, tanpa kendala berarti.
Yang Ditunggu-tunggu: Aksi Paskibraka
Momen yang paling banyak dinanti tentu saja saat 40 anggota Paskibraka Kota Pekanbaru memasuki lapangan. Dua puluh putra, dua puluh putri berjalan dengan langkah yang sudah dilatih berulang kali, hasil kerja keras yang tidak instan.
Bayangkan saja, hampir sebulan penuh mereka menjalani pra-training camp, sekitar 20 hari, sebelum lanjut ke training camp 10 hari terakhir menjelang hari H. Bukan waktu yang singkat untuk remaja seusia mereka, apalagi di tengah kesibukan sekolah.
Sehari sebelumnya, Minggu 16 Agustus, mereka resmi dikukuhkan oleh Wali Kota Agung Nugroho di Aula Gedung Utama Tenayan Raya. Ada momen yang cukup menyentuh di sana setelah sabuk dan pin dipasangkan, satu per satu anggota Paskibraka mencium Bendera Merah Putih. Sederhana, tapi terasa berat maknanya bagi yang menyaksikan.
Jadi ketika bendera itu akhirnya naik perlahan menuju puncak tiang keesokan harinya, wajar saja tepuk tangan langsung pecah dari segala penjuru lapangan.
Bukan Sekadar Rutinitas Tahunan
Kapolresta Pekanbaru sempat menyampaikan pandangannya usai upacara. Menurutnya, momen seperti ini bukan cuma soal seremoni tahunan yang berulang, tapi pengingat bahwa persatuan dan keamanan itu harus terus dijaga bersama, sekecil apa pun kontribusinya.
Persiapan menuju hari ini sebenarnya sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan sampai ke tingkat provinsi. Beberapa hari sebelumnya, ada laporan kesiapan yang disampaikan langsung kepada Plt Gubernur Riau, memastikan setiap petugas paham betul perubahan susunan acara terbaru dari Sekretariat Negara. Detail-detail kecil seperti ini yang sering luput dari perhatian publik, padahal justru itu yang bikin upacara berjalan lancar tanpa hambatan.
Sore Hari, Kota Berubah Meriah
Selesai upacara resmi, suasana Pekanbaru langsung bertransformasi. Lomba-lomba khas 17-an mulai digelar di berbagai sudut kota dari yang klasik seperti panjat pinang, sampai pertunjukan seni budaya Melayu yang jadi identitas kota ini. Anak-anak berlarian, orang tua duduk di pinggir jalan sambil menyaksikan, dan semuanya larut dalam kemeriahan yang sama.
Barangkali di situlah letak keistimewaan 17 Agustus bukan cuma soal upacara formal di pagi hari, tapi juga tawa dan kebersamaan yang terus berlanjut sampai sore. Semangat gotong royong itu masih hidup, dan Pekanbaru sekali lagi membuktikannya tahun ini.

