Dua Kader IMM Diperiksa Polda Riau, CCTV Jadi Kunci Ungkap Penganiayaan Luthfi

Dua-kader-IMM-Riau-diperiksa-polda.jpg
Dua kader IMM Riau, Dheo dan Rehan, memenuhi panggilan penyidik Ditreskrimum Polda Riau, terkait penganiayaan terhadap mahasiswa UMRI, Muhammad Luthfi Suhaz. (DEFRI CANDRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Proses hukum dugaan penganiayaan terhadap mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Muhammad Luthfi Suhaz, terus bergulir. 

Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Riau bersama Pusat Bantuan Hukum (PBH) IMM Riau memastikan akan terus mengawal jalannya penyidikan hingga seluruh pelaku diungkap dan diproses sesuai hukum.

Sementara itu, dua kader IMM Riau, Dheo dan Rehan, telah memenuhi panggilan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau, pada Senin, 29 Juni 2026.

Pemeriksaan berlangsung sejak pukul 10.00 WIB hingga sekitar pukul 13.00 WIB di Mapolda Riau dengan pendampingan penuh dari tim kuasa hukum PBH IMM Riau.

Dalam pemeriksaan tersebut, kedua saksi dimintai keterangan secara rinci mengenai rangkaian peristiwa yang terjadi saat aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung DPRD Provinsi Riau hingga berujung pada dugaan penganiayaan terhadap Muhammad Luthfi Suhaz.

Direktur PBH IMM Riau, Yan Ardiansyah mengatakan, keterangan kedua saksi diharapkan dapat memperkuat konstruksi perkara sehingga proses penyidikan dapat berjalan lebih terang.

"Kami hadir mendampingi saksi untuk memastikan seluruh fakta yang mereka ketahui dapat disampaikan secara utuh kepada penyidik. Keterangan para saksi menjadi bagian penting dalam mengungkap siapa saja pihak yang bertanggung jawab atas dugaan penganiayaan terhadap saudara Muhammad Luthfi Suhaz," ujarnya, Selasa, 30 Juni 2026.

Dalam perkembangan pemeriksaan tersebut, penyidik Ditreskrimum Polda Riau juga disebut menyampaikan komitmen untuk segera melakukan penyitaan terhadap rekaman kamera pengawas (CCTV) yang berada di kawasan Gedung DPRD Provinsi Riau.



PBH IMM Riau menyambut langkah tersebut dan meminta agar proses penyitaan serta analisis rekaman dilakukan secepat mungkin. 

Menurut mereka, rekaman CCTV merupakan alat bukti yang sangat penting untuk mengidentifikasi seluruh pihak yang berada di lokasi kejadian, termasuk sosok pria berbaju hitam yang sebelumnya menjadi sorotan dalam kasus tersebut.

"Kami mendesak penyidik segera mengamankan seluruh rekaman CCTV agar tidak ada potensi hilangnya alat bukti. Rekaman itu sangat penting untuk mengungkap identitas pelaku maupun pihak-pihak lain yang diduga terlibat, baik secara langsung maupun dalam rantai komando," jelasnya.

Sementara itu, DPD IMM Riau menilai penanganan perkara ini harus dilakukan secara profesional, transparan, dan progresif. 

Organisasi mahasiswa tersebut mengingatkan bahwa kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum sangat bergantung pada keseriusan penyidik dalam mengusut kasus tersebut hingga tuntas.

Sementara itu, Ketua DPD IMM Riau, Alpin Jakarsi menegaskan pihaknya tidak menginginkan proses hukum berjalan lambat ataupun berhenti hanya pada pemeriksaan saksi.

"Kami meminta Polda Riau bekerja secara profesional dan transparan. Jangan sampai penanganan perkara ini terkesan berlarut-larut," tegasnya.

"Masyarakat menunggu kepastian hukum dan kami akan terus mengawal proses ini sampai pelaku ditetapkan sebagai tersangka serta mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum," sambungnya.

DPD IMM Riau juga menekankan bahwa gerakan mahasiswa akan terus mengawal perkembangan penyidikan.

Menurut mereka, penyelesaian perkara ini bukan hanya menyangkut keadilan bagi korban, tetapi juga menjadi ujian bagi komitmen penegakan hukum terhadap dugaan pelanggaran yang melibatkan oknum aparat.

"Target kami jelas, pelaku harus ditemukan dan diproses secara hukum. Apabila dalam waktu dekat tidak ada perkembangan signifikan, maka mahasiswa akan kembali melakukan konsolidasi untuk menyuarakan tuntutan keadilan melalui aksi yang lebih besar," tutupnya.