Misteri CCTV Mati Warnai Kasus Tewasnya dr Alex di Dekat RSUD Siak

Dokter-PPDS-Ditemukan-Meninggal-Alat-Suntik-hingga-Ampul-Ditemukan-di-Lokasi.jpg
Dokter peserta PPDS ditemukan meninggal dunia di semak belukar di samping pagar RSUD Tengku Rafian Siak, Selasa, 14 Juli 2026. (Istimewa)

RIAU ONLINE, SIAK - Misteri kematian dokter spesialis kandungan dr Alex Cristo Loris Situmorang yang ditemukan meninggal dunia di dekat pagar RSUD Tengku Rafian, Siak, pada 14 Juli 2026 masih menyisakan banyak tanda tanya. 

Salah satu hal yang paling disorot dalam kesaksian sang istri, dr Yuliati Marbun, adalah kondisi kamera pengawas (CCTV) di sejumlah titik rumah sakit yang disebut tidak berfungsi tepat saat suaminya menghilang.

Kesaksian tersebut disampaikan dr Yuliati melalui rekaman suara yang menceritakan secara rinci kronologi hilangnya sang suami hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia.

Menurut dr Yuliati, pada Selasa, 14 Juli 2026, suaminya baru saja pulang dari rumah sakit setelah menyelesaikan operasi. Sesampainya di rumah, mereka masih sempat makan bersama dan berbincang sekitar 20 menit.

Sekitar pukul 17.35 WIB, dr Alex berpamitan kembali ke RSUD Siak untuk melakukan kegiatan freepop, yakni memeriksa pasien yang dijadwalkan menjalani operasi keesokan harinya.

"Beliau bilang paling lama dua jam. Saya cuma bilang hati-hati. Dia jawab, 'Ya sudah, tunggu saja saya di sini'," tutur dr Yuliati dalam akun media sosial TikTok @freddysimanjuntak.

Namun hingga malam hari, dr Alex tak kunjung kembali. Pesan WhatsApp yang dikirim istrinya hanya berstatus aktif tanpa balasan, sementara panggilan telepon juga tidak diangkat.

Kekhawatiran semakin bertambah ketika sekitar pukul 20.00 WIB seorang dokter senior menghubungi dr Yuliati untuk menanyakan keberadaan suaminya karena ada pasien yang harus segera dioperasi.

Merasa ada yang tidak beres, ia langsung menuju RSUD Siak dan mencari suaminya ke berbagai ruangan sambil terus mencoba menghubungi nomor telepon dr Alex.

"Biasanya suami saya kalau ditelepon pasti angkat karena dia selalu memakai headset. Sesibuk apa pun beliau pasti menjawab," ujarnya.



Sekitar pukul 21.00 WIB, telepon genggam dr Alex tiba-tiba tidak lagi aktif. Karena panik, dr Yuliati meminta bantuan petugas keamanan untuk membuka rekaman CCTV rumah sakit. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan dr Alex memang memasuki kawasan RSUD Siak sekitar pukul 17.46 WIB.

"Di CCTV terlihat suami saya masuk area rumah sakit masih memakai seluruh atributnya. Masih memakai jas dokter, tas sandang, headset, semuanya masih lengkap," katanya.

Namun setelah rekaman tersebut, petugas CCTV menyampaikan bahwa kamera di jalur berikutnya tidak berfungsi.

"Tapi setelah itu tidak ada CCTV lanjutan, kata petugas CCTV, di daerah situ mati," ungkap dr Yuliati.

Tak lama kemudian, seorang dokter pembimbing datang dan meminta petugas keamanan mencari dr Alex di salah satu gedung rumah sakit.

"Beliau bilang, 'Pergilah cari ke gedung sana, ketiduran dia itu.' Tapi saya bilang rasanya tidak mungkin karena dari rumah beliau tidak mengeluh mengantuk," ujarnya.

Di tengah pencarian, adik dr Alex mengirimkan titik lokasi terakhir telepon seluler korban yang hanya berjarak sekitar 200 hingga 300 meter dari rumah sakit.

"Saya langsung lari ke lokasi itu. Tapi karena daerahnya semak-semak seperti hutan, saya tidak berani masuk sendirian," katanya.

Setelah kembali ke rumah sakit dan meminta bantuan, dua petugas keamanan dikirim menuju lokasi tersebut. Sementara itu, dr Yuliati kembali memeriksa rekaman CCTV. Pada pemeriksaan kedua, ia menemukan rekaman lain yang memperlihatkan suaminya keluar dari area rumah sakit sekitar pukul 18.03 WIB.

"Di jam 18.03 suami saya ada keluar, tapi tanpa jas dokter lagi. Tasnya masih disandang. Beliau berjalan menuju gerbang keluar, belok ke kiri, lalu setelah itu CCTV tidak ada lagi," ujarnya.

Saat itu dr Yuliati kembali mempertanyakan keberadaan kamera pengawas lain yang mengarah ke jalur tersebut. Namun menurut pengakuannya, pihak keamanan menyebut tidak ada CCTV yang mencapai lokasi.

"Satpam bilang, 'Enggak ada, Bu. CCTV kita cuma sampai di sini saja. Yang lainnya mati karena sedang perbaikan’,” kata dr Yuliati.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling disoroti keluarga karena jalur yang dilalui dr Alex setelah keluar rumah sakit tidak lagi terekam kamera pengawas. Pencarian terus dilakukan hingga dini hari. Bersama keluarga, dr Yuliati menyisir lokasi titik terakhir telepon seluler korban sampai sekitar pukul 02.00 WIB.

Di sekitar lokasi terdapat rumah kos milik seorang dokter yang memiliki CCTV menghadap ke jalan. Namun saat itu pemilik rumah belum dapat dihubungi karena sudah larut malam. Keesokan paginya sekitar pukul 06.00 WIB, mereka akhirnya mendapat kesempatan memeriksa CCTV milik dokter tersebut. Namun hasilnya kembali mengejutkan.

"Ternyata CCTV-nya mati dari tanggal 13 Juli pukul 12.41 sampai tanggal 14 Juli subuh," kata dr Yuliati.

Ia mengaku sempat mempertanyakan kondisi tersebut kepada pemilik rumah.

"Saya tanya, 'Kenapa CCTV-nya mati ya, Dok?' Beliau menjawab, 'Saya juga tidak tahu, biasanya CCTV saya tidak pernah seperti ini.'"

Karena rekaman itu juga tidak dapat memberikan petunjuk, keluarga kembali ke RSUD Siak untuk melanjutkan pencarian. Hingga akhirnya, Polres Siak mengungkap penyebab kematian dr Alex akibat bunuh diri dan ada kaitannya dengan hutang Pinjol.