RIAU ONLINE, PELALAWAN - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menurunkan tim ke Kabupaten Pelalawan setelah menerima laporan insiden serangan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang menewaskan seorang anak di areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan Hutan Tanaman Industri (PBPH-HTI).
Peristiwa tragis itu terjadi pada Selasa, 7 Juli 2026. Korban diketahui bernama Jerlin Zalukhu (12), anak ketiga dari lima bersaudara yang tinggal bersama kedua orang tuanya di camp pekerja perusahaan.
Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan tim telah diterjunkan untuk melakukan observasi lapangan, pengumpulan data, serta olah tempat kejadian perkara (TKP) bersama pihak perusahaan.
"Berdasarkan informasi yang diperoleh tim di lapangan, peristiwa terjadi sekitar pukul 04.30 WIB. Saat itu korban sedang menemani kakaknya mencuci peralatan makan di kamar mandi camp," kata Supartono, Jumat, 10 Juli 2026.
Saat kejadian, korban berada di luar kamar mandi. Sementara pagar pelindung di bagian belakang camp diketahui dalam kondisi terbuka karena mengalami kerusakan.
Beberapa saat kemudian, korban ditemukan sekitar 10 meter di belakang camp dengan luka pada bagian leher kiri dan kanan akibat serangan satwa liar.
Kawasan tersebut berjarak sekitar 5,3 kilometer dari Taman Nasional Zamrud dan sekitar 5,7 kilometer dari kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER), tepatnya di wilayah Desa Sungai Ara dan Desa Pangkalan Terap, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan.
Usai melakukan olah TKP, tim BBKSDA Riau menemukan jejak Harimau Sumatera di sekitar camp pekerja. Jejak tersebut memiliki ukuran sekitar 16 sentimeter x 15 sentimeter dengan jarak langkah terjauh antara kaki depan dan belakang sekitar 120 sentimeter.
Petugas juga memasang kamera jebak (camera trap) untuk memantau pergerakan satwa di sekitar lokasi.
Hingga pukul 18.00 WIB, tim masih menerima laporan kemunculan Harimau Sumatera di sekitar lokasi kejadian. BBKSDA Riau bersama tim gabungan kemudian melakukan patroli malam menggunakan drone thermal.
"Dari hasil pemantauan drone thermal terlihat Harimau Sumatera masih berada di sekitar lokasi kejadian," ujar Supartono.
Berdasarkan analisis tim di lapangan, keberadaan harimau diduga dipicu adanya satwa mangsa yang dipelihara di dalam camp pekerja. Untuk mencegah kejadian serupa, petugas bersama pihak perusahaan melakukan penyitaan terhadap satwa mangsa tersebut.
BBKSDA Riau mengimbau masyarakat, pekerja, maupun perusahaan yang beraktivitas di sekitar habitat Harimau Sumatera agar meningkatkan kewaspadaan, tidak beraktivitas seorang diri terutama pada malam hingga dini hari, memastikan sistem pengamanan camp dalam kondisi baik, serta segera melaporkan kepada petugas apabila mengetahui keberadaan satwa liar.
BBKSDA Riau memastikan upaya penanganan akan terus dilakukan secara terukur bersama seluruh pihak terkait dengan tetap mengutamakan keselamatan manusia serta pelestarian Harimau Sumatera sebagai satwa yang dilindungi.

