Karhutla Tak Kunjung Padam, 4 Ha Lahan Gambut di Kampar Ludes

karhutla-di-jalan-perwira-kampar.jpg
Pemadaman karhutla di Jalan Perwira, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. (Istimewa)

RIAU ONLINE, KAMPAR - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Jalan Perwira, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya.

Api membakar lahan gambut terus meluas dan menghasilkan kepulan asap tebal. Kondisi tersebut membuat petugas gabungan harus bekerja ekstra keras untuk mencegah api menjalar lebih jauh, terutama ke kawasan permukiman warga.

Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru, TNI, Polri, serta masyarakat setempat tampak berjibaku melakukan pemadaman di tengah kondisi lahan yang terbakar cukup luas.

Namun, upaya pemadaman menghadapi kendala serius karena keterbatasan sumber air di sekitar lokasi.

Komandan Regu (Danru) II Manggala Agni Pekanbaru, Sahrimanto, mengatakan persediaan air dari kanal maupun kolam milik warga telah habis. Bahkan, air yang sebelumnya dibawa menggunakan mobil tangki juga sudah digunakan seluruhnya.

"Kendala utama kita adalah sumber. Sekarang air di kanal dan kolam warga sudah habis. Tadi ada air mobil tangki juga sudah habis, jadi ambil air lagi keluar," ujar Sahrimanto, Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurutnya, luas lahan yang terbakar berdasarkan penghitungan sementara mencapai sekitar 4 hektare. Kondisi menjadi semakin sulit karena api membakar kawasan gambut dengan kedalaman yang diperkirakan mencapai dua meter.



"Lahan masih luas yang terbakar, dengan kedalaman gambut sekitar 2 meter," jelasnya.

Petugas kini tidak hanya fokus memadamkan api, tetapi juga berupaya mencegah penjalaran kebakaran menuju permukiman. Pasalnya, lokasi kebakaran berada cukup dekat dengan rumah warga.

Setidaknya terdapat dua unit rumah yang berada sekitar 50 meter dari titik kebakaran. Kepulan asap tebal bahkan telah menyelimuti area rumah warga di sekitar lokasi.

"Sekarang kami upayakan sekat kepala api, biar tidak menjalar ke rumah warga," jelas Sahrimanto.

Pemadaman karhutla tersebut telah berlangsung selama delapan hari. Sehari sebelumnya, kondisi api sempat menunjukkan penurunan setelah petugas melakukan pemadaman dari darat dan mendapat bantuan helikopter melalui operasi water bombing.

Namun, kondisi kembali memburuk pada Rabu siang. Api kembali muncul dan menjalar ke area lainnya akibat kondisi cuaca yang panas disertai angin kencang.

"Tadi siang api hidup lagi dan semakin meluas, karena cuaca panas dan angin kencang. Bahan bakar (semak belukar kering)," ungkap Sahrimanto.

Petugas gabungan pun terus berupaya melakukan pemadaman sekaligus membuat sekat agar kobaran api tidak semakin mendekati permukiman.

Keterbatasan sumber air menjadi tantangan utama dalam penanganan kebakaran lahan gambut tersebut.